
"Sekarang aku ingat. Yah, aku ingat kau adalah (?)"
***
"Tuan Putri, kenapa tuan Putri menangis," ucap Raiman pelan, pelan sekali. Putri Kemala yang memegangi bahu Raiman dengan erat hanya bisa sesegukan.
Napas Raiman sudah begitu dangkal, tapi ia masih saja mau mengoceh.
"Satu cita-cita saya, saya mau mengajak seorang perempuan yang mau jadi istri saya untuk mendaki ke puncak bukit ini. Lihatlah, goa ini begitu luas dan nyaman," ucap Raiman dilanjutkan dengan batuk darah.
"Raiman? Raiman!!! Buka matamu Raiman! Kamu jangan mati!!!" pekik putri Kemala sambil mengguncangkan tubuh lemas Raiman.
"Tapi sepertinya, cita-cita itu tidak akan pernah terlaksana. Karena sebentar lagi, aku, aku akan mati," ucap Raiman. Matanya kembali sayu.
"Tidak Raiman! Kamu berhasil, kamu berhasil membawa seorang perempuan ke dalam goa ini!!!"
"Tidak, kau tuan Putri. Kau bukan perempuan biasa," oceh Raiman dengan senyuman.
"Hik, memang kenapa kalau aku putri Raja??? Aku juga perempuan! Kau pria yang pintar, kau pria terbaik yang pernah aku kenal! Aku mohon bertahanlah!!! Hik! Hik!"
Putri Kemala memeluk Raiman. Di penghujung hidupnya, Raiman Merasa sangat bersyukur.
"Saat aku putuskan kabur dari istana, saat itu pula aku berniat mencari kamu. Kamu adalah tujuanku Raiman. Hik! Aku tidak punya tujuan selain kamu. Aku hendak datang ke pasar itu dan mencari kamu. Aku mau mengajakmu untuk menemaniku meninggalkan negeri ini. Tapi, tapi ternyata takdir kita begitu dekat, sehingga kita bertemu di samping kanal ini. Kau takdirku Raiman, Raiman? Raiman???" ucap Putri kemala dengan nada yang lirih. Tubuh Raiman yang hangat itu tidak bergerak lagi. Perlahan Kemala melepaskan dekapannya dan menyentuh wajah pucat Raiman. Wajah pucat yang seperti tersenyum namun kaku. Kaku tak bergerak lagi.
"Tidakkkk!!!!" putri Kemala menjerit sejadi-jadinya. Jiwanya semakin terguncang.
Hari semakin gelap oleh kabut dan abu vulkanik yang mulai turun kembali mencium bumi. Putri kemala merangkak keluar dari goa itu. Matanya sembab dan tubuhnya bergetar. Dilihatnya sekeliling, tanah berumput yang porak-poranda oleh batu-batu yang jatuh dari langit itu. Gunung-gunung sudah kehabisan amunisi. Suasana senyap. Tidak adalagi suara letusan gunung. Kemala berdiri dan mulai berjalan melihat-lihat keadaan. Ternyata di puncak bukit itu bukan hanya ada dirinya dan Raiman. Tapi banyak warga yang berhasil mencapai puncak bukit itu. Tapi mereka semua tidak ada yang selamat, atau mungkin ada yang hanya pingsan saja. Putri Kemala memeriksa tubuh-tubuh yang bergelimpangan itu satu persatu
Sampai sore kemudian, sampai tubuhnya benar-benar kelelahan, ia tidak menemukan satu pun orang yang masih hidup. Kemala duduk bersandar pada sebuah batu besar dan kembali menangis. Tak perduli tubuhnya kotor dan perut kosong.
Aroma Kematian, bau amis darah dan suara-suara jerit ketakutan yang terngiang-ngiang di kepalanya sungguh mengganggu jiwanya. Tapi akhirnya, lelah membuat Kemala tertidur dengan posisi duduk bersandar pada sebuah batu besar.
***
__ADS_1
Gerimis pagi jatuh, seolah langit turut berduka cita. Kemala terbangun karena satu dua tetesan air membasahi hidungnya yang mancung. Alam sudah benar-benar tenang dan Kemala bingung, apa yang harus ia lakukan sekarang. Menguburkan semua jasad itu? Rasanya tidak mungkin, Ia sendiri saja sudah hampir mati kelelahan. Kemana ia harus melangkah? Tidak mungkin ia berlama-lama di puncak bukit itu dan menikmati aroma mayat-mayat yang mulai membusuk.
Ia ingat, pedang dan pakaiannya di sebelah selatan. Ada makanan di antara buntalan pakaiannya itu. Kemala pun beranjak.
Di bawah, air bah yang menggenang dan menenggelamkan kota sudah mulai surut. Akhir sebuah peradaban yang sangat tragis.
***
Jemari Kemala erat berpegangan dengan jemari Bondan. Kemala ingat, Bondan mirip sekali dengan Raiman. Ingatannya pun segar saat Raiman meraihnya erat dan membawanya berlari saat menghindari serangan manusia setengah kera.
"Apa mungkin ia reinkarnasi si Raiman? Apa benar reinkarnasi itu ada??" pikir Kemala di sepanjang jalan kebersamaannya dengan Bondan. Dunia sudah sangat berbeda. Gerobak-gerobak besi yang mengeluarkan asap dan suara berisik, jalan yang dilapisi lelehan batu hitam, tali-tali yang saling bertautan dari tiang ke tiang, dari rumah ke rumah dan sebagainya. Ia putuskan diam dan menikmati perjalanan.
Kemana pun Bondan mau membawanya, ia pasrah. Ia sudah tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Dunia yang sudah sangat berbeda.
Bondan menghidupkan smartphone-nya. Chat dari Jerry langsung menyerbu masuk dan banyak sekali. Bondan putuskan membacanya nanti. Ia pun kembali mengantongi smartphone-nya.
***
Di sela-sela kesibukannya mendata fosil-fosil yang berhasil dikumpulkan, Professor Erwandi menyambut Letnan Anwar dengan argumen yang sangat mengejutkan.
"Apa? kenapa demikian??"
"Semakin jauh kami melakukan penggalian, penemuan fosil dan bongkahan batu megalitikum makin banyak. Luar biasa Letnan, tempat ini bisa menjadi surga penemuan," ucap Professor Erwandi.
"Lihat ini, ini fosil manusia setengah kera, ini fosil raksasa, dan ini, kau perhatikan baik-baik. Ini biasa masyarakat bilang dengan sebutan jenglot," lanjut Professor Erwandi sambil menunjuk sebuah fosil manusia sebesar wayang golek. Rambutnya panjang tak beraturan, gigi dan kukunya juga panjang.
"Apa kau masih ingat cerita saya dulu, cerita yang tidak mau kau percayai itu," ucap letnan Anwar sambil memperhatikan Jenglot itu.
"Tentang para pendatang dari langit, perang dunia purba dan sebagainya."
"Yah, menurut sumber yang mulai saya percayai, ini, sekarang ini kita sedang berdiri di atas pusat peradaban Atlantis yang hancur karena perang besar. Kau bilang sendiri, itu fosil raksasa dan sebagainya."
"Aku lebih suka menyebutnya bencana alam dan benua Atlantis ini hancur akibat letusan gunung berapi secara bersamaan," ucap Professor Erwandi.
__ADS_1
"Lalu untuk apa bangsa raksasa dan manusia setengah kera berkumpul di sini sebelum letusan gunung berapi itu?"
Mengerti itu, Professor Erwandi tercenung dalam. Argumen letnan Anwar itu ada benarnya juga.
"Kau sendiri yang bilang, bangsa Raksasa menguasai bumi sebelah selatan, bangsa Hobbit di sebelah timur dan manusia setengah kera di bagian bumi sebelah utara dan manusia, nenek moyang kita di sini. Ditengah di garis katulistiwa."
"Yah, sepertinya, kita bakal berlama-lama di tempat ini. Hm, andai saja Professor Himawan masih ada."
"Maaf, siapa yang kau maksud?" tanya letnan Anwar.
"Seorang sahabat, ia sangat ahli di bidang Arkeologi. Tapi sayang, dia hilang saat mengunjungi lab di Miami," ucap Professor Erwandi.
"Sepertinya yang saya takutkan telah terjadi padanya."
"Oh, itu. Kau fokus saja pada fosil-fosil itu. Biar kasus itu kami yang urus. Jangan khawatir, kami sudah kirim orang. Kami sedang mengusutnya."
***
Sesampainya di terminal dan membuat Kemala duduk nyaman, Bondan menelepon Jerry.
"Hallo! Jerry? Yah, apa kamu yakin?"
"Kapan aku salah memberikan informasi, segera lah kemari, banyak yang mau aku omongin" suara Jerry.
"Yah, aku juga mau menunjukkan sesuatu, kamu pasti tidak akan percaya," tukas Bondan lalu tersenyum dan melirik Kemala.
"Apa itu, gue gak suka main tebak-tebakan!"
Bondan kembali melirik Kemala dan berucap agak pelan ke ujung smartphone-nya itu.
"Aku menemukan fosil hidup, udah dulu yah, jangan kemana-mana,"
"Hei! sebentar sebentar Dan! Woy! fosil hidup macam apa??"
__ADS_1
Bondan memutus sambungan telepon dan mengajak Kemala.
"Ayo, kendaraan kita sudah datang," tunjuk Bondan pada sebuah bis yang mulai menepi.