
Baru saja turun dari podium, letnan Anwar di cegat oleh seorang staf angkatan darat yang mendampinginya selama di Amerika itu.
"Letnan, ini gawat. Negara kita di serang dari berbagai penjuru. jet-jet tempur generasi terbaru."
Mendengar itu, wajah sang Letnan mendadak pucat.
***
Diu sedang asik bermain air dengan Roni. Diu mengajak Roni ke tepi sungai yang mana Diu bercerita, itu tempat favoritnya. Sungai berbatu di pinggir hutan di mana dia tinggal.
"lihat, bening sekali kan airnya?" ucap Diu bersemangat. Roni pun berseri-seri.
"Iya Diu, aku jadi pengen mandi, apa kamu juga suka mandi di sini?"
"Itu tujuanku ngajak kamu ke sini. Ayo, kita main air!" ucap Diu sambil meloncat duluan. Diu meloncat seperti anak monyet yang kegirangan. Tapi Roni membuka baju terlebih dahulu dan hanya menggunakan celana.
Baru saja keduanya bermain air, keduanya mendengar bunyi letusan. seperti bom dari kejauhan dan di atas mereka melesat beberapa jet tempur yang terbang rendah namun kencang. Sekilas bisingnya mengagetkan mereka.
"Wuih! Ada kapal perang! Itu ada lagi, cepat sekali yah," kagum Roni.
"Iya, bangsa kamu hebat, hehe! bisa membuat besi sebesar itu melesat di udara," timpal Diu.
__ADS_1
***
Ternyata jet-jet tempur itu adalah pasukan manusia setengah kera. Bukan hanya jet. tapi Airbus-airbus memuntahkan penerjun payung di atas gedung-gedung pemerintahan dan situs-situs penting. langit kota-kota besar di Indonesia jadi seperti kejatuhan putik putik bunga yang banyak sekali. Seperti hujan manusia jamur.
Bom-bom mulai di jatuhkan di keramaian publik, perlawanan mulai dilakukan manusia. Langit kota yang cerah indah pun segera menjadi ajang saling buru jet-jet lincah yang seperti burung-burung walet yang bertengkar dengan sesamanya.
Orang-orang sibuk melarikan diri, Jerry mulai sibuk melakukan siaran langsung.
***
Fani mendatangi tuan muda Hon yang kebetulan sedang bersama suaminya di ruang perawatan Dias cs.
"Baru saja saya akan bilang pada suamimu. Yah, kami memang tidak akan menghabisi umat manusia. Tapi kita perlu merebut satu tempat dan kita jadikan basis kekuatan.
"Bukankah ini sudah cukup sebagai basis-"
"Kau tidak mengerti, secara geografis dan geopolitik, negara kamu sangat strategis. Siapa pun yang mau menguasai dunia, harus menguasai dulu negaramu itu." Fani tak sepenuhnya mengerti apa maksud ucapan Hon itu.
"Nanti, setelah ada laporan manusia besi itu turun tangan, baru aku ajak suamimu untuk menghadapinya."
"Secepat ini???" pikiran Fani seakan pecah dan berserakan sudah isi kepalanya. Sepertinya mimpi buruk Taupan segera menjadi kenyataan. Fani jadi ketar-ketir sendiri.
__ADS_1
Taupan sendiri pun merasa kaget dan seolah hanya dibutuhkan tenaganya saja. Bagaimana tidak, dirinya tidak diberitahu dari awal ihwal penyerangan ke tanah kelahirannya itu. Bimbang dan kecewa mulai merambati hati Taupan.
"Kenapa? Kenapa kalian langsung melakukan penyerangan," tanya Taupan. Taupan sadar dirinya orang bodoh yang bahkan tak pernah sekolah. Tapi urusan hati, siapa pun pasti tersinggung kalo negaranya, tempat tinggalnya diacak-acak secara tiba-tiba.
***
"Di setiap perebutan kekuasaan pasti ada korban dan pahlawan yang harus berjuang. Kau pahlawannya Taupan.
Jangan sampai kebersamaan kamu yang selama ini hidup diantara manusia, menjadikanmu lupa pada siapa dirimu yang sebenarnya. Kejayaan kita sudah di depan mata. Bersiaplah," ucap Hon. Otak Taupan mendidih dibuatnya. Ia ragu, ia kasihan pada manusia, ia bingung, ia takut si Jamin dan keluarganya terkena peluru nyasar, ia takut pada keluarga barunya, mertuanya yang sudah tua.
"Jangan sampai mereka menjadi korban," ucap Taupan pada Fani.
"Ibu, ibumu suruh ke tempat aman,"
"iya, iya sudah," angguk Fani.
Dias yang sedari tadi mendengar pembicaraan Fani dan Hon. akhirnya angkat bicara. Dias mendekat dengan tubuh berbalut perban.
"Kapan kami ambil bagian?"
"Sabarlah saudaraku, setelah kalian sembuh total dan koalisi bangsa manusia mulai melawan. Saat itu, barulah kita hadapi dengan kekuatan penuh.
__ADS_1