
Pagi-pagi sekali Didan membangunkan Kemala. Didan mengajak Kemala mendatangi universitas dimana Professor Erwandi bekerja selama ini sebagai dosen. Hanya itu yang ia tahu tentang sahabat ayahnya itu. Didan hanya perlu nomer kontak sang profesor. Tidak lupa, di sepanjang jalan ia mengajari Kemala bahasa Indonesia.
Sesampainya ke universitas, bersyukur ada seorang staf yang baik hati dan memberikan semua informasi yang Didan butuhkan.
Didan pun tak buang-buang waktu dan segera menghubungi nomor kontak Professor Erwandi.
Ternyata nomer handphonenya tidak aktif dan nomer rumahnya aktif. Seorang ibu menerima panggilannya.
Merasa kurang sopan berbicara banyak hal lewat telepon, Didan pun mengunjungi rumah Professor Erwandi.
***
Rick Clooney tampak sedang duduk termenung sendiri di dalam ruang kerjanya. Sejak pemberitahuan hasil olah TKP penculikan Professor Himawan di wilayah hukumnya itu, Rick selalu tampak gusar.
"Who exactly is the human whose DNA structure is more like that of a gorilla??"
Untuk menjawab rasa penasarannya, saat jam makan siang, ia menemui dokter yang memberikan laporan tes DNA itu. namanya Dr. Benjamin. Rick mengajak Dr. Benjamin untuk makan siang bersama.
Percakapan keduanya dalam bahasa setempat.
"Dokter, aku Traktir kamu makan siang. Tolong, banyak yang mau saya tanyakan," ucap Rick. Dr Benjamin pun tidak keberatan dan keduanya menuju kantin. Duduk berhadapan dan memesan makanan.
__ADS_1
Rick sudah tidak sabar.
"Ben, aku tidak mengerti, bagaimana bisa, seorang manusia susunan DNA rambut-nya lebih mirip gorilla?" tanya Rick dengan serius.
Dr. Benjamin pun mengerti, apa yang temannya itu tanyakan. Rupanya soal pelaku kasus penculik itu.
"Tapi bagaimana kalo pertanyaan kamu itu dibalik? Kenapa seekor gorila berpenampilan seperti manusia?" Pernyataan Dr. Benjamin itu membuat Rick mengerutkan dahi. Berpikir sambil menilai air wajah lawan bicara.
"Kau bercanda, Aku serius Ben!" kesal Rick.
"Haha, entahlah, Aku juga bingung. Rupanya kau masih kepikiran laporanku itu. Yah, memang itu faktanya."
"Lalu, apa kesimpulan kamu tentang keanehan ini?" tanya Rick.
Rick jadi ingat sesuatu.
"Aku pernah mengejar seorang kriminal yang mampu melempar sepeda motor dengan satu tangan dan meloncati pagar setinggi dua meter dengan mudah. Dia kuat dan gesit. terpaksa aku menembaknya dan dia pun mati."
"Apa kau pernah dengar tentang penyelidikan seorang amatir tentang manusia penjahat? Ia menerbitkan jurnal dan buku. Aku lupa namanya. Ia berasumsi, setelah meneliti banyak jasad kriminal yang tewas tanpa identitas. Ia menyimpulkan, bahwa kebanyakan dari mereka memiliki struktur tulang yang agak berbeda dengan manusia pada umumnya. Maka dari itu dia menyebutnya, 'Manusia Penjahat."
"Apa dia juga meneliti susunan DNA-nya?" tanya Rick lebih lanjut.
__ADS_1
"Dia orang yang tidak kompeten di bidangnya. Jurnalnya jadi bahan tertawaan."
"Manusia penjahat yang aku tembak itu, jasadnya masih ada," ucap Rick.
"Apa maksudmu?"
"Apa kau bersedia untuk memeriksanya. Kau sendiri bilang, mungkin susunan tulangnya bisa menjelaskan sesuatu. Mungkin saja susunan DNA-nya sama dengan pelaku penculikan itu."
"Kau mau aku meneruskan jurnal tentang manusia penjahat itu?"
"Kenapa Tidak? Mungkin nanti kau berhasil menemukan sesuatu dan kau jadi terkenal?" tukas Rick. Dr. Benjamin malah tertawa.
"Hahaha! Kau ini ada-ada saja. Sudah, kita makan dulu."
***
Malam kemudian, Dul Karim dan Taupan yang sudah dinyatakan mati oleh pilot jet yang menyerangnya, kini sedang mengendap mendekati lokasi penggalian.
***
setelah bertemu dan bicara panjang lebar dengan istri Professor Erwandi, Didan tidak tahu harus kemana lagi. istrinya sendiri tidak bisa menghubungi Professor Erwandi. Yang pasti, Professor Erwandi sekarang ada di bukit halimun dan tidak bisa dihubungi. Tidak mungkin ia mendatangi kepolisian dengan laporan mentah itu tanpa dukungan Professor dan bukti yang meyakinkan. Dan satu lagi, kemungkinan bangsa Hannom sudah menguasai area situs di bukit halimun itu. Buktinya, sang Profesor tidak bisa dihubungi.
__ADS_1
"Tidak ada cara lain, kita harus segera kembali ke bukit itu," ucap Didan pada Kemala.