Dewa Terakhir

Dewa Terakhir
Awal Mula 3 & 4


__ADS_3

Langit hitam seperti adonan sang Penyihir. Ramuan suram putus asa.


Orang-orang berjalan berbaris, terhuyung-huyung seperti semut-semut hitam. Semua berwajah muram. Ini Eksodus besar-besaran warga negara kepulauan terbesar di dunia. Pemerintahan jatuh ke tangan bangsa manusia setengah kera. Mereka yang khawatir dan takut dijadikan budak memilih untuk pergi meninggalkan tanah kelahiran.


Australia dan negara-negara terdekat membuka diri atas nama kemanusiaan, Kemanusiaan yang sesungguhnya kini dipertanyakan.


Di antara orang-orang berwajah lusuh dan riangnya anak-anak yang berlarian. Mungkin mengira orangtua mereka mengajaknya piknik. Diantara anak-anak kecil yang tidak tahu apa-apa, Diu menatap langit dengan matanya yang hitam. Hitam sempurna, bening dengan percikan galaxy di dalamnya.


Diu dan Vinvin ikut keluarga Roni mengungsi ke luar negeri. Ransel usang dari saripati serat rami ia pikul dengan pasti. Sekarang ia adalah seorang ksatria yang mempunyai misi mencari kitab utama dari bangsanya sendiri. Sesekali Diu melihat wajah-wajah dan sosok manusia di sampingnya. Kembali ia menemukan persamaan dan jelasnya perbedaan.


"Kakek, kenapa bangsa kita bertubuh kerdil dan ceking," tanya Diu tempo hari pada kakek Empoh.


"Hehehe!" Kakek Empoh terkekeh sambil geleng-geleng kepala.


"Baiklah, baiklah. Kakek Akan coba menjawabnya.


Guntur menggelepar, angin dingin menggoyahkan tubuh-tubuh lemah dan lusuh.


"Dahulu kala, di altar yang paling suci ketika sang Pencipta menciptakan segala sesuatunya berpasangan. Penciptaan siang dan malam, penciptaan sementara dan abadi, penciptaan air dan api dan segalanya. Ada salah satu malaikat merasa ada yang kurang. Maka ia mengusulkan penciptaan mahluk kerdil dan mahluk raksasa.


"Oh, jadi kita dan bangsa raksasa adalah saudara?"


"Hehehe saudara kembar lebih tepatnya," jawab kakek Empoh sambil kembali terkekeh-kekeh.


"Apakah di luar sana masih ada bangsa raksasa yang tersisa," pikir Diu.


Angin semakin kencang dan bau asin air laut mulai tercium. Perahu-perahu besar mulai terlihat. Ada yang mendekat dan ada juga yang menjauh di hamparan laut yang luas. Perahu-perahu itu banyak sekali. Tidak jauh di atasnya banyak heli-heli yang seperti kumbang-kumbang hitam beterbangan. Bahkan ada yang membawa beban.


Tatapan Diu jauh menerawang menembus awang-awang, harapan dan mimpi-mimpinya jelas melampaui apa yang bisa ia lakukan.

__ADS_1


***


Didan akhirnya sampai perkampungan dan melepas lelah. Ia menjatuhkan diri di pekarangan yang teduh. Kampung lereng yang sepi. Satu dua merpati terbang rendah dan mendekati. Katak burik meloncat dari selokan ke atas batu di pinggir jalan.


***


Letjen Anwar kembali di panggil oleh komunitas internasional untuk menjelaskan situasi terkini. Ini kali ketiga ia memenuhi panggilan. Ujung-ujungnya pasti ia di minta untuk mendongeng. Ya, mendongeng. Selama ini manusia merasa menjadi mahluk pintar satu-satunya di muka bumi ini. Sehingga kisah eksistensi bangsa Raksasa, kurcaci dan lainnya hanya dianggap dongeng. Cerita rakyat turun temurun tanpa bukti otentik. Lalu tiba-tiba sekarang manusia dihadapkan pada kenyataan adanya komunitas besar, atau kesatuan yang terkoordinasi dengan baik dari bangsa atau jenis mahluk pintar lain. Kembali sang Letnan memasuki ruang sidang dan siap membangunkan manusia manusia sombong dari mimpi mimpi indah.


***


Dul Karim membukakan pintu mini Van yang membawanya dan keluarganya. Alangkah kagetnya Ratih ketika melihat dermaga yang ramai.


Dua orang tentara menyambut mereka. Tapi Dul Karim meminta waktu dan menggiring Ratih ke tempat tersendiri.


"Ratih, maaf Abang, Abang sebenarnya tidak bekerja jadi satpam," baru sampai di situ, hati dan pikiran Ratih seperti terjaga dari mimpi. Bagaimana tidak, seorang suami telah membohonginya selama ini. Lalu apa, pekerjaan apa yang sebenarnya dikerjakan oleh suaminya itu. Ratih menatap tak mengerti keluarganya di layani dengan baik oleh para tentara layaknya keluarga terhormat atau orang kaya yang penting.


Ratih seolah tahu, kalo suaminya itu hendak ijin tidak ikut pergi menyeberangi lautan.


Pekerjaan apa? Kepentingan seperti apa yang membuatnya berani membiarkan anak istri dan ibunya sendiri menyebrangi lautan. Dengan berat hati, dengan setitik tangis Dul Karim pun berkata.


"Kalian akan di antara dan di sana juga kalian akan di jaga oleh puluhan tentara. Abang pasti nyusul," ucap Dul Karim dengan berat.


Ada tatapan tak percaya, ada tatapan bangga ada tatapan kecewa. Dan dengan semua itu Ratih meninggalkan Dul Karim yang terpaku seperti batu.


Angin semakin kencang, hujan badai siap di tantang.


Taupan dan Fani turun dari pesawat. Rambut Taupan yang panjang lurus berkibar. Angin kencang. Angin basah yang jadi pertanda segera turun hujan lebat. Taupan menapas dalam aroma tanah kelahiran ada keharuan dan kebanggaan. Perlahan Taupan menuruni tangga di ikuti Fani, lalu Dias dan pengikut setianya.


***

__ADS_1


Pikiran Dul Karim berkecamuk,


Bagaimana bila Ratih dan anak semata wayangnya Dul Karim tenggelam ke dasar lautan? Pasti ia akan menyesal seumur hidup?


***


Mungkinkah Diu menemukan kitab penting peninggalan leluhurnya itu dan mengembalikan kejayaan bangsanya?


***


Mampukah letnan Anwar menyakinkan komunitas internasional dan menghimpun kekuatan lalu merebut kembali pemerintahan?


***


Apakah Dul Karim bisa mengalahkan Taupan?


***


Mampukah tuan muda Hon membangun kerajaan baru yang tak terkalahkan?


***


Mampukah Didan menjadi manusia abadi yang kuat dan tak terkalahkan?


Didan adalah manusia terakhir yang berhasil menjadi manusia abadi.


Manusia Abadi di masa lalu di anggap dewa, jadi didan lah sang Dewa terakhir.


Tapi bagaimana proses dan perjalanannya untuk sampai dan pantas untuk di sebut DEWA TERAKHIR???

__ADS_1


__ADS_2