Dewa Terakhir

Dewa Terakhir
Kembali ke Bukit Halimun


__ADS_3

Di satu sisi dinding yang kosong, Kemala membuat sebuah altar kecil dengan meja kecil. Ia merapikan pakaian kerajaan dan pedangnya di situ.


Kemarin Bondan mengatakan, kalo bangsa Hannom melakukan penculikan terhadap ayahnya dan sekarang Bondan mengajaknya untuk kembali ke bukit itu. Bukit terkutuk, bukit yang menjadi arena pembantaian dan kuburan masal semua bangsa yang berperang.


Kemala benci perang, tapi kadang hanya itu yang harus dilakukan. Kemala bersimpuh di hadapan altar itu. Menatap tiara/mahkotanya yang tertegun di atas tumpukan pakaian keabadiannya. Ada haru dan kenangan panjang yang suram bersama pakaian itu.


Dalam hati ia tidak ingin kembali ke bukit itu. Ribuan tahun lamanya ia hidup sendiri di belantara itu dan kini Pujaan hatinya mengajaknya kembali.


"Kemala, maaf, aku bisa mengerti kalo kamu enggan atau tidak mau kembali ke bukit itu." Seuntai kata lembut dari kekasihnya itu terdengar lembut dan penuh pengertian.


Tiba-tiba Kemala berbalik dan memeluk Bondan.


"Semua terserah padamu, lakukan yang terbaik untuk kelangsungan bangsa manusia. Jangan sampai apa yang kami alami terulang kembali," rengek Kemala di dada Bondan.


"Kau bilang sendiri, bangsa Hannom mulai menyerang,"


"Sebelum kita jauh-jauh ke bukit itu lagi, aku akan coba mendatangi pemerintah. Mungkin nama besar ayahku membawa pengaruh," ucap Bondan.


***


Malam telah larut, Taupan yang sudah tidak sabar mau melakukan penyerangan dengan cara menarik tentara bangsa Hannom itu satu persatu. Tapi Dul Karim tidak setuju.


"Pikirkan juga keselamatan istrimu Taupan!" saran Dul Karim. Sampai di situ Taupan mengendur dan mengerti.

__ADS_1


"Lalu apa yang harus kita lakukan," Taupan mulai tenang dan membuka hati.


"Kita pinjam ponsel warga untuk menghubungi Nugroho," saran Dul Karim.


"Ya sudah, ayo!" Taupan setuju. Mereka pun berbalik dan turun bukit.


***


Nugroho baru saja sampai bandara internasional Soekarno-Hatta. Ia pulang dan dua orang dari divisi rahasia sudah menunggunya.


Setelah turun dari pesawat Nugroho menghidupkan HP-nya. Puluhan SMS dan notifikasi panggilan masuk memenuhi layar handphonenya. Dari nomor asing.


Hari masih pagi dan matahari bersinar dengan cerah. Nugroho sampai memicingkan mata.


***


"Jadi ini markas prajurit di zaman sekarang," bilang Bondan pada Kemala.


Nugroho datang ke kantor Polda metro jaya itu dan tanpa sengaja menyenggol Kemala dan pedang Kemala yang berbalut kain hitam itu jatuh.


TINGGG!


Kain yang digunakan untuk membalut pedang itu pun terurai dan tanpa sengaja Nugroho pun melihat. Itu pedang. Logam dan suaranya jatuh begitu berat seperti sebatang linggis yang jatuh.

__ADS_1


"Maaf! maaf," ucap Nugroho, "saya sedang buru-buru. Meski tertarik dengan pedang itu yang kini tergeletak di lantai, Nugroho bergegas masuk. Ada urusan gawat yang harus ditangani.


Kemala buru-buru mengambil pedangnya.


"Lain kali hati-hati, pegang yang erat," bisik Bondan. Kemala hanya mengangguk.


Bondan dan Kemala pun masuk dan memberikan keterangan.


"Sebelumnya ibu saya pernah membuat laporan kalau ayah saya dinyatakan hilang di Miami. Ayah saya bernama Himawan. Professor Himawan." ucap Bondan pada seorang polisi yang menerimanya.


"Sebentar, saya cari dulu berkasnya ya Dek," jawab seorang polisi itu sambil membuka komputer.


"Lalu sekarang, apa yang mau kamu laporkan pada kami," tanya polisi itu sambil matanya serius ke layar monitor.


"Ayah saya adalah seorang arkeolog dan..." Bondan bercerita panjang lebar dan mau tidak mau ia juga memberitahukan ihwal pesan rahasia dari ayahnya itu. Ayahnya yang ia yakini sedang dalam penyekapan dan yang paling penting dan berat untuk Bondan katakan adalah, penculikan itu dilakukan oleh seseorang dari bangsa manusia setengah kera.


Polisi itu sampai mengerutkan dahi begitu mendengar bangsa manusia setengah kera akan masuk ke Indonesia.


"Apa kamu yakin dengan yang kamu katakan?" tanya polisi itu dengan tatapan yang tersemat pada Bondan.


"Sahabat ayah saya, namanya Professor Erwandi sekarang sedang melakukan penggalian di bukit halimun dan mereka dalam bahaya," seperti yang ia bayangkan. Betapa sulitnya meyakinkan pihak kepolisian.


"Tunggu sebentar," polisi itu seperti menyadari sesuatu dan segera berlalu meninggalkan Bondan dan Kemala yang tampak kebingungan.

__ADS_1


__ADS_2