Dewa Terakhir

Dewa Terakhir
Sebuah akhir yang akan menjadi awal bagi yang lain


__ADS_3

Langit sore begitu nanar, seperti kesedihan di hati semua warga yang menyaksikan. Sang Jagoan tertangkap dan entah di bawa ke mana.


Secepat kilat kabar itu segera sampai ke pusat komando ditambah lagi laporan kalau pasukan serang dan ribuan relawan yang menyerbu ke pusat pertahanan lawan juga berhasil dihalau dan korban banyak berjatuhan. Dunia hanya menyaksikan dan mungkin siap ambil kesempatan. Bukan, bukan menolong. Negara mana yang mau menolong tanpa pamrih.


Kota yang sudah hancur semakin hancur, Tentara dan para pejuang yang tersisa melarikan diri dengan putus asa. Mereka salah mengira lawan. Ternyata musuh yang baru datang lebih banyak dari yang diperkirakan dan persenjataan yang musuh miliki lebih banyak dan lebih canggih dari pengamatan.


Dunia seakan berhenti berputar bagi seorang letnan jenderal Anwar yang baru menerima semua kabar duka itu.


Tidak banyak yang bisa dilakukan oleh sang Letnan. Ia hanya memastikan keamanan para tentara dan relawan yang tersisa dan memperketat penjagaan di sekitar kawah Candradimuka meski ia sendiri yakin. Dul Karim tidak akan segera dibawa lagi ke situ.


"Siapa lagi yang bisa diandalkan?" Pertanyaan besar yang kini hinggap di pikiran sang Letnan.


***


Diu dan Roni sudah ada di penampungan di benua Kangguru. Keduanya sedang duduk santai di atas batu diantara pengungsi lain yang masih sibuk mendirikan tenda. Keduanya tampak aneh saat melihat dan dekat orang kulit putih. Kulitnya aneh, warna kornea matanya aneh dan warna rambutnya aneh, seperti bulu jagung.


Sebagaimana anak-anak dengan imajinasinya, mereka berharap bisa berburu Kangguru di Padang rumput yang luar suatu saat nanti dan kalau dapat anak Kangguru yang imut itu. mereka akan memelihara sebagaimana orang lain memelihara kucing atau kelinci. Tapi dibalik itu semua, Diu akan mencoba dan terus mencoba membaca peta wasiat itu dan berharap menemukan kitab itu.


***

__ADS_1


Ratih masih belum percaya, kini ia dan keluarga kecilnya tinggal di sebuah rumah yang besar dan jauh dari keramaian. sepertinya ini kawasan wisata. Ia sedang selonjoran di teras rumah. Ia selesai mengepel lantai. Meski pihak kawasan melarangnya dan mempekerjakan beberapa orang pembantu, Ratih tetap bersikukuh. Ia tidak enak hati pada para tentara yang telah sangat baik padanya. Menempati rumah sebesar itu tanpa syarat apalagi kredit. Sungguh suatu keberuntungan yang sangat aneh. Ratih tetap melakukan pekerjaan rumah sendiri. Tidak mungkin ia leha-leha sepanjang hari dan menikmati beban rindu pada sang Suami yang kini entah sedang bekerja apa di seberang sana.


Siang semakin terang ketika setitik keringat di leher sudah kering dan Ratih hendak masuk ke dalam rumah. Datang sebuah mobil dinas dan pengendaranya turun. Seorang pejabat kepolisian. Terlihat dari pangkat dan usianya yang sudah setengah baya. Seorang polisi mengkais bendera yang terlipat rapi bertumpuk dengan seragam yang juga terlipat rapi dan seorang polisi muda yang lain membawa sebuah nampan berisi lencana dan beberapa butir pangkat dan tanda jasa yang tertata rapi di atas map. Seperti dua orang paskibraka yang berjalan menuju tiang.


Ratih hanya terbengong-bengong.


"Selamat siang ibu Ratih, bisa mendekat ke sini sebentar," ucap sang Pejabat kepolisian itu. Ratih hanya mengangguk dan menatap aneh ke tiga tamu tak di undang itu.


Selangkah lagi Ratis sampai, tiba-tiba dua orang tentara muda di samping perwira tinggi itu melakukan sikap hormat rendah. Seperti seorang abdi dalem Keraton yang hendak menyerahkan tahta.


"Ibu Ratih, sesuai prosedur dan kesepakatan kami dengan suami ibu. Kami baru bisa memberitahu ibu, kalau suami ibu adalah seorang polisi khusus yang sudah banyak berjasa pada negara."


"Sampai di situ, tatapan Ratih terbuka, mampir melotot dengan tatapan yang sangat tak mengerti.


"A, aa, apa saya tidak salah dengar?" Ada haru bercampur bangga di dada Ratih yang rawan tiba-tiba. Keharuan yang segera membuncah di matanya yang rembang tiba-tiba.


"Yah, itu kabar baiknya. Dan kabar buruknya adalah, Dia Tertangkap oleh musuh,"


Ratih pun berurai air mata, kejutan demi kejutan akhirnya menemui jawaban.

__ADS_1


Perlahan seragam dan bendera itu berpindah tangan. Sebuah peragaan sederhana yang membekaskan luka dan rasa yang masih tak percaya. Terakhir ketiga abdi negara itu melakukan hormat pada Ratih. Ratih yang sudah tak sanggup berdiri. Ratih bersimpuh dan menangis sambil memeluk erat seragam dan bendera itu.


"Ini permintaan suami ibu sebelumnya. Ia meminta kami untuk memberitahu ibu soal ini bilamana ia tertangkap oleh musuh. Jangan khawatir, kami bisa pastikan suami ibu masih hidup dan tidak kurang suatu apapun.


Ratih hanya bisa menangis. Entah itu tangisan bangga akan status suaminya atau tangis kehilangan karena sekarang suaminya jadi tawanan musuh.


*Akan kah Dul Karim bisa kembali, Pesan terakhir Dul Karim mengisyaratkan kalo dia tertangkap untuk kedua kalinya, ia pesimis untuk bisa kembali.


Bagaimana mungkin Diu berhasil menemukan kitab kuno itu? Petanya saja tidak ia pahami?? Tapi hidup penuh keajaiban dan Bangsa Kurcaci telah ditakdirkan menjadi pemuja dan penguasa keajaiban yang pernah ada di bumi...


Bagaimana dengan Taupan? Apakah ia akan kembali dan membelot dari sekutunya saat ini?


Lalu Bondan? si pecundang yang menjadi manusia abadi. Bisa kan dia diandalkan di masa depan untuk merebut kembali kekuasaan negaranya dari tangan Bangsa manusia setengah kera*??


***


Story ini masih panjang dan saya masih bersemangat untuk melanjutkannya.


Tapi untuk sekuel berikutnya akan saya buat berbeda judul berdasarkan tokoh tokoh utamanya.

__ADS_1


- Satu judul akan saya siapkan untuk petualangan Diu. Jadi lebih fokus dan tidak terlalu bercampur aduk seperti ini 🤭😅🙏


- Satu judul lagi untuk perjuangan Bondan sampai ia pantas menyandang gelar DEWA TERAKHIR


__ADS_2