Dewa Terakhir

Dewa Terakhir
Bukit Tertinggi


__ADS_3


Raiman berlari seperti kesetanan sambil menarik tangan putri Kemala. Tarji sudah tampak kelelahan, begitu juga beberapa warga. Bahkan sebagian dari mereka ada yang berhenti berlari dan menyerah.


Ratusan, bahkan ribuan tubuh manusia bergelimpangan di dalam dan luar area sayembara. Kulit mereka putih pucat kebiruan. Ratusan Hobbit terbang berpegang tangan dan membentuk lingkaran di atas arena itu.


"Menyerah lah orang tua! Kalian sudah kami kepung!" ucap ketua Derg ketika sang Raja sudah tersudut di ujung lorong batu.


"Sekarang tunjukkan, di mana lokasi cawan Suci itu!"


"Saya tidak yakin, kau akan menghancurkannya," jawab sang Raja.


"Hahaha! yah, yah, cukup basa-basinya. Aku ingin meminumnya! Bayangkan, seseorang yang begitu sempurna yang tanah sekali pun takut untuk mencernanya berhasil meminum air keabadian itu, hahahaha! Aku! Aku lebih pantas menguasai dunia ini! Paham!"


"Itulah, kenapa saya tidak pernah memberitahu siapa pun lokasi cawan suci itu,"


"Tapi Gani? Gani saja kau biarkan meminumnya!"


"Gani??? Penghianat itu???" pikiran sang Raja pun terbuka.


"Jadi Gani yang menghasut kalian,"


"Tanpa dihasut Gani, hal ini pasti terjadi pak Tua!"


"Tidak akan saya biarkan, mahluk seperti kamu menemukan lokasi cawan suci itu." Setelah berucap demikian, sang Raja menarik diri dan mengumpulkan semua kekuatan tenaga dalamnya. Ketua Derg pun menerima tantangan itu. Ia pun menghimpun kekuatan dan sepersekian detik kemudian, keduanya melemparkan sinar dan kedua sinar itu bertubrukan. Seperti ledakan nuklir yang maha dahsyat, Tubuh ketua Derg sampai terlontar jauh ke ujung lorong batu itu dan hancur berkeping-keping menubruk dinding batu hitam yang tebal. Begitupula sang Raja, ia tidak menyangka, lawannya ternyata mempunyai ilmu Kanuragan yang mumpuni. Sang Raja pun terlontar sampai menjebol dinding batu yang langsung mengarah ke ruang rahasia di belakangnya. Sang Raja jatuh di lantai instalasi cawan suci yang ia rahasiakan itu. Memang niat awalnya ia akan menuju lokasi itu dan menghancurkan instalasi cawan suci itu. Ia sadar, ilmu pengetahuan yang terlalu canggih itu hanya akan jadi rebutan hasrat orang-orang yang gila kekuasaan dan kekuatan yang abadi.


Tapi ketua Derg keburu menyusulnya. sang Raja jatuh terkulai dengan kekuatan yang seperti habis terkuras. Bahkan untuk merangkak saja ia kesulitan apalagi menghancurkan instalasi cawan suci itu.


Sejenak ia beristirahat dan memusatkan kekuatan. Saat begitu, ia ingat putri semata wayangnya itu,


"Dimana dia sekarang?" tak pelak, rasa khawatirnya mengacaukan konsentrasinya. Tapi ia coba konsentrasi, lagi dan lagi. Ia mengukur kekuatan yang tersisa, dan ia juga paham resiko yang akan ditimbulkan bila ia menggunakan seluruh sisa kekuatan tenaga dalamnya. Sangat mungkin ia akan mati. Tapi ia pikir, kematiannya akan sepadan kalo ia berhasil menghancurkan dan mengubur instalasi cawan suci itu bersama dirinya. Keputusan pun segera ia ambil. Ia pusatkan kekuatan, sehimpun aura yang berwarna putih menyala, perlahan keluar dari seluruh pori pori kulit sang Raja, berputar dan berpusara di telapak tangan sang Raja yang perlahan terangkat dan dengan beberapa gerakan cepat dan menghentak. Aura dan seluruh kekuatannya berpendar. Tidak tanggung tanggung, istana yang ada di atasnya sampai amblas dibuatnya. Amblas ke dalam tanah puluhan meter jauhnya. Tanah sampai melunak seperti agar-agar dan istana dan semua lorong-lorong batu amblas. Tubuh ketua Derg yang baru utuh lagi pun turut terbawa amblas dan terkurung di dalam lorong batu yang tebal itu. Dari atas, istana itu dan bangunan bangunan di sekitarnya seperti bangunan yang terkena bencana earthguake atau seperti mainan kecil yang tertelan lumpur hisap. Tapi instalasi cawan suci itu terlalu kuat untuk di luluh lantakkan. Ia hanya turut amblas.


Perlahan sang Raja menghembuskan nafas terakhirnya.


Ketua Derg yang menyadari dirinya turut terkubur hidup-hidup hanya bisa berteriak penuh kebencian.


"Tidakkkkk!!!!" kekuatan tenaga dalamnya sepertinya habis terhisap ajian pamungkas sang Raja. Ia bisa merasakan itu.


Ratusan Hobbit yang melayang berpegang tangan dan membentuk lingkaran itu tiba-tiba menjelma menjadi anak-anak manusia biasa yang seketika sadar dan jatuh ke bumi.


Begitu bendungan bendungan besar itu berhasil dijebol para Raksasa, air bah otomatis bebas menerjang, dan menggerus apa saja yang dilaluinya. Manusia biasa, pasukan manusia setengah kera, klan Rawarontek yang sedang berperang semuanya turut tergerus dan tewas.

__ADS_1


Putri Kemala dan Raiman, Tarji dan beberapa prajurit hanya bisa menatap haru dari lereng bukit yang sedang mereka panjat. Mereka hanya bisa menyaksikan rumah-rumah hanyut, perahu-perahu besar pun hanyut dan terjungkal. Jelas tidak terhitung korban yang jatuh.


"Kita harus terus memanjat tuan Putri, ayo," ucap Raiman. sang Putri hanya bisa mengangguk dan kembali meraih akar, batu atau rotan dan apa saja yang ada dihadapannya. Bukit yang terjal dan rimbun, bukit yang menjadi harapan satu-satunya untuk menyelamatkan diri.


"Aku gak kuat lagi Man," ucap Tarji. Tubuh gempalnya sampai gemetaran merangkul sebongkah batu.


"Tenang Ji! Tenang, jangan terburu-buru, jangan melihat ke bawah," ucap Raiman pada pucat wajah Tarji. Tarji malah menengok ke bawah di mana air sedang menghantam lereng, menjatuhkan beberapa batu dan tanah yang labil.


"Aku takut Man,"


"Istirahat lah dulu, sebentar lagi kita sampai di tanah datar," ucap Raiman


penuh khawatiran. Batu yang di dekap Tarji bergerak. Rupanya batu itu tidak menancap jauh ke dalam tanah. Tarji pun melorot dan jatuh bersama batu itu.


Putri Kemala seketika turun hendak meraih Tarji. Tapi terlambat, Tarji jatuh menimpa seorang prajurit yang ada di bawahnya dan keduanya jatuh tak tergapai oleh sang Putri. Air bah yang bergejolak menyambutnya.


"Tarji!!!!" Teriak Raiman. Putri Kemala pun hanya bisa menatap haru dengan tangan hampa. Rakyatnya, prajuritnya, mereka jatuh di depan mata kepalanya sendiri. Jiwa sang Putri terguncang.


"Tuan Putri! Hati-hati!" mau tidak mau, kini perhatian Raiman terfokus pada sang Putri yang tampak menapas kecewa dan kini bergelantungan.


Dua orang prajurit yang tersisa pun merelakan temannya dan melanjutkan memanjat tebing.


Mereka merapalkan mantra secara bersamaan dan kompak sekali. Suaranya sampai menyerupai gemuruh dan menghasilkan gempa. Angin berhembus kencang, awan-awan hitam yang seperti air comberan yang pekat bergulung-gulung di langit.


Fardal, yang pertama menyadari keanehan langit itu.


Petir menyambar bersahutan seiring


hari mendadak suram.


Para Raksasa pun mulai kebingungan, (apa yang terjadi?)


Begitu pula Raiman, sang Putri dan dua tentara kerajaan yang tersisa. Mereka bingung, kenapa alam seolah kompak menggenapi kesuraman hari.


DUARRR!!!


Gunung terbesar itu pun mulai meledak dan memuntahkan lahar dan abu Vulkanik. Bangsa Raksasa yang pertama melihat jelas.


"Gunung itu? Itu gunung terbesar dan paling dekat. Tidak? Tidak mungkin?!" gumam raja Fardal.


Bumi bergoncang hebat, sampai-sampai beberapa raksasa gontai dan jatuh. Dua prajurit yang tersisa yang memanjang tebing bersama Raiman dan putri Kemala terpeleset jatuh karena goncangan gempa itu.

__ADS_1


Gunung itu meledak. Para Hobbit segera mengganti diri dan berubah menjadi bocah-bocah kecil. Bocah-bocah kecil yang tidak tahu apa-apa kini jatuh dan bersambut dengan batu, abu dan lahar panas.


WUSS!!


Para Hobbit muncul tiba-tiba dan mendarat di tanah lapang di puncak sebuah gunung yang jauh dari gunung yang mereka buat meletus itu.


"Huff! akhirnya selesai, kita berhasil? kita berhasil!! Hahaha!" ucap seorang Hobbit pada Hobbit yang lain. Mereka pun melepas lelah, menjatuhkan diri dan menapas puas. Ada juga yang berjingkrak-jingkrak kegirangan.


Kembali sang Putri menatap orang jatuh dan menyambut kematian. Dan kini perhatiannya tertuju ke arah langit yang bergejolak dan melontarkan batu-batu.


"Gunung meletus!" pekik Raiman.


"Ayo tuan Putri, ayo!" Raiman meraih putri Kemala yang terpaku dan terpana menyaksikan batu-batu besar yang seperti menyerbu langit itu.


Satu hal yang tidak diketahui bangsa Hobbit. Mereka sama sekali tidak tahu, kalo mereka telah meledakkan sebuah gunung berapi yang paling besar dan itu memicu gunung gunung berapi yang ada di seluruh benua Atlantis turut aktif dan meletus satu persatu. Mereka berdiri di atas ring of fire. Singkatnya, satu gunung berapi dan gunung berapi yang lain di bawahnya satu jalur magma yang timbul ke permukaan tanah karena rekahan lempeng bumi yang panjang dan jauh melintang (kalo sekarang, dari gunung Krakatau sampai pegunungan berapi di Jepang itu satu garis dan sekarang dinamakan ring of fire) semua gunung berapi dari ujung barat sampai ujung timur timbul di satu rekahan lempeng tektonik itu. Dan gunung yang mereka ledakkan adalah gunung terbesar yang berada di tengah garis rekahan itu. Jadi sekarang, semua gunung berapi bergetar. Termasuk gunung kecil yang mereka injak dan mereka jadikan pusat berkumpul itu.


"Apa ini? Kenapa gunung ini bergetar


hebat? jangan-jangan???"


BOMMM!!!


Gunung yang di jadikan pos berkumpul bangsa Hobbit itu pun meletus secara tiba-tiba. Mereka, bangsa Hobbit tidak sempat menggunakan sihir mereka dan menyelamatkan diri. Mereka seperti lebah-lebah yang terjebak karena sarangnya terbakar. Mereka jadi seperti laron-laron dalam penggorengan yang diaduk dengan kasar dengan lava yang serupa sambal yang menyala.


Beberapa batu gunung mulai jatuh di dekat Raiman dan putri Kemala yang terus beranjak dengan susah payah. Abu Vulkanik juga mulai turun.


"Ada sebuah goa di sana," ucap Raiman.


"Akhh!!!" punggung Raiman tertimpa batu sebesar helm. Punggung Raiman patah seketika.


"Astaga! bertahanlah!" pekik putri Kemala. Ia kalap dan tak sadar, kini ia menangis sejadi-jadinya. Satu-satunya teman dalam pelarian itu kini terluka parah.


"Sudah, sudah, lepaskan saya tuan Putri, goa itu ada tepat di depan kita. Itu, itu goa nya," ucap Raiman dengan lemah. matanya hampir tertutup dan napasnya sudah sangat dangkal. Putri Kemala melempar pedang dan bantalan pakainya.


"Tidak! Tidak!!!! kamu pasti kuat, apapun yang terjadi, kamu harus ikut bersembunyi di goa itu!" Kemala terus menyeret tubuh Raiman yang berlumuran darah itu.


WUSS!!!


BUKKK!!!


Batu-batu semakin banyak berjatuhan, menghantam tanah. Dari yang sebesar helm sampai sebesar truk. Hampir saja putri Kemala dan Raiman tertimpa batu sebesar gerobak. Jarak batu itu jatuh hanya beberapa senti dari samping kiri keduanya. Keduanya hanya terhempas dan terserak di tanah. Kemala langsung bangkit lagi dan kembali menyeret Raiman. Akhirnya putri Kemala berhasil membawa Raiman ke dalam goa itu. Tapi jelas, itu bukan jaminan mereka terhindar dari kejatuhan batu-batu itu. Putri Kemala membawa Raiman masuk jauh ke dalam goa itu yang ternyata dalam dan luas. Kemala pikir, paling tidak, kalau pun mati setidaknya ia tidak mati sendiri terkubur di dalam goa itu.

__ADS_1


__ADS_2