
Nugroho yang sudah di bandara merasa tidak sabar untuk memberikan kabar mengejutkan itu. Padahal ia sudah mengirimkan berkasnya. Ia pun membuka handphone dan menghubungi letnan Anwar.
"Hallo Pak! Apa Bapak sudah membaca laporan yang saya kirimkan," ucap Nugroho dan sejenak ia mendengar jawaban lawan bicaranya.
"Kami di sini bisa pastikan, kalo pelaku penculikan itu bukan manusia biasa. Maksud saya, dia manusia setengah kera... Yah! saya tidak banyak cerita pada mereka... Yah, sekarang juga saya pulang Pak."
***
Pagi-pagi sekali letnan Anwar dan Taupan sudah duduk serius satu meja di belakang Villa. Fani datang dan menyerahkan setumpuk berkas pada Letnan Anwar.
"Ternyata Gani benar, manusia setengah kera masih ada dan sekarang terbukti sudah menculik profesor Himawan." ucap letnan Anwar di tengah perbincangan dengan Taupan.
"Dimana dia sekarang. Gani, saya tidak terlalu suka dengan orang tua itu," ucap Taupan.
"Yah, begitulah. Tapi masalah ini sangat menarik. Coba kamu bayangkan, apa maksud bangsa manusia setengah kera menculik profesor Himawan?"
__ADS_1
"Sebaiknya Bapak tanya profesor Erwandi. Bukankah dia sahabatnya."
"Pintar juga kamu. Ya sudah, sekarang juga saya akan bangunkan dia. Maaf sudah mengganggu," ucap letnan Anwar sambil berdiri hendak beranjak.
***
Sesuai petunjuk dari profesor Himawan. Satu tim manusia setengah kera datang ke Indonesia secara diam-diam melalui jalur udara langsung ke dalam hutan. Ternyata lokasi penemuan artefak itu masih satu kawasan hutan lindung dengan bukit Halimun itu.
***
"Aku menyetujui untuk menjual rumah ini. Nanti kita pindah ke rumah yang kecil dan tidak ada tengkorak-tengkorak seperti sekarang. Kami menyumbangkan semua fosil-fosil dan semua koleksi pada museum pemerintah," ucap Bondan ketika Kemala yang tampak bosan menghampiri.
"Tolong, ajari aku bahasa kalian," pinta Kemala.
"Astaga! Aku hampir lupa. Iya, itu pasti. Tapi dua hari ini aku mau serius mengerjakan ini dulu ya," ucap Bondan sambil menunjuk laptop yang dari tadi ia gunakan.
__ADS_1
"Ya sudah, kau mau kopi? Aku buatkan yah?" Kemala sudah seperti istri yang patuh dan telaten mengurus suami. Bondan jadi merasa lucu sendiri dan mengangguk kecil dengan senyuman tanda setuju.
***
"Semua informasi yang kalian butuhkan sudah kami berikan semua. Kami mohon, lepaskan kami," ucap profesor Himawan ketika sang Pemimpin bangsa Hannom itu melintasi tempat kerjanya.
"Tidak tidak profesor, kalian tetap bersama kami sampai lokasi cawan suci itu kita temukan dan kita kontruksi ulang. Selain ahli arkeologi, kau juga ahli kontruksi bangunan kuno. Bukan begitu profesor. Santai lah, nikmati sisa hidupmu," ucap sang Pemimpin sambil kembali berlalu dengan santainya.
"Sial! Sial!!!" umpat profesor Himawan geram dengan suara pelan sambil mengepalkan tangan. Wajahnya tampak lusuh dan frustasi.
"Tenang Tuan, saya ada ide untuk kita menghubungi orang luar," bisik salah satu staf pekerja paksa di samping profesor Himawan itu.
"Jangan jangan, saya masih ingin hidup, saya sudah kena SP dua," bisik profesor Himawan.
***
__ADS_1
Malam kembali terjadi, Kemala baru saja selesai mandi dan menyisir rambutnya. Tapi sesuatu menarik perhatiannya. Satu helai rambutnya putus nyangkut di sisir. Kemala heran setelah sekian lama hidup abadi, baru sekarang ia mendapati rambutnya rontok. Walau itu cuma sehelai, jelas ini menjadi tanda tanya besar baginya.