Dewa Terakhir

Dewa Terakhir
Persiapan Penyerangan


__ADS_3

Pasukan manusia setengah kera tampak sibuk, layaknya para tentara kemiliteran yang bersiap ke medan perang. Ada yang mengisi amunisi, ada yang membersihkan pesawat dan sebagainya.


"Tuan muda Hon, apa tuan sudah yakin dengan penyerangan ini?" ucap seorang penasihat tua pada pemimpin manusia setengah kera itu.


Sang Pemimpin pun menoleh dan tersenyum.


"Bukankah leluhur kita menantikan momentum ini. Kekuatan kita sudah cukup dan kau lihat sendiri. Kekuatan manusia sudah bisa kita peta-kan. Aku sudah tidak tahan, manusia sudah sangat merusak alam. Instalasi cawan suci itu harapan kita satu-satunya."


"Maksud saya, Kita akan menginvasi sebuah negara Tuan?"


"Ah, kau masih saja meragukan pesawat-pesawat anti radar ini," ucap tuan muda Hon sambil berlalu dan melihat-lihat persiapan yang sedang dilakukan.


***


Dul Karim siap beraksi, begitupula Taupan dan yang lainnya. Sedikit drama yang dilakukan Fani dan Taupan sungguh membuat Abe iri dan melengos pergi.


"Bang, hati-hati ya," ucap Fani sambil seketika memeluk Taupan. Bagaimanapun mereka baru saja menikah dan ketakutan akan kehilangan sangatlah besar.

__ADS_1


"Aku pasti kembali Sayang. Hehe bahkan kalau pun aku mati kau tau sendiri, aku pasti hidup lagi," jawab Taupan sambil melipur dan mengecup sayang.


"Pulang dari sini, aku pasti menikah!" tukas Abe pada Gugun yang sudah jauh dari keberadaan Fani dan Taupan itu.


"Hahaha! Abe Abe, aku do'akan semoga secepatnya ada perempuan yang mau sama kamu teman," ucap Gugun sambil menepuk pundak Abe.


Tidak lama kemudian, mereka pun mulai beranjak. Dul Karim sudah mengenakan kostum aneh yang terbuat dari busa logam itu, Taupan melesat duluan. Taupan kini bisa meloncat-loncat dengan cepat dan jauh. Seolah gravitasi tidak berarti bagi tubuhnya.


Hari beranjak siang.


***


"Dari dulu bangsa Hannom terkenal dengan teh dan racikan herbalnya," ucap Gani sambil menghisap aroma teh. Mendengar itu, kapten Oox jadi memperhatikan Gani.


"Kau?" kapten Oox menuding Gani.


"Siapa kau? Bagaimana kau bisa tahu kami dari bangsa Hannom?"

__ADS_1


"Saya tidak bilang begitu. Saya hanya sedang bercerita, kalo bangsa Hannom terkenal dengan racikan herbalnya. Hehehe, kau mengakuinya sendiri," ucap Gani dengan begitu cuek. Bahkan terkesan sangat berani untuk ukuran orang tua ceking berambut carang-carang di hadapan para tentara gagah berani itu.


"Rupanya kau tahu banyak. Sepertinya kau adalah pemimpin penggalian itu."


"Pintar sekali, jujur saja, apa yang sebenarnya kalian cari di tempat ini," lanjut Gani lalu nyeruput teh.


"Baguslah kalo kalian tidak suka bertele-tele. Kami sedang mencari instalasi cawan suci. Walau sudah rusak, kami akan memperbaikinya."


"Sudah ku duga," jawab Gani dengan lemah. Untuk sementara letnan Anwar dan Professor Erwandi jadi kambing congek yang hanya bisa menyimak. Gani adalah penjudi ulung kelas dunia. Ia juga pasih banyak bahasa.


"Silahkan lihat sendiri ke lokasi penggalian, kami belum menemukannya. Baguslah kalau kalian datang untuk membantu."


Dalam hati letnan Anwar bersyukur, Gani telah berhasil mengulur waktu sampai bantuan datang.


***


Tidak mau kalah dengan Taupan, Dul Karim pun melonjak. Meski masih kagok dan sesekali terjatuh, Dul Karim berhasil meloncat dan per-loncatan ia bisa mencapai 10 meter.

__ADS_1


Taupan sampai duluan dan berhasil mendekat sedekat mungkin dengan mengendap-endap.


__ADS_2