
Abe, Gugun dan puluhan tentara pilihan sudah om the air dengan baju jet yang tidak bising. masing-masing mereka terbang dengan pakaian dan sayap. Bisa saja mereka menggunakan helikopter untuk segera mencapai lokasi letnan Anwar. Tapi sesuai instruksi Komandan sergap, terbang senyap jauh lebih baik.
"Aku harus punya satu, biar gampang buat ngapel," ucap Gugun pada Abe melalui mini mikrophone.
"Hehehe! Bener banget Gun, apalagi buat patroli di pantai," jawab Abe.
"Huassshuu! pan**t mulu yang ada di otak kamu!"
"Hey! Aku tidak bilang begitu. Aku bilang patroli."
"Sudah sudah berisik! Kita sudah sampai."
Mereka pun sampai dan merapikan kostum jet itu lalu mulai bergerilya. Mereka berjalan memutar dengan maksud mengepung dan memaksa para penyandera untuk menyerah. mereka berlarian seperti beruang-beruang hitam diantara pepohonan.
"Kau tahu banyak pak Tua. Seumur-umur saya baru bicara dengan manusia macam kamu. Semua manusia yang saya kenal tidak tahu soal ini. Bahkan, mereka percaya saja tidak," ucap Kapten Oox.
"Sejujurnya Kami di pihak kalian kawan," jawab Gani.
"Apa maksudmu?" heran kapten Oox.
__ADS_1
"Manusia sudah sangat keterlaluan bukan? Tapi bangsa Hannom, kalian repot-repot menyelamatkan bumi. Kalian berusaha keras mengurangi emisi dan sebagainya. Sementara kami manusia, Masih saja belum sadar. Kami layak berterima kasih kepada kalian. Percayalah, tidak semua manusia merusak alam seperti yang kalian pikirkan."
"Kalian picik! Kalian naif. Bahkan kalian pantas kami musnahkan," gertak kapten Oox.
BRUGG!
Tiba-tiba Dul Karim jatuh dari langit tepat di pelataran keberadaan letnan Anwar cs dan puluhan tentara bangsa Hannom itu.
Dul Karim seperti pemain ludruk yang jatuh dari panggung dengan kostum Gatotkaca itu.
Sontak Dul Karim jadi pusat todongan senapan.
"Kalian sudah mengunci sasaran?" seru komandan penyergapan di balik semak-semak.
"Sudah komando," jawab Abe.
"Siap," jawab yang lain. Satu sasaran di bidik dua senapan. Dalam hati sang Komandan akan memberikan teguran keras kalau sampai sasaran tidak roboh semua. Pikirnya, keterlaluan sekali kalau sampai menembak sasaran dari jarak 40 meter saja ada yang meleset.
Ternyata kemunculan Dul Karim hanya mengalihkan perhatian. Meski tidak semua tertarik perhatiannya. Paling tidak, konsentrasi mereka jadi terbagi. Memang ada beberapa yang langsung berbalik dan memperhatikan sekeliling begitu Dul Karim muncul di tengah-tengah mereka. Itu juga membuktikan, mereka terlatih secara militer. Kalo cuma segerombolan bandit bersenjata, mungkin mereka tidak akan langsung berbalik dan memperhatikan sekeliling.
__ADS_1
TUSS!! TUSS!!
Puluhan peluru bius pun melesat secara bersamaan dari balik semak-semak dari segala penjuru.
"Eah!!" Kapten Oox mengaduh. Tepat di pungguknya sebuah peluru bius menancap dan satu peluru lagi menancap di punggungnya. Sedetik kemudian, Kapten Oox dan semua anggotanya jatuh tersungkur ke tanah dan tak sadarkan diri.
"Baguslah, kalian segera datang," ucap letnan Anwar sambil menghela napas.
"Padahal tangan saya sudah gatal Pak," ucap Dul Karim dan Gani menanggapinya.
"Simpan kesombonganmu anak muda, buat nanti berperang."
Puluhan pasukan sergap segera keluar dari semak-semak dan memborgol lawan yang sudah tak berdaya.
"Apa maksudmu pak Tua?" heran Dul Karim. Yang menjawab letnan Anwar,
"Kita dalam bahaya, orang Tua sok tahu itu benar."
***
__ADS_1
Puluhan pesawat jet yang pipih dan tampak canggih mulai terbang rendah saat memasuki hutan dari arah pantai selatan.