
Helikopter helikopter yang menjemput letnan Anwar dan para tawanan itu sudah kembali. Fani berlari ke luar tenda. Dari salah satu helikopter Taupan melambaikan tangan. Fani senang bukan kepalang, jagoannya kembali dengan selamat. Fani sampai berjingkrak-jingkrak, tidak perduli pakaian dan rambutnya acak-acakan karena hempasan angin dari baling-baling heli yang sudah dekat.
***
Tuan muda Hon berada dalam jet yang paling depan. Ini seperti perang di masa lalu, di mana sang Raja memimpin langsung penyerbuan.
***
Setelah helikopternya landing, letnan Anwar langsung menghampiri Fani.
"Tolong lihat pantauan radar!" teriak letnan Anwar di antara bising suara baling-baling.
"Komandan! Siapkan pasukan! Mereka segera datang!!" lanjut letnan Anwar pada seorang komandan Angkatan darat yang bertanggung jawab di situ.
Fani mengikuti letnan Anwar masuk tenda. Taupan dan Dul Karim turut serta.
"Berapa lama lagi bantuan datang?" tanya Taupan pada Fani.
"Sekitar 2 jam lagi," jawab Fani.
"Sudah lama saya bilang sama mereka, kita perlu jet tempur generasi terbaru," ucap letnan Anwar menggerutu. Topi yang tidak berdosa ia banting ke atas kursi.
"Ada yang datang Pak!" tunjuk Fani pada monitor besar.
"Untung kita sudah punya alat deteksi terbaru. Dari arah mana?" tanya letnan Anwar lalu mengambil dan mengenakan kembali topinya.
"Dari arah selatan, sepertinya jet tempur. Banyak sekali."
"Kalian hadang mereka, alihkan perhatian. Kalo bisa buat mereka sibuk sampai bantuan datang," perintah letnan Anwar pada Taupan dan Dul Karim, tidak ada pilihan lain sebelum mereka semakin dekat."
"Siap Pak! Ayo Dul!"
"Bang!" panggil Fani. Taupan dan Dul Karim yang baru berbalik pun berhenti. Taupan menoleh.
"Hati-hati," ucap Fani penuh rasa khawatir.
"Abang pasti kembali," jawab Taupan lalu beranjak dengan Dul Karim. Di luar tenda, keduanya melonjak ke arah selatan.
***
"Tuan, kapten Oox sudah di lokasi mereka. Mereka banyak, kapten Oox tidak menjawab. Firasat saya tidak baik Tuan," ucap sang Ajudan pada sang Pimpinan.
"Apa maksudmu?"
"Sepertinya mereka menangkap kapten Oox. Kalo tidak tertangkap, Kapten pasti menerima sambungan kita," lanjut si Ajudan.
Sejenak tuan muda Hon jadi berpikir, " Kamu benar juga? Buat sambungan komunikasi pada mereka,"
"Siap Tuan.
***
"Mereka semakin dekat Pak. Banyak sekali, sepertinya jet tempur," ucap Fani. Letnan Anwar jadi ketar-ketir.
"Buat sambungan komunikasi dengan mereka. Kalo tidak bisa, saya akan menggunakan alat komunikasi yang mereka bawa."
__ADS_1
"Sebentar sebentar Pak, ada sinyal masuk," ucap Fani sambil ngotak-atik komputer. Letnan Anwar tertarik dan turut menghadapi monitor.
Fani membuka saluran dan mereka pun tersambung dengan video call.
"Sudah tersambung, silahkan Pak," ucap Fani sambil bergeser, memberikan ruang pada letnan Anwar untuk sepenuhnya menghadapi monitor.
Tampak seorang pria tinggi besar dengan rambut putih, alisnya juga putih dan kulitnya juga putih.
"You have violated the sovereignty of our country. Surrender, before we shoot you down!" gertak letnan Anwar. Tuan muda Hon malah tertawa. dan percakapan keduanya dalam bahasa Inggris.
"Justru sebaliknya, kalian yang sudah kami kepung. Bersiaplah!" ancam tuan muda Hon tak kalah berang.
"Kami punya sandera!"
"Silahkan saja kalian bunuh mereka. Mereka sudah siap mati untuk kemenangan bangsanya," jawab tuan muda Hon dengan entengnya lantas terkekeh.
"Sial!" umpat letnan Anwar sambil ia berpikir keras. Dengan cara apalagi untuk menekan mereka.
Akhirnya ia memberi kode pada Fani untuk memberitahu Taupan dan Dul Karim untuk mulai menyerang sebelum mereka semakin dekat.
Beberapa detik kemudian, pemberitahuan pun sampai ke telinga Taupan dan Dul Karim.
"Rasakan ini Gorila!" geram Taupan sambil melemparkan sebongkah batu besar. Batu sebesar bola basket itu muncul tiba-tiba di antara puncak pepohonan, melayang tepat di hadapan jet tempur yang terbang rendah dan menghantam sayap sebelah kanan. sayap itu sedikit terluka dan mengeluarkan asap dan akhirnya,
DUARRR!
Satu sayap jet meledak dan otomatis membuat satu pesawat jet itu oleng dan keluar dari formasi terbang. Seperti seekor burung yang melenceng dari kawanannya.
"Sial! Apa itu?" heran tuan muda Hon melihat satu pesawatnya melenceng dan jatuh.
Tiba-tiba Dul Karim muncul di antara pepohonan. Dul Karim yang berkostum Gatotkaca itu menghentak tanah sambil mengeluarkan ajian Brajamustinya. Dul Karim muncul ke atas dengan kedua tangan membara berguling api. Seketika itu pula Dul Karim melesatkan ajiannya dan mengenai sebuah pesawat yang ada dihadapannya. Dari jarak yang sangat dekat, sekitar 20 meteran pilot jet itu tidak sempat mengelak.
"What the(?)"
DUARRR!!
Satu pesawat meledak lagi. Gulungan api yang Dul Karim lontarkan itu sungguh dahsyat dan mampu menghancurkan sebuah pesawat jet lapis baja dari jarak dekat.
Sontak tuan muda Hon terbelalak, kejadian itu tepat dihadapannya. Pesawat yang meledak itu tepat di samping pesawat jet yang ia tumpangi. Tampak jelas itu ulah seorang manusia berpakaian logam berwarna keemasan.
Hon pun mengintruksikan, "Bermanuver, terbang tinggi dan berpencar!"
Dul Karim turun kembali ke bumi dan saat melonjak lagi, beberapa peluru kendali jelas mengarah pada dirinya. Tapi Dul Karim bisa mengelak. Kalo gerakannya diperlambat, persis seperti adegan ikonik dari film the matrix.
SATT SATTT!!!
Peluru-peluru kendali itu melewati tubuh Dul Karim yang menggeliat di udara.
Satu pesawat jet tempur bermanuver dan memborbardir keberadaan Taupan tadi. Taupan yang belum jauh dari tempat itu mulai kelimpungan dan bersembunyi dari hujanan peluru di balik pohon besar yang rindang.
"Pesawat mereka cepat sekali! Hallo! Halo!!" teriak Taupan lewat microphone kecil yang tersambung ke telinganya.
"Kami tidak bisa mengalihkan perhatiannya!"
Mengerti apa yang Taupan katakan, letnan Anwar mengintruksikan evakuasi para pekerja. Mereka di giring masuk gerbang batu itu.
__ADS_1
"Jangan gunakan peluru kendali apa lagi bom. Gunakan saja senapan mesin. Bunuh semua lawan, tapi jangan merusak lokasi. Kalian mengerti???" titah tuan muda Hon.
"Siap Tuan!"
"Oke! Laksanakan!" jawab semua pilot tempur itu hampir berbarengan.
Letnan Anwar sudah menggunakan rompi anti peluru dan bergabung dengan para tentara di permukaan.
"Letnan! Kenapa anda keluar lagi? Sudah! ini tugas kami. Anda sembunyi saja di bawah," tukas seorang tentara begitu letnan Anwar datang.
"Mereka tidak akan menggunakan rudal penghancur. Sebaliknya, kita yang harus menggunakan bazoka."
"Sudah letnan. Semua bazoka dan rudal jarak dekat sudah siap," jawab si tentara itu.
"Apa kau sudah pernah ikut perang sebelumnya?"
"Belum letnan."
"Baguslah, anggap saja ini latihan."
***
Dua pesawat jet tempur masing-masing mengejar Dul Karim dan Taupan, sementara belasan yang lain sudah sangat dengan lokasi penggalian.
Letnan Anwar di paksa bersembunyi. Tidak lama kemudian penyerang datang dan langsung menembak membabi-buta. Satu dua tentara langsung ada yang kena dan meregang nyawa seketika itu pula.
Peluru-peluru yang menyerbu seperti hujan badai yang deras.
Perlawanan pun dilakukan.
"Tembak!!!"
DUMM!
DUMM!!!
Bazoka-bazoka dan rudal menggurat di langit. Hampir saja satu dua jet musuh kena.
"Mereka sangat gesit!" teriak Abe pada komandan pasukan setelah bidikan bazokanya meleset.
Letnan Anwar tampak Gusar.
Satu pesawat bermanuver ke atas. Itu lah pesawat jet yang ditumpangi tuan muda Hon.
"Bagaimana ini letnan!" sebuah teriakan dari mikrophone milik letnan Anwar. Letnan Anwar tidak menjawab
"Mereka kembali membuat koneksi," ucap Fani dan letnan Anwar pun menghadapi monitor.
"Misil kalian sebentar lagi habis. Tapi rudal kami masih utuh. Menyerahkan, sebelum kalian jadi abu," ucap Hon menggertak.
"Letnan! kami ke walahan!" kembali mikrophone letnan Anwar berbunyi.
"Segera menyerah! Atau
kalian kami musnahkan!" geram Hon.
__ADS_1
Letnan Anwar tidak punya pilihan, ia pun mengangkat satu telapak tangan terbuka tanda menyerah.