
Sore yang tenang, Didan merasa pusing dan lapar. Ia pun menutup laptop dan mencari Kemala. Ia mau mengajak Kemala mencari makanan. Tapi Kemala tidak ada di dalam kamarnya. Didan pun mencari Kemala dan menemukan Kemala sedang bersila di atas batu buatan taman belakang. Perlahan Didan menghampiri dan memperhatikan Kemala yang duduk bersila sambil memejamkan mata.
Lama Didan duduk di atas rumput memperhatikan Kemala. Didan pun iseng-iseng meniru posisi duduk bersila itu yang seperti yoga.
"Sejak kapan yoga atau meditasi dirumuskan," pikir Didan.
Tanpa membuka mata Kemala berucap perlahan dengan nada suara yang sangat lembut.
"Aku bisa melakukan meditasi selama yang aku mau. Waktu seakan berhenti, dunia seakan berhenti berputar. Sejak aku memulai hidup abadi, aku suka meditasi."
"Ajari aku meditasi," ucap Didan. Kemala membuka mata dan menunjukkan sesuatu yang ia pegang dari tadi. Sesuatu yang hampir tidak terlihat.
"Setelah sekian lama aku hidup abadi, baru kali ini aku mendapati rambutku terlepas dari kulit kepala." Didan hanya menyimak sambil menerima sehelai rambut panjang itu.
"Apa maksudmu?" tanya Didan tak mengerti. Tapi ia jadi berpikir, Jangan jangan putri kesepian abadi itu berhenti abadi dan menjadi manusia biasa yang bisa mati.
"Aku jadi berpikir, sebenarnya tidak ada mahluk di dunia yang bisa hidup abadi. Air keabadian dari cawan suci itu sepertinya hanya memperlambat penuaan. Dengan kata lain, penuaan yang sangat lambat itu nyaris membuat orang abadi."
Dalam hati, Didan jadi berpikir untuk meneliti sel darahnya dan mencari perbedaan susunan DNA mungkin. Didan jadi membayangkan sebuah mutasi.
__ADS_1
"Aku mau jujur satu hal, boleh?" ucap Didan kemudian.
"Apa itu," tantang Kemala dengan tatapan penuh tanya.
Tapi Didan tidak langsung mengutarakannya, ia seperti ketakutan dan malu untuk mengungkapkan apa yang hendak ia ucapkan.
"Andai kamu bisa membaca hatiku, aku tidak perlu kesulitan begini untuk menjelaskan ini," ucap Didan tertunduk dan berpaling. Dalam kedekatan dan ketenangan suasana Kemala coba mengira-ngira apa yang hendak Didan utarakan.
"Kita hanya berdua di rumah ini-"
Baru sampai di situ, Kemala bisa menebak kemana arah pembicaraan Didan. Seperti, kamu wanita dan aku pria. Kita sama-sama sudah dewasa.
"Jodoh memang harus begitu," pikir Didan sambil tersenyum lebar dan merasa menjadi pria yang sangat beruntung.
***
Besoknya Didan dan Kemala sudah tertunduk dihadapan ibunya Didan dengan pedang Kemala sebagai bukti atas penjelasan Didan tentang siapa sebenarnya Kemala itu.
Ibunya Didan berdiri seketika dengan gelisah dan sikap menepis penjelasan anaknya itu.
__ADS_1
"Astaga, apa yang sebenarnya ayahmu ajarkan Nak," ucap ibunya Didan dengan nada sedih di balik ketidakpercayaannya.
"Putri raja, hidup abadi, omong kosong macam apa ini Nak?"
"Sudah Didan katakan, kalo ibu tidak percaya, silahkan bawa pedang ini ke ahli forensik atau carbon dating untuk mengetahui usianya. Atau, atau kita bawa sampel darahnya ke lab dan-"
"Cukup! Cukup Didan. Ibu pusing! Ibu sayang sekali sama kamu Nak."
"Lalu kenapa Ibu menikah lagi! Kalo ibu sayang sama Didan kenapa ibu meninggalkan Didan sendirian di museum itu!!!" Tiba-tiba tanpa terduga, kata-kata itu terlontar dari mulut Didan. Mulut yang selama ini bungkam atas segala ketidakpuasan sikap dan perlakuan ibunya itu.
Sang Ibu terdiam. Sejuta kata-katanya seolah terbakar hancur lebur oleh amarah anak semata wayangnya yang tiba-tiba terlontar itu. Sang Ibu terpukul dan seperti tersadar dari mimpi.
"Ayo Kemala, percuma kita berlama-lama di sini," Kemala yang jadi tidak enak hati tidak tahu harus berbuat apa selain menurut pada Didan yang menarik tangannya.
Sedetik kemudian, Didan sudah melewati pintu keluar. Hati ibu rapuh dan sakit, air matanya perlahan menitik.
Tiba-tiba Kemala berbalik dan menghampiri ibunya Didan. Keduanya pun beradu pandang dengan kagok. Ternyata Kemala hanya mengambil pedangnya dan kembali berlalu.
Suasana hening pun menyelimuti sang Ibu.
__ADS_1
"Maafkan ibu Nak," gumamnya di antara isak tangis setelah tak terdengar lagi derap langkah anaknya dan perempuan aneh itu.