Dewa Terakhir

Dewa Terakhir
Undangan


__ADS_3

Pagi masih lah samar dan embun masih betah di ujung daun ketika sebuah ketukan pintu membangunkan Wiwik.


TOKK! TOKK!!!


"Sapa sih pagi-pagi begini?" gumam Wiwik. Tidak lama kemudian Wiwik pun melepaskan diri dari pelukan kekasihnya yang masih pulas.


Perlahan Wiwik bangkit dan setelah sampai pintu depan, ia mengintip dari lubang pintu khusus.


Tampak dalam corong tatapan Wiwik dua orang pria tinggi besar. Kontak Wiwik kaget dan jadi berpikir, Jangan-jangan debt kolektor nih.


Tok! Tok!!


Kembali tamu tak dikenal itu mengetuk pintu. lebih keras kali ini. Hampir jantung Wiwik copot di buatnya.


"Siapa?" teriak Wiwik dari dalam.


"Ibu Wiwik, Buka saja dulu, kami membawa kabar gembira buat ibu," jawab salah satu orang asing itu. Wiwik pikir, kabar baik macam apa yang dibawa dua orang berwajah seram itu(?). Wiwik pun membuka pintu dan menghadapi tamu itu dengan percaya diri.


"Ibu Wiwik, ini. Orang yang mengirim kami untuk menjemput Ibu mau bicara," ucap pria yang satunya lagi sambil menyodorkan sebuah handphone.


***


Jamin sedang menjemur padi ketika sebuah mobil hitam sejenis mini bus berhenti tepat di muka rumahnya. Sumirah yang sedang mengupas bawang tertarik perhatiannya dan melongok dari jendela tanpa kaca. Sumirah heran, begitu juga dengan Jamin.


Dua orang pria tinggi besar berkacamata hitam turun dari mini bus itu dan menghampiri Jamin. Sumirah jadi kecut dan beringsut menyembunyikan wajahnya. Hanya nampak rambut kusut, jidat dan matanya saja.

__ADS_1


"Dengan pak Jamin?" ucap salah satu pria asing itu. Jamin jadi seperti seorang yang hendak ditagih hutang. lututnya pun bergetar.


***


Langit terik dan perkampungan yang damai Akri lalui bersama Samsul. Keduanya adalah petugas catering.


"Baru kali ini Bang, saya nganter perabotan sampai ke pelosok desa begini," aku Samsul pada Akri yang sedang serius nyetir disampingnya.


" Lha sama Sul, coba lihat lagi alamatnya. Bener kagak nih?"


"Tadi Abang denger sendiri menager kita telpon."


"Aneh," Gumam Akri. Akri mengendarai mobil box jumbo ELF dan di belakangnya mobil truk dan minibus mengikuti. Rombongan mobil Catering itu seperti tersesat masuk hutan.


***


"Kau gagah sekali kawan," ucap Dul Karim yang turut merasakan kebahagiaan. Sebentar lagi teman barunya itu akan melangsungkan resepsi pernikahan.


"Masih seperti mimpi," ucap Taupan sambil menyisir rambutnya.


"Oh iya, apa sahabat saya sudah datang?"


"Masih diperjalanan,"


***

__ADS_1


Sumirah dan Jamin tampak sedang berebut ide, bagaimana menyalakan televisi di dalam minibus itu. kursi penumpang dan supir tertutup. Begitu pula kaca samping. Sumirah dan Jamin jadi seperti berada dalam kotak hitam.


"Nih ini! Coba tekan tombol ini," tukas Sumirah yang tampak frustasi.


"Udah! Nih! Tuh lihat! yang keluar bacaan doang," jawab Jamin dengan nada sewot.


"Mana dingin banget ini?" Sumirah menggerutu,


"Nanti kalau sudah sampai kerokin Sumi ya Bang?"


"Malu-maluin aja Luh! Sini Abang peluk aja. Hehehe. Biar anget. Udah gak usah stel tv, ribet.


***


Sesampainya di villa, Wiwik dan kekasihnya langsung di giring menuju sebuah kamar.


GLEK!!!


Pintu terbuka dan senyum Fani menyambut Wiwik.


"Astaga Fani? Kamu kemana aja," ucap Wiwik langsung memeluk sahabatnya itu. Ternyata ibunya Fani sudah ada di situ.


"Eh ibu, sehat Bu?" setelah puas melepas kerinduan, Wiwik lanjut menyalami ibunya Fani yang lantas tersenyum.


***

__ADS_1


Mini bus yang ditumpangi Jamin dan Sumirah masuk halaman parkir dan tidak lama kemudian berhenti setelah posisinya rapi berderet dengan mobil-mobil yang lain.


Seorang petugas pun membuka pintu samping belakang. Begitu pintu dibuka, Tampak Jamin sedang mengenakan celana dan Sumirah sedang mengancingkan baju. Keduanya sontak kaget dan wajah keduanya merah padam, malu bukan kepalang.


__ADS_2