Dewa Terakhir

Dewa Terakhir
Menos


__ADS_3


Menos sedang menumbuk sejenis batuan alami berwarna ungu kebiruan. Bangsa manusia tidak ada yang tahu kalau ada sejenis batuan alami sejenis permata yang indah namun beracun(sejenis flourite). Menos adalah seorang pemuda dari bangsa Hobbit.


Mau tidak mau ia mengerjakan itu, semua pemuda dan penduduk kampung melakukan itu. Dalam hati dan pikirannya masih berkecamuk, antara tanggung jawab dan rasa enggan untuk turut serta dalam peperangan. Apalagi kalau ingat hari pernikahannya dengan Fionty yang semakin dekat. "Daripada dikucilkan dan dihukum seumur hidup di dalam goa setan," gumamnya dengan decakan malas. Keringat mengucur dari sekujur tubuhnya.


"Hai Nos! jatahku udah selesai nih, kau kapan?" tukas seorang sahabatnya yang juga menumbuk batu dari tadi sambil merapikan alat-alat kerja. Serbuk batu sudah selesai ia tumbuk, ia masukkan ke dalam kantong hitam dan siap masuk keranjang dan di dorong dengan gerobak oleh pengepul.


"Nih, satu lagi," jawab Menos lalu mengelap keringat.


"Sini aku bantuin," lanjut temannya itu.


"Ah tidak usah. Joup, kau juga ikut ke alun-alun Sayembara?" tatap Menos pada sahabatnya itu.


Ada tatapan iba di mata Menos, Joup sahabatnya itu mungkin Hobbit/kurcaci paling ceking yang pernah ada, tulang punggungnya pun tampak melengkung seperti lengkuas yang layu.


"Iya lah! Aku sudah siap, lihat ini," tukas Joup sambil mengeluarkan belati dan memainkannya, tapi tidak lama kemudian belati kecil itu jatuh dan hampir saja menancap di kakinya sendiri.


TRINNG!


"Eit! maaf maaf! tanganku licin, tidak begitu seharusnya," kilah Juop.


"Ingat, jangan jauh jauh dariku," ucap Menos sambil berdiri dan menepuk bahu Joup.


"Ini segera berakhir, kita pasti menang, harus!"


Tidak lama kemudian Menos pun selesai, menyerok abu batunya dan merapikan palu dan peralatan lainnya. Seorang Hobbit dewasa datang dan mengumpulkan serbuk- serbuk batu itu dari para pemuda, dari kampung-kampung Hobbit, dari hutan-hutan terjal habitatnya bangsa Hobbit.


Gerobak-gerobak mereka banyak dan menuju puncak bukit yang merupakan tanah lapang, di mana para tetua dan para Fartiyazed (pendeta atau ahli) sudah siap dengan kwali-kwali besar dan sedang meracik dedaunan. Serbuk batu itu sendiri adalah bahan pokok untuk membuat senjata mematikan atau racun yang akan mereka sebar di medan peperangan nantinya.


Layaknya sebuah hajatan besar, tua muda, pria wanita semuanya bahu membahu menyiapkan segala persiapan perang.

__ADS_1


Menos kini berjalan dengan Joup menuju rumah Fionty. Tubuh Menos memang lebih kekar dari Joup, tapi soal hati, Menos terlalu lemah Joup rasa.


"Hei, kau kenapa? Belum juga sampai ke rumah si Fionty, kau udah gemetaran begitu. Hehehe lucu sekali kau ini Menos,"


"Diam kau, ku jitak nanti," seru Menos.


Langit hitam tampak begitu berat, ditambah lagi asap dari pembakaran dipuncak bukit itu. Suram dan mencekam.


Tidak lama kemudian, kedua kurcaci dekil itu sampai di sebuah rumah. Rumah khas bangsa kurcaci, pintunya sekitar satu meter dan atapnya di penuhi rerumputan dan bunga.


TOKK! TOKK!!


"Siapa???" suara cempreng terdengar dari dalam.


"Ini aku," pekik Menos tanpa menyebutkan nama. Ia yakin Fionty sudah kenal suaranya.


Fionty pun membuka pintu dan tatapannya yang sayu segera terjatuh.


"Kau sakit?" ucap Menos, karena dilihatnya kekasih hatinya itu berwajah muram dan seperti terhalang mendung.


Tiba-tiba Fionty memeluk Menos dan menangis terisak di dada Menos.


"Sudahlah Fionty, sudah, aku pasti kembali," ucap Menos sambil melipur dan mengelus punggung Fionty yang bergetar.


"Hik!" Joup turut terharu, meski ia belum punya kekasih, tapi ia bisa merasakan, kekhawatiran sepasang kekasih yang sebentar lagi menikah itu. Joup berbalik dan berkata-kata dengan lantangnya, persis seperti orang kerdil kelaparan dan menghujat dunia.


"Kenapa kita harus berperang! Kenapa??? Kenapa kita tidak hidup berdampingan saja dengan manusia bahkan dengan raksasa! Kenapa!? kenapa kita harus berperang!!!" Orang-orang yang lewat menatap Joup dengan lemah. Mereka mengerti perasaan para anak muda yang tidak tahu apa-apa ternyata harus terlibat, bahkan di garis depan.


***


"Kudil!!! Kudil??? Dimana kamu nak?" teriak seorang ibu di tepi hutan dimana biasanya anaknya itu bermain di situ. Mandi di sungai atau main ayunan di dahan-dahan melengkung bersama teman-temannya.

__ADS_1


Hari semakin petang, hati ibu semakin khawatir.


"Bu! Bu Eja? Kudil belum pulang?" sahut seorang bapak yang kebetulan melintas di tepian sungai itu.


"Iya pak, aduh kemana yah, gak seperti biasanya."


"Sama, anak saya juga belum pulang, ayo kita minta bantuan warga, untuk mencari."


***


Di tempat lain, tepatnya di lereng bukit, para tentara Hobbit yang bersenjata lengkap. Tombak dan pedang, tampak sedang menggiring anak-anak manusia sepantaran mereka. Mereka banyak sekali, seperti anak-anak SD yang sedang melakukan penjelajahan saat Pramuka.


***


Seekor rajawali terbang meleset dari sudut arena sayembara menuju lokasi tujuan. Sebelum orang di abad pertengahan menggunakan merpati sebagai kurir surat. Orang di jaman Atlantis menggunakan rajawali sebagai pengirim pesan yang bisa di andalkan. Rajawali itu membawa pesan pada sang Ratu bahwa anaknya/pangeran Anggara berhasil mengalahkan Patih kerajaan Atlantea yang terkenal hebat dan sakti mandraguna itu.


Sebuah kebanggaan yang segera tersebar ke pelosok negeri pemenang. Bagaimana tidak, Kerajaan Atlantea itu adalah kerajaan terbesar di benua Atlantis, kalau sekarang seperti negara Amerika di benua Amerika itu sendiri.


***


Fionty naik ke atas bukit, para Hobbit tidak kesulitan untuk menjangkau tempat yang tinggi, mereka punya alat serupa sayap capung yang sudah di sihir dan bergerak dengan perintah hati si pemakai.


Fionty terbang sendiri, seperti peri yang tersesat di hutan tak berpenghuni. Ia menuju bukit lapang terdekat dan berharap bisa melihat keseruan perang di kejauhan.


Ini hari ke empat sejak semua pria dan pemuda bangsa Hobbit pergi berperang.


"Aku pasti pulang sayang, kau lihat pedangku yang sangat tajam ini dan ini, ini ajimat pemberian ayahmu. Aku pasti kembali. Tunggu aku di sini saat pagi yang cerah dan aku dengan gagah akan datang memelukmu. Kita akan segera menuju pelaminan. Aku berjanji Fionty! Sudah Jangan menangis!"


Fionty ingat ucap terakhir kekasihnya itu sebelum menepisnya dengan berat dan berjingkat pergi bersama si Joup.


Fionty sudah sampai puncak bukit dan tampak seorang Hobbit tua sedang bersemedi. Seperti yang ayahnya ceritakan, di setiap kampung diharuskan ada seorang tetua yang mumpuni ilmu telepatinya untuk menerima kabar kemenangan atau kekalahan. Perang yang sangat besar yang tidak pernah Fionty bayangkan, bahkan di kampungnya, hanya tersisa ibu-ibu dan anak-anak dan seorang tua penunggu pesan.

__ADS_1


Fionty tidak hendak mengganggu orangtua itu. Ia berjalan sampai ke tepi jurang dan di tatapannya langit yang hitam seperti comberan bergulung di satu sudut bumi.


"Di sana, yah, di sana." Ayahnya, saudara lelaki satu-satunya dan Menos sedang bertaruh nyawa. Desir Fionty membatin, dan tanpa sadar air matanya kembali menitik, perasaannya sungguh gamang dan khawatir.


__ADS_2