
Setelah menerima telegram dari letnan Anwar Gugun tampak frustasi. Dul Karim yang sedari tadi menunggu kabar menghampiri.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Dul Karim.
"Dari dulu mereka bangsat semua! Tidak ada bantuan gratis, semua hanya soal bisnis dan politik," jawab Gugun dengan geraham bergemerutuk. Kesal.
"Maksudnya?" Dul Karim tidak mengerti. Maklum, Dul Karim orang awam.
"Perlu Abang tahu, semenjak orang kulit putih menginjakkan kaki di tanah ini, sejak saat itulah sampai detik ini sebenarnya kita tidak berhenti mereka permainan, kebijakan moneter, nilai tukar mata uang asing. Bahkan kita yang dijajah, di kuras hasil buminya selama ratusan tahun, ketika kita mau merdeka, kita juga yang harus membayar kerugian perang, gila gak tuh. Cuma mau mendapatkan pengakuan Internasional kita yang sudah compang camping ini harus pula membayar dengan harga mahal. Tapi hasilnya apa? Pengakuan tinggal pengakuan, nyatanya kita hanya masuk lingkaran setan," celoteh Gugun. Dul Karim yang tidak mengerti hanya mengerutkan dahi. Pria sederhana dengan ilmu Kanuragan yang luar biasa itu hanya terbengong.
"Mereka mau membantu kita, dengan syarat nantinya mereka yang mengelola segala bentuk kebutuhan pasca perang. Sederhananya, Rumah Abang roboh, mereka mau bantu membangunnya kembali, asal, Abang beli materialnya sama mereka, tukangnya dari mereka. Bahkan Abang juga harus membayarnya dengan mata uang mereka yang nilainya tukarnya mereka yang tentukan," lanjut Gugun. Sampai di sini baru Dul Karim mengerti kemana arah pembicaraan Gugun dari tadi. Dul Karim yang sudah merasa bosan di persembunyian itu melengos pergi dari hadapan Gugun.
"Bang! Mau kemana? Kau tidak mau bicara sama pak Bos?" sahut Gugun pada Dul Karim yang mulai jauh. Dul Karim hanya angkat tangan sambil menggelengkan kepala dan terus berlalu.
Dul Karim yang awalnya berwajah bingung dan bosan, kini tampak awas dan menghindari perhatian dari siapapun. Sepertinya ia sudah tidak sabar dan punya rencana sendiri.
Dul Karim diam-diam memasuki tenda dan keluar sambil menggendong ransel. Setelah merasa aman tidak ada yang memperhatikan, ia meloncat pergi masuk kedalam hutan.
***
__ADS_1
"Carl, apa keluargamu sudah tiba?" tanya kopral Zoel pada temannya yang juga seorang tentara. Keduanya ikut dalam iring-iringan kendaraan darat.
"Sudah, aku bersyukur sekali akhirnya penaklukan ini dilakukan sekarang, hehehe..."
"Apa maksudmu?"
"Ya kita patut bersyukur, akhirnya kita sempat merasakan bagaimana rasanya jadi pemenang ya kan? Dan kita ikut andil dalam menuliskan sejarah bangsa kita,"
"Hahaha....! Ya kamu benar kawan, anakku sangat bangga padaku. Tidak ada kebanggaan yang lebih besar dari ini," ucap Zoel.
mobil komando yang melaju paling depan berhenti dan itu membuat belasan mobil lain juga berhenti. Suasana sepi di jalan menuju ke pedesaan itu tiba-tiba mencekam. Mereka yang mau menyusul pasukan infantri ke setiap kabupaten ada yang mencegat dan sontak semuanya menodongkan senjata. Kali ini yang menghadang mereka bukan warga atau ormas bersenjata yang biasa melakukan perlawanan dimana-mana. Kali ini yang menghadang mereka hanya satu orang berjubah besi warna kuning keemasan.
"Perhatikan sekeliling, kita bersiap!" titah komando. Langsung Carl dan semua tentara laksanakan. Bidikan senjata tertuju ke segala arah, Tapi perhatian Zoel tetap pada sesosok manusia berjubah keemasan itu.
"Orang gila macam apa ini. Dia kira dengan kostum Ironman kita bisa dia kalahkan," ucap Zoel. Carl jadi lucu sendiri. Hampir ia tertawa.
"Yah, manusia sudah mulai gila dan frustasi. Apa susahnya menyerah dan turut pada aturan kita.
"Komando pasukan yang merasa ini bukan ancaman serius mulai mendekati.
__ADS_1
"Hei, menyingkir lah! Kami mau lewat, kami tidak mau menyakitimu anak muda, Ayo!" suara sang Komandan agak keras sambil mengacungkan pistol. Pistol itu pun ia gerakan ke arah kanan supaya orang itu menyingkir dari tengah jalan.
Suasana hening sejenak. Dengan todongan pistol itu. Suasana jadi seperti di halaman pesakitan saat pelaksanaan eksekusi mati dengan cara di tembak dari jarak dekat.
Lagi-lagi Carl akan menyaksikan eksekusi mati. Manusia bodoh itu mungkin berpikir, peluru anti tank tidak akan mampu menembus jubah besinya itu.
Angin sepoi-sepoi dari luasnya pesawahan di kanan kiri jalan seperti iring-iring kereta kematian yang datang menjemput nyawa seorang manusia.
Dul Karim mulai melangkah dengan dada penuh amarah. Langkahnya semakin cepat dan sebelum pelatuk pistol itu di tarik Dul Karim sudah meloncat dan lolos dari peluru yang melesat. Peluru peluru lain mulai bersahutan dan beberapa peluru ada yang mengenai sasaran tapi tidak menimbulkan kerusakan. Dul Karim mendarat dengan satu pukulan keras di atas kepala mobil Barakuda lapis baja.
BUMM!!!!
kepalan tangan Dul Karim seperti mengandung bom dan membuat kepala mobil lapis baja itu hancur seperti tertimpa beton ratusan ton.
Semua pasukan manusia setengah kera itu kaget dan tidak ada yang menyangka hal itu akan terjadi. Dengan rasa takut mereka tetap melawan meski tahu peluru pun tak mampu melukai lawan. Carl ingat sesuatu dan segera mengambil sesuatu itu.
"Bazoka! tembak dia pake bazoka!" seseorang berteriak pada seseorang yang lain. Semua sibuk menembak dengan kalap dan hanya Carl yang ingat dan kembali dengan bazoka. tapi nahas, sebelum bazoka itu ditembakkan Dul Karim melemparkan sebilah baja dan tepat menghancurkan kepala Carl.
"Carl!!!" teriak Zoel yang berada tidak jauh dari Carl. Satu persatu tentara itu Dul Karim hajar, satu persatu tentara itu tewas dengan satu pukulan dan berhamburan ke segala arah.
__ADS_1
"Kami perlu bantuan! Kami perlu bantuan! Segera kirim jet berhulu ledak! Kami di serang oleh robot!"