
"Saya pernah mendengar ayah bercerita tentang kawah candradimuka. Suatu tempat dengan gelora magma yang tidak pernah padam sejak bumi ini tercipta. Di sanalah, para dewa memusnahkan ilmu ilmu hitam dan pusaka pusaka yang sangat berbahaya," ucap Kemala ditengah kebersamaan dengan orang orang baru di hadapan api unggun itu.
"Apakah mungkin mereka akan melemparkan Dul Karim ke kawah itu?" ucap letnan Anwar.
"Jika benar ia memiliki ajian Brajamusti dan sudah menyerap kekuatan yang ditinggalkan kerajaan langit. Maka ia tidak akan bisa dilukai dan satu satunya cara untuk membunuhnya adalah dengan melemparnya ke dalam kawah candradimuka," lanjut Kemala. "Tapi, apakah mereka tahu tentang mitos kawah candradimuka itu?"
"Gani, Gani pasti tahu?" jawab letnan Anwar.
"Siapa? Gani???" Kemala tertarik.
"Yah, dia mengaku hidup di jaman Atlantis dan dia juga yang mengetahui kalau tuan putri masih hidup."
"Astaga!!! Jadi dia pelakunya???" kaget Kemala. Pikirannya seolah menemukan sesuatu.
"Apa maksud tuan Putri?"
"Dulu, peradaban kami hancur lebur karena serangan semua bangsa selain bangsa manusia. Bisa jadi itu ulah Gani yang berhasil menghasut mereka. Gani adalah Telik sandi kerajaan kami yang minggat dan berkhianat. Jadi? Jadi dia meminum air keabadian itu!"
"Ya. Sekarang, apa yang mungkin mereka rencanakan?"
Kemala berdiri dan wajahnya tampak begitu gelisah.
"Dia sedang mengumpulkan kekuatan untuk mengulanginya. Penghianat itu memiliki ajian Saipi angin. Dia bisa mengilingi dunia, dia bisa mengumpulkan para musuh. Apa bangsa Raksasa masih ada di jaman sekarang?" tanya Kemala pada letnan Anwar.
__ADS_1
"Kami bisa pastikan, bangsa Raksasa sudah punah," jawab letnan Anwar.
"Lalu bangsa Hobbit?" lanjut Kemala.
"Mereka juga sudah punah."
"Jadi lawan kita hanya Gani dan bangsa Hannom?"
"Yah tuan Putri. Kami mohon, bergabunglah dengan kami. Saudara juga. Kami sangat membutuhkan saudara untuk bergabung dengan kami. Atas nama negara, saya mohon," ucap letnan Anwar pada Kemala lalu pada Bondan.
Bondan mengangguk dan Kemala menghela napas panjang dan ditengah kesunyian malam ia kembali berucap.
"Kenapa kita tidak bisa hidup berdampingan. Kenapa dari dulu selalu perang dan pembantaian yang jadi jawaban," Kemala menelan ludah getir.
"Saya ingin menjadi manusia biasa, saya tidak ingin hidup abadi, saya ingin mati!" nada ucap Kemala menjadi emosional. Bondan pun perlahan bangkit dan menenangkan Kemala yang mulai bergetar.
Malam semakin keram, langit makin hitam dan api unggun perlahan padam.
***
Gani membawa tuan muda Hon dan beberapa pengawal pilihan ke dalam sebuah goa. Goa yang besar dan dalam di tengah hutan di satu pulau terpencil.
Hon begitu terperangah saat turun dari pesawat. Ternyata halaman goa itu begitu datar dan seperti landasan helikopter.
__ADS_1
"Saya tidak tahu pasti berapa jumlahnya, hahaha! Kau saja yang hitung," ucap Gani dengan seringai jelek yang sombong.
Mereka turun dan naik perahu yang ada di dalam goa itu. Ternyata dasar di dalam goa itu adalah air yang sangat tenang dan bening sekali.
"Hari demi hari, saya mengumpulkannya. Dulu saya merampok, tapi belakangan saya mendapatkannya dengan mudah dan menyenangkan. Hahaha, manusia-manusia serakah suka berjudi." Tuan muda Hon tidak mengomentari ocehan Gani. Ia menikmati perjalanan.
Goa yang besar dan dalam. Air yang tenang, stalaktit yang unik dan segalanya. Sungguh membuat Hon kagum. Tempat yang sempurna untuk menumpuk harta Karun.
Tidak lama kemudian mereka sampai pada sebuah daratan yang luas dan terjal di ujung goa itu. Mereka pun sampai dan segera turun dari perahu dan naik ke batu-batu terjal dan tidak jauh dari mereka berdiri sekarang, tumpukan emas dan permata-permata yang berharga bertumpuk bebas seperti sampah yang tidak berguna. Hon dan belasan bodyguardnya sampai menengadahkan kepala. Karena saking tingginya tumpukan emas dan permata itu.
Mata Hon dan belasan bodyguardnya terbuka lebar dan bercahaya. Itu tumpukan emas dan permata yang bertumpu bebas seperti gunung sampah yang terabaikan.
Lutut Hon sampai terasa lemas dan dadanya berdetak kencang. Terbayang sudah, apa yang bisa ia lakukan dengan tumpukan harta sebanyak itu.
"Kau gila pak Tua," gumam Hon. Gani pun tertawa persis seperti orang gila.
"Hahahaha....! Hahahaha!!!" tawa Gani menggelepar, memantul-mantul dan mendengung sampai ke mulut goa.
"Apa, apa yang tidak bisa kita beli dengan harta sebanyak ini," ucap Hon gelagapan.
"Kita beli senjata dan kendaraan perang yang paling canggih, kita beli manusia manusia untuk berkhianat dan menjatuhkan para memimpinnya sendiri, kita, kita bisa menguasai dunia ini!!!" ucap Hon dengan keyakinan penuh.
"Hal pertama yang harus kita lakukan adalah, melarung manusia berjubah besi itu ke dalam kawah candradimuka," ucap Gani dengan wajah serius.
__ADS_1