
"Masalahnya, sejak abad pertengahan mereka sudah berada diantara kita. Bisa jadi, sekarang juga mereka masih ada di antara kita dan menjadi mata-mata. Bahkan kau bisa mencurigai saya dan saya bisa mencurigai anda?" ucap Perdana menteri Kanada yang membuat seisi ruangan sidang jadi bungkam dan berpikir keras.
"Bisa dimengerti, kita jangan buru-buru menyerang. Ini akan menjadi perang yang panjang," ucap presiden Amerika.
"Saya dengar, mereka bisa dibedakan. Secara medis," ucap PM Inggris.
"Kita swab orang-orang di sekitar kita. Ya, ini harus dilakukan segera. Kita harus mulai persekutuan ini dengan kemurnian ras manusia di dalamnya," ucap letnan Anwar dan tampaknya semua peserta sidang setuju. Berhubung Presiden dan menteri pertahanan berada dalam penjara musuh, maka letjen Anwar Gunardi yang mewakili Indonesia di forum internasional itu.
"Selain bangsa manusia setengah kera, seperti yang sudah saya katakan di pidato saya yang kemarin. Ada satu mahluk lagi yang jauh lebih berbahaya dan mengancam kita semua sebagai manusia murni di bumi ini. Dia adalah bangsa atau ras yang biasa kami sebut Rawarontek. Dia juga sama persis dengan kita. Tapi secara biologi ada perbedaan yang sangat spesifik. Ia seperti organisme yang sangat kompleks dan akan selalu utuh kembali apabila terluka, bahkan terpenggal saja ia tidak akan mati. Kabar baiknya adalah, mahluk seperti itu cuma ada satu, satu orang saja. Tapi sekarang, kita lihat sendiri, ratusan ribu, bahwa mungkin sekarang sudah mencapai jutaan mahluk manusia setengah kera yang wujudnya sudah sama persis dengan kita datang ke tanah kami dan merebut kedaulatan negara kami. Yang saya khawatirkan, adalah ras atau kaum Rawarontek tadi yang sudah bersekutu itu ternyata jumlahnya banyak. Kita tidak tahu kan? Bayangkan, kita akan, kita akan berperang dengan sosok-sosok manusia yang selalu utuh kembali kalo terluka."
"Kekhawatiran anda terlalu berlebihan jendral," ucap seorang raja dari timur tengah.
"Sesuatu yang hidup pasti bisa dibunuh."
"Yang mulia belum melihatnya bukan? Saya ada rekamannya, bagaimana tubuh yang tercabik dan terpotong-potong bisa menyatu kembali," timpal letnan Anwar.
"Baiklah saudara-saudara. Apakah kita setuju untuk melakukan sweeping?" hela presiden Amerika.
"Yah, kami setuju dan kita mulai dari ruangan ini."
***
Dr. Benjamin mendatangi Rick saat makan siang. Tatapan Rick langsung mengerti arah tujuan kedatangan Dr. Benjamin.
__ADS_1
"Bawa saya ke subjek pembicaraan kita tempo hari itu," ucap Dr. Benjamin.
"Kita tidak sendiri Ben, Ayo!" Rick tidak menghabiskan makan siangnya. Ia sangat bersemangat dan membawa Dr. Benjamin ke tempat penyimpanan mayat.
Tapi ternyata, mayat yang mereka kira adalah mayat manusia setengah kera dan mau mereka teliti ternyata sudah tidak ada.
"Maaf Pak, Ini sudah menjadi wewenang UN dan mereka sudah melakukan penelitian lebih lanjut," ucap seorang penjaga kamar mayat yang sudah kenal baik dengan Rick.
Rick dan Benjamin pun tampak kecewa. baru saja keduanya berbalik dengan lesu dan hendak berlalu. Si penjaga kamar mayat itu berkata lagi.
"Maaf Pak, Ada seseorang yang menitipkan ini pada saya. Katanya, berikan ini pada siapa saja yang mau menguburkan jenazah itu dengan layak atau siapa saja yang menaruh simpati." Rick dan Banjamin pun berhenti. Perhatiannya tertarik dan kembali berbalik.
"Kamu tahu, saya sudah cerita, saya yang telah membunuhnya Simon. Sebagai penegak hukum tentunya," ucap Rick pelan.
"Terima kasih Simon. Oh iya, apa kamu juga tahu identitas petugas UN yang membawa jenazah itu?"
"Maaf, kami tidak punya, ini prosedural."
"Sudah ku duga, Ayo Ben."
Rick dan Benjamin pun berlalu.
Setelah berpisah dengan Benjamin di persimpangan jalan. Rick tidak buang-buang waktu. Ia segera ke tempat sepi dan menghubungi nomor yang tertera di kartu nama itu.
__ADS_1
TTTT!!! TTTT!!!
notifikasi di hp Rick menyatakan nomer tersebut aktif dan tidak lama kemudian, seseorang di seberang telepon menerima panggilan Rick.
"Hallo,"
"Hai, selamat siang. Apakah benar saya sedang berbicara dengan Ivan Fedrica?" tanya Rick sambil membaca seuntai nama yang tertera jelas di kartu nama itu.
"Betul sekali, dengan siapa saya bicara?"
"Saya, saya petugas dinas sosial yang sudah menguburkan saudara Dev."
"Syukurlah, akhirnya Dev dikuburkan juga. Oh iya, bisa kah anda datang ke sini? Ada yang mau saya bicarakan dan yang terpenting saya mau berterima kasih secara langsung."
"Iya, iya, apakah alamat anda masih sama dengan yang tertera di kartu nama ini?"
"Iya, iya, masih. Saya undang anda makan malam? Malam ini juga. Bagaimana?"
"Mmm... Baiklah, terima kasih sebelumnya," ucap Rick.
"Sama-sama, saya tunggu."
Sambungan telepon pun terputus dan Rick tampak semakin bersemangat.
__ADS_1
Rick Clooney adalah detektif senior yang tahu pasti apa yang harus ia lakukan.