Dewa Terakhir

Dewa Terakhir
Kemana Mereka Pergi?


__ADS_3

Seorang pilot jet yang sampai duluan menghubungi Nugroho.


"Sepertinya telah terjadi konfrontasi, jet tempur dan helikopter kita semuanya hancur tak tersisa. Tidak ada kendaraan musuh! Aneh, sangat yakin!"


Mendengar itu sejenak Nugroho jadi berpikir keras.


"Kalian segera manuver naik ke atas. Biar kami yang landing dan bergerilya di darat. Pasti mereka sudah siap menghadapi kita. Hati-hati ini jebakan!" titah Nugroho yang di daulat menjadi komandan penyerangan.


"Siap! Semua dengar?! Kita naik sekarang!"


"Aneh," gumam Nugroho.


Tidak lama kemudian, Nugroho pun sampai dan belasan helikopter militer itu mendarat di tempat yang agak jauh dari lokasi penggalian.


***


"Letnan Anwar tampak gusar dan tak berdaya dalam ruangan batu yang terkunci bersama Professor Erwandi.


Nugroho dan puluhan tentara sudah sampai area penggalian. Dengan langkah siaga mereka hanya mendapati sisa-sisa jet dan helikopter yang rusak parah dan berasap. Ada juga beberapa bagian pesawat yang masih terbakar. Nugroho cs juga mulai mendapati jasad-jasad prajurit bergeletakan dengan darah yang mengucur segar. Pembantaian ini sepertinya baru saja terjadi.


Bondan juga melangkah siaga di balik punggung Kemala. Bondan seperti seorang pecundang yang berlindung di belakang wonder woman. Sungguh, Kemala seperti Gal Gadot(pemeran utama film Wonder Woman). Bertubuh jangkung dan cantik. Baru kali ini, Bondan merasa memasuki area bekas pertempuran. Bondan merasa memasuki setting film-film perang Hollywood. Mayat-mayat, kendaraan-kendaraan rusak, bau mesiu dan sebagainya.


Nugroho melangkah paling depan dengan senapan buru yang siap memuntahkan peluru. Tidak ada lawan dan kawan yang selamat adalah para buruh penggalian. Para buruh itu duduk berkumpul di satu sudut yang lapang. Roman kecut dan takut tampak jelas di wajah mereka.


Bila diperhatikan dari jasad-jasad yang tewas, Nugroho bisa pastikan. Tidak ada korban dari pihak pekerja atau sipil, semua korban adalah tentara/pihak militer dan satu dua dari pihak musuh.

__ADS_1


Nugroho cs masuk lebih jauh ke lorong batu yang sudah selesai direkonstruksi ulang.


Sepi


Hanya tercium bau mesiu dan sesekali bau amis darah.


Akhirnya Nugroho sampai ke ruangan dimana letnan Anwar disekap.


"Pak? Kemana yang lain? Maksud saya, dimana Taupan, Fani dan Dul Karim?" tanya Nugroho sambil membuka kunci dengan paksa.


"Entahlah, hal yang paling saya khawatirkan sepertinya telah terjadi. Gani kabur."


"Bagaimana bisa? Bukan kah dia-"


"Tadi saya tertidur, saya terbangun karena suara ledakan yang bersahutan. Gani mencuri jam tangan saya, maka dari itu ia berani kabur,"


"Taupan bersama bangsa Hannom membawa Fani," ucap letnan Anwar dengan penuh sesal.


"Sial! Ini semua karena kecerobohan saya. Gani sepertinya berhasil mempengaruhi Taupan. Seharusnya saya waspadai itu. Dari awal Gani sudah menunjuk Taupan dan mengatakan kalau Taupan adalah panglima perang yang memerangi bangsa manusia. Astaga."


"Dul Karim juga tidak ada," imbuh Nugroho. "Semua sudah terjadi Pak, Tenang lah."


"Apakah si Abe selamat?" tanya letnan Anwar.


"Entahlah, saya pasti mencarinya. Ayo, kita naik ke permukaan. Disini pengap," ucap Nugroho sambil memapah letnan Anwar yang tampak lemas.

__ADS_1


"Saya punya kejutan buat Bapak. Bapak pasti tidak percaya kita kedatangan seseorang yang sangat spesial."


"Siapa yang kau maksud Nugroho, situasi sudah gawat begini kau malah main tebak-tebakan."


***


Hari sudah beranjak malam. Tampak Gani sedang ditangani oleh seorang mekanik dari bangsa Hannom. Mekanik itu sedang memotong kalung titanium yang melingkar ketat di leher Gani. Mekanik itu tampak berhati-hati sekali. Gani sudah mewanti-wanti, Kalung sialan itu berteknologi canggih dan mempunyai sensor yang sangat sensitif. Salah sedikit saja, ia bisa mati tercekik.


***


"Dan lelehan peradaban kerajaan langit itu kini kita sebut minyak mentah atau bahan bakar fosil." ucap letnan Anwar di hadapan Bondan, Kemala, Nugroho dan Abe yang berbalut kain kasa di jidat dan lengan kiri.


Kelimanya duduk di atas batu datar yang dibuat melingkar menghadapi api unggun.


"Masuk akal juga. Kalo itu fosil dinosaurus, seberapa banyak jasad dinosaurus di suatu tambang yang tidak habis selama dua puluh tahun," ucap Nugroho.


"Yah, meragukan sekali. Kalo minyak bumi itu adalah fosil dinosaurus. Emangnya dinosaurus berkumpul dulu sebelum mati?" timpal Abe.


"Apalagi katanya dinosaurus itu pada mati kena meteor to'. orang kejatuhan meteor mereka pasti kocar-kacir sendiri-sendiri. Ngapain juga berkumpul?" Mendengar pendapat Abe dengan logat bahasa Indonesia timur itu Bondan jadi tersenyum. Ia seperti mendengar si Upen melucu. Masuk akal juga Bondan pikir.


"Kali aja mereka ngumpul buat berdoa bareng sebelum mati kena meteor Bro," ucap Nugroho yang lantas tertawa.


"Hahahaha!" Abe juga tertawa. Seolah ia lupa, luka tembak di perutnya yang baru saja selesai di obati.


"Sudah-sudah! Kalian ini, bisa-bisanya bercanda di saat situasi seperti ini," ucap letnan Anwar.

__ADS_1


Tim evakuasi sudah selesai mengumpulkan dan mengidentifikasi jenazah-jenazah.


Abe kembali terdiam. Semua nya terdiam, terdiam dan kembali terlingkupi aroma duka yang sakral. Bukit Halimun yang rimbun, bukit yang penuh dengan timbunan sejarah dan kematian dari zaman ke zaman.


__ADS_2