
Sesampainya di rumah, Didan langsung menuju kamarnya dan menangis di situ. Seperti seorang bocah kecil yang sedang ngambek karena tidak dibelikan mainan yang diminta atau seperti anak kecil yang ditinggal pergi kondangan oleh kedua orangtuanya.
Kemala jadi merasa canggung sendiri. Ia duduk sendiri di ruang tamu. Sopa yang nyaman, rumah yang asing, hidup sebatang kara. Kemala Merasakan ada yang aneh dalam hatinya. Seberapa lama pun jaman berlalu. Manusia tetaplah manusia. Hubungan yang tidak harmonis dengan orangtua seperti yang ia alami dengan ayahnya. Sepertinya juga dialami Didan.
Dalam sepi yang redup dan keram. Kemala memberanikan diri melebarkan pintu kamar Didan.
Pemuda cengeng dan konyol itu sedang duduk termangu dilantai bersandar pada kasur. Didan sudah tidak menangis dan mengetahui kedatangan Kemala. Tapi Didan tak bergeming dan asik dengan hatinya sendiri yang sedang sakit.
Kemala perlahan duduk dekat-dekat dengan Didan.
"Aku selamat dari perang besar dan bencana itu karena aku kabur dari istana," cerita Kemala pada kesunyian hati Didan.
"Karena aku mengikuti hati yang tidak setuju dengan keputusan tradisi sayembara. Mungkin kau bisa bayangkan, bagaimana rasanya duduk di hadapan puluhan pangeran yang sedang beradu tanding demi menjadi pemenang. Aku duduk disitu, di hadapan mereka tak ubahnya aku ini sebuah piala. Hatiku berontak dan akhirnya aku putuskan kabur dari istana dan mencari seorang yang baru aku kenal di luar istana," cerita Kemala di selingi senyum tipis. Ada hati lucu pada kelakuannya dulu. Didan jadi tertarik dan menyimak cerita Kemala.
"Hanya seorang pemuda pasar biasa. Tapi entah kenapa, omongannya, kelancarannya yang tidak seberapa itu mampu membuat seorang putri Istana kabur dari Gemerlap dunia. Seorang putri sepertiku yang seumur-umur tidak pernah merasa hidup susah berhasil mengambil keputusan untuk meninggalkan semua yang ada dan mencari dirinya. Ternyata, aku bertemu dengannya di tengah jalan. Rupanya ia menonton sayembara dan begitu Patih kami kalah ia pulang membawa kecewa. Akhirnya kami pulang satu perahu, kami duduk dekat-dekat. Entah kenapa, waktu itu aku merasa nyaman sekali. Padahal ia rakyat biasa dan tidak bisa apa-apa kalo aku dalam bahaya. Tapi rasa nyaman itu, ah. Aneh sekali." Sampai di situ, Didan merasa cemburu sekaligus lucu. Ternyata Kemala juga manusia biasa. Bahkan seperti ABG yang sedang curhat dengan sobat karibnya tentang cinta pertama.
"Musuh kemudian berdatangan. Kami tidak sanggup melawan dan akhirnya kami putuskan menyelamatkan diri. Dia membawaku ke bukit tertinggi. Genggaman tangannya begitu erat dan saat aku menatap matanya yang mengkhawatirkan diri ini, Sungguh, itu membuatku merasa aman dan nyaman. Padahal anak panah yang melesat seperti hujan siap merenggut nyawa ini di setiap jengkal langkah, padahal batu-batu yang terlontar dan lahar panas siap menghanguskan tubuh ini dalam sekejap. Tapi tatapan perhatiannya, perlindungannya berhasil menyingkirkan ketakutan akan kematian."
__ADS_1
"Apakah dia selamat?" sela Didan yang sudah melupakan kesedihannya dan kini seratus persen tertarik dan larut dalam cerita Kemala.
"Tidak, dia tidak selamat. Dia menyelamatkan aku, tapi dia sendiri yang tidak selamat. Ia tertimpa Batu, punggungnya remuk. Kasihan sekali, ia sangat kesakitan dan aku ingin sekali menanggung rasa sakit yang dialaminya. Biar rasa sakit itu terbagi. Di akhir hayatnya ia bercerita tentang cita-citanya. Ia tahu keberadaan bukit tertinggi itu karena ia adalah seorang pendaki. Ia bercita-cita ingin membawa seorang kekasih ke puncak bukit itu. Ia tidak tahu, aku sudah bersedia jadi kekasihnya. Cita-citanya terlaksana tepat sebelum ia menghembuskan napas terakhir." Dramatis sekali Didan pikir.
"Ini kalo difilmkan pasti bagus," pikir Didan.
"Dia mati dengan wajah tersenyum dalam pelukan pertama dan terakhir dari kekasihnya ini," kenang Kemala dalam ketenangan suasana. Setitik air berlinang dari sudut matanya dan buru-buru ia hapus. Ia hanyut sendiri dalam ceritanya sendiri.
"Kamu bohong," ucap Didan, "Di awal-awal kamu bilang kamu belum pernah dekat dengan seorang pria,"
Didan terlihat ngambek. Tapi bagi Kemala, wajah Didan tampak menggemaskan ketika menampilkan wajah ngambeknya itu.
Didan terkesiap dan sadar. Sungguh tidak pantas ia cemburu pada seseorang yang telah berkorban jiwa dan raga.
"lalu," tanya Didan membuat Kemala bingung.
"Lalu apanya?"
__ADS_1
"Maksudku, lalu bagaimana perasaan kamu padaku," ucap Didan dengan tatapan yang tersemat. Keduanya saling pandang dari posisi dekat.
"Astaga, cantik sekali kamu Kemala," pikir Didan.
Kecantikan yang menjadi penghalang untuk Didan menilai isi hati di balik wajah cantik itu. Didan ingat perkataan ayahnya. Hati-hati, semakin cantik seorang perempuan, maka ia semakin berbahaya dan semakin sulit ditebak isi hatinya.
"Apa kau percaya reinkarnasi?" tanya Kemala tiba-tiba dengan tatapan yang masih terpaut.
"Ah, entahlah," jawab Didan pelan, "apa maksudnya kamu menanyakan itu?"
"Sudahlah, tidak perlu dijawab. Itu tidak penting. Yang penting sekarang, kita bagaimana?" ucap Kemala dengan air wajah yang seketika memerah.
"Maksudmu?"
"Ih, sudahlah, aku mau ke dapur," ucap Kemala sambil seketika hendak bangkit. Tapi Didan segera menyadari sesuatu dan menangkap tangan Kemala. Kemala pun terdiam. Dalam erat genggaman itu ia merasakan kembali kehangatan dan rasa aman saat di genggam dan dibawa lari oleh si Raiman.
Kemala berpaling, bagaimana pun ia punya rasa malu dan menyembunyikan roman wajah yang tampil saat hasratnya meletup-letup.
__ADS_1
"Kemala," panggil Didan dengan suara pelan dalam keheningan. Perlahan Kemala menyibak rambut dan memberanikan diri menatap Didan. Ia sudah tidak kuasa menyembunyikan rasa.
"Aku sudah putuskan untuk menemanimu hidup abadi, aku akan membahagiakanmu, aku akan melindungi kamu walau akhirnya aku yang mati seperti pria dalam ceritamu tadi," ucapan Didan, tatapan Didan, genggaman erat Didan sungguh membuat Kemala luluh. Apalagi saat wajah pria polos itu mendekat, ia tidak hendak mengelak. Ciuman Didan pun mendarat dengan sempurna dan bunga mawar merah yang terawat indah di tepi telaga itu pun membiarkan lebah menghisap madu.