Dewa Terakhir

Dewa Terakhir
Kabar & Bahaya


__ADS_3

Malam telah larut dan keram. Dalam aula yang luas di antara pajangan fosil-fosil dan artefak-artefak. Di atas lantai parket kayu jati, Didan dan Kemala bertelanjang kaki. Kemala sedang mengajari Didan memainkan pedang.


Didan pikir, gerakan Kemala lebih mirip tarian daripada jurus-jurus silat. Gerakan Kemala begitu elegan. Mungkin juga untuk mengelabui lawan, perempuan mengembangkan gerakan beladiri tersendiri? Entahlah.


"Kamu kaku sekali, apakah semua pemuda di jaman sekarang tidak belajar beladiri?" ucap Kemala merasa lucu melihat Didan yang kagok. Padahal Kemala sudah memperlambat gerakannya.


"Inti dari jurus-jurus ini adalah, bebaskan gerakan pedangmu tapi tangan kiri kamu harus pada posisi melindungi tubuh atau siap menangkis."


Kemala menggunakan pedang asli, Didan menggunakan gagang sapu.


"Susah juga yah," keluh Didan. Kemala hanya tersenyum dan melanjutkan tariannya.


Yah, bagi Didan Kemala sedang menari. Kini Didan bersimpuh dan memilih untuk menikmati gerakan gemulai yang kemala peragakan daripada pusing pusing mengikuti gerakannya.


Kemala belum sadar, murid songongnya itu kini malah menonton.


"Angkat, Putar, lalu-" Kemala berhenti ketika berbalik dan mendapati Didan sedang cengar-cengir.


"Kamu ini, udah ah."


"Sekarang giliranku, aku ajari kamu berdansa. Sebentar," semangat Didan. Ia bangkit dan menyalakan musik dansa.


Kemala merapikan pedang dan berdiri tak mengerti.


"Sini, pegang tanganku," ucap Didan sambil mendekat dan membuka satu telapak tangan. Kemala hanya menurut saja. Perlahan Didan juga melingkarkan satu tangannya ke pinggang Kemala. Lagi-lagi Kemala diam.

__ADS_1


"Sekarang ikuti iramanya," instruksi Didan. "kita mulai ke kanan, satu langkah kecil, terus ke kiri, ayunkan langkah, kanan, ya. Depan. Oke. Belakang," sambil memeragakan Didan terus mengintruksikan gerakan. Meski awalnya kagok, tapi Kemala cepat bisa dan menikmati.


Asik juga Kemala rasa.


Keduanya seperti berayun di udara, dengan irama syahdu lagu dansa yang mendayu.


"Kamu cantik sekali," ucap Didan sangat pelan. Kemala menanggapi dengan memeluk Didan.


"Aku bahagia sekali," bisik Kemala lembut ke kuping Didan.


"Terima kasih Kemala, aku juga sangat bahagia," jawab Didan juga dengan suara pelan. sangat pelan dan mendasar.


Tanpa Didan sadari, Kemala membuat keduanya melayang di udara.


***


Tuan muda Hon memegang kendali. tim penggalian dan para tentara kini bekerja dengan pengawasan senapan bangsa Hannom.


Bantuan tidak jadi datang, dengan desakan Hon, letnan Anwar mengintruksikan bantuan untuk kembali dengan alasan kesalahan teknis dan radar bermasalah.


***


Kemala sudah tertidur ketika bunyi pesan masuk mengalihkan perhatian Didan.


Didan yang yang hampir tertidur akhirnya bangkit dan membuka laptop.

__ADS_1


Cuma pesan dari perusahaan iklan. Tapi tunggu, ada yang aneh Didan rasa.


Email itu hanya berisi untaian tanda baca. Didan mengerutkan dahi. Untaian tanda baca yang banyak itu seperti membentuk sebuah pola. Pola hieroglif.


Didan jadi curiga itu pesan dari ayahnya. Didan jadi bersemangat dan mulai mengartikannya.


Artinya adalah,


Nak, Ayah baik-baik saja. Jangan khawatirkan keadaan Ayah. Tapi satu hal yang perlu kamu ketahui.


Eksistensi bangsa manusia terancam. Dulu ayah pernah berasumsi bahwa ada spesies yang berbeda dengan manusia. Mahluk cerdas dan berperadaban selain manusia. Dalam hal ini manusia setengah kera.


Sekarang terbukti dan mereka sudah sangat maju dan bersiap merebut dunia ini dari dominasi manusia.


Mereka sudah tahu lokasi cawan suci dan sudah berangkat ke sana.


Segera hubungi Professor Erwandi, hubungi siapa saja yang sekiranya bisa percaya dan menangkap mereka. Minta bantuan Professor Erwandi untuk menyakinkan pemerintah.


Jangan khawatirkan Ayah, jangan coba hubungi Ayah


Tunggu kabar berikutnya.


sekali lagi, jangan coba-coba menghubungi Ayah.


"Syukur lah, akhirnya Ayah memberi kabar. Tapi, sepertinya Ayah dalam bahaya,"

__ADS_1


__ADS_2