
Diu kecil menatap seorang manusia tua datang ke dalam goa. Diu kenal orang itu, dia adalah Kurdi.
"Diu pintar, selamat siang. Mana kakekmu?"
"Ada, di dalam, mungkin sedang tidur, bangunkan saja," jawab Diu.
Diu tahu, kalo aki Kurdi datang, pasti ada sepasang Kurcaci/Hobbit seperti dirinya dibawa pulang oleh manusia yang datang esok hari. Sebagai info, generasi terakhir kurcaci-kurcaci itu tinggal di hutan-hutan, di bukit-bukit, di goa-goa yang dekat dengan perkampungan manusia. Berhubung kurcaci generasi terakhir ini tidak mempunyai raga, jadi mereka menyambung hidup hanya dengan memakan intisari makanan yang belum di makan manusia (itulah sebab, kadang kita makan makanan yang terasa hambar. Padahal biasanya enak dengan bumbu yang sama. Kalo begitu, berarti kita makan makanan bekas kurcaci/Hobbit atau mahluk alam demit lainnya) atau intisari buah-buahan yang ada di hutan.
Sejak Kakek Empoh kedatangan manusia sakti bernama aki Kurdi itu, kurcaci-kurcaci (dewasa ini kita sebut tuyul) mendapat 'pekerjaan' dan imbalannya makanan, minuman dan tempat tinggal yang layak.
***
"Orangnya sudah aku telepon lagi. Saat kita turun dari angkot ini, orangnya sudah siap di tepi jalan menjemput kita," bilang Yanto sambil menutup handphonenya.
Pagi yang cerah, secerah harapan Rustam. Setelah turun dari bis, Rustam dan Yanto lanjut naik angkot.
__ADS_1
***
Benar saja, keesokan harinya aki Kurdi datang bersama dua orang manusia. Dua orang manusia itu adalah Rustam dan Yanto.
Diu kecil yang polos dan suka menguping hanya terdiam menyaksikan sepasang tuyul dewasa di giring keluar goa oleh ibu-bapaknya dan saudara-saudaranya.
Sejenak suasana menjadi haru. Seperti upacara perpisahan yang biasa terjadi. Pelukan selamat tinggal dan ucapan doa dan atau mantra keselamatan di dengungkan.
Diu kecil jadi membayangkan kehidupan di kota bersama manusia. Manusia punya rumah yang bagus-bagus, kendaraan yang bagus-bagus, pakaian yang bagus-bagus dan tentu makanan yang enak-enak. Diu tahu itu, Diu kecil sudah sering di ajak oleh saudara-saudaranya yang sudah dewasa saat mencuri makanan di dapur manusia. Diu belum diizinkan mencuri. Jadi Diu kecil hanya menunggu di luar atau melihat dari jendela kehidupan manusia itu. Diu merasa ada yang salah dengan kebiasaan bangsanya itu. Diu tahu itu, karena ia suka duduk di jendela sekolah dasar dan mendengar kegiatan di sekolah dasar itu. Kadang juga, tanpa ragu Diu duduk diantara manusia dan menonton televisi.
Diu kecil yang lancang dan haus penjelasan pernah membahas itu dengan kakek Empoh.
"Kita hidup di alam yang berbeda, kita tidak merugikan mereka, makanan mereka utuh, intisarinya bagian kita, wujudnya bagian mereka," kilah Kakek Empoh tempo hari.
Tetap saja Diu kecil merasa ada yang salah.
__ADS_1
Diu adalah pengecualian, seperti Kakek Empoh bilang. Diu kecil begitu banyak bertanya dan pintar. Apalagi setelah orangtuanya hilang, Kakek Empoh sangat menyayangi Diu kecil yang malang.
"Hei, Diu! Ayo makan!" ucap Vinvin kecil dari bawah jendela kelas dua SD dimana Diu termangu dari tadi.
"Aku belum lapar," jawab Diu tanpa menoleh. Diu sudah hafal suara melengking tanpa bass itu pasti suara Vinvin. Vinvin lincah dan selalu mengikuti kemana dirinya pergi. Walau kadang Risih, tapi Diu bersyukur punya teman seorang Vinvin. Kesepian hatinya terobati.
Sejak kepergian orangtuanya, hanya kakek Empoh dan Vinvin yang mampu bersenda gurau dengan Diu yang penyendiri.
"Ya sudah, padahal enak sekali makanan ini. Kau bisa mencium baunya kan?" ucap Vinvin. Tapi Diu tetap tak bergeming. Tatapannya kosong, hatinya rawan.
Ramai anak-anak manusia yang tidak bisa melihatnya sungguh membuat Diu iri. Diu ingin duduk di bangku itu dan ikut belajar menulis dan membaca.
__ADS_1