
Gani mengunjungi Taupan. Sejak bergabung dengan komplotan Manusia setengah kera, Taupan sungguh di manja. Ia dan Fani di berikan mansion khusus yang megah. Taman bunga di halaman depan kolam renang di halaman belakang. Sungguh seperti rumah dinas pejabat tinggi. Di jaga dan dilayani dengan maksimal.
Gani datang tergesa dan Taupan menyambutnya dengan antusias.
"Ada hal penting yang harus kita kerjakan. Pesawat sudah siap." ucap Gani.
"Apakah ini ada hubungannya dengan si Dul Karim?" ucap Taupan.
"Kau tahu dari mana?"
"Internet," jawab Taupan.
"Ya, baguslah kau sudah tahu. Tapi ada yang lebih penting. Ayo! Nanti saya jelaskan di pesawat."
***
"Lemah sekali raga manusia ini!" teriak Dias di tengah-tengah pasukannya. Dada Dias remuk dan tubuhnya bersimbah darah. Darah korban dan darahnya sendiri.
Tiba-tiba Gani muncul mengagetkan semua orang yang sedang berkumpul di tengah hutan itu.
"Tapi kenapa manusia yang menang dan menguasai dunia?" ucap Gani jelas mengalihkan perhatian Dias.
__ADS_1
"Salam bakti yang mulia, bagaimana rasanya merasakan lagi kehidupan," lanjut Gani dengan sikap agak membungkuk penuh hormat.
"Kamu?" ucap Dias. suara Dias terdengar jauh lebih berat dan kasar. Beda dengan suara Dias sebelum melakukan ritual. Dias sekarang bukan lagi Dias yang dulu.
"Kamu?? Kamu Gani???"
"Selamat datang di dunia modern yang Mulia,"
"Kamu? Kamu masih hidup."
"Ya, begini lah hamba yang Mulia. Semuanya sudah berubah, hanya hamba dan niat kita yang tidak berubah yang mulia." ucap Gani. Pelan namun meyakinkan.
"Apa maksudmu?"
"Manusia menang karena mereka punya ini," ucap Gani sambil menunjuk batok kepalanya sendiri.
"Manusia punya ini. Manusia punya akal dan akal menghasilkan politik."
"Apa maksudmu?"
"Bangsa raksasa terlalu asik dengan bekerja. Bahkan mau bekerja dan diperalat manusia. Bangsa raksasa merasa cukup dengan karya dan kesenian yang tiada tara sehingga lupa akan satu hal yang sangat mendasar. Kekuasaan.
__ADS_1
Perlu yang mulia ketahui, bangsa Hannom masih ada dan sudah memulai peperang dengan manusia. Bergabunglah dengan kami yang mulia."
"Mendengar itu Dias jadi berpikir. Berpikir dalam dan semakin dalam sebelum akhirnya mengutarakan pertanyaan yang menjadi tanda tanya besar.
"Kita bukan kalah oleh manusia. Tapi kita kalah oleh bencana."
"Lebih tepatnya bencana di sengaja yang mulia. Itu ulah bangsa Hobbit yang mulia." mendengar itu Jiwa jiwa raksasa yang mati penasaran itu jadi heran.
"Ulah bangsa Hobbit katamu?"
"Ya, mereka mengeluarkan semua kekuatan sihirnya untuk meletuskan gunung terbesar. Tapi mereka tidak sadar, dengan meletusnya gunung terbesar itu, semua gunung gunung berapi di Atlantis ini turut meletus. Semua mati karenanya. Ironisnya, itu juga yang menjadi penyebab kepunahan bangsa Hobbit itu sendiri."
"Biadab! Jadi itu ulah bangsa Hobbit?"
"Yah," angguk Gani.
"Tapi kenapa sekarang manusia yang mendominasi dunia. Bukankah mereka juga mati.
"Dari dulu manusia sudah tersebar ke penjuru dunia. Mereka sudah terpencar dan membangun peradaban yang berbeda-beda. Bahkan berperang dengan sesamanya. Yang kita serang waktu itu hanya satu peradaban manusia. Di luar benua Atlantis masih ada peradaban lain."
"Sekarang, kalian mau melawan bangsa manusia lagi?"
__ADS_1
"Tepat sekali yang mulia. Tapi sabarlah, kita jangan tergesa-gesa. Ikutlah dengan kami. Biarkan kami merawat luka-luka di tubuh itu. Oh iya yang mulia. Kaum Rawarontek pun ada yang tersisa. Meski hanya satu orang, tapi dia sangat bisa di andalkan."
Tidak lama kemudian, Taupan dan seorang pilot datang. Taupan sampai bergidik ngeri, merasakan aura dari jiwa jiwa raksasa yang dipenuhi dendam yang membara. membara dalam arti yang sebenarnya.