
Seorang Rustam sedang termangu di beranda rumahnya yang baru saja disegel. Tubuh Rustam lunglai dan lusuh. Di samping, di atas teras meja tamu butut berserakan surat-surat hutang. Otak Rustam buntu. Boro-boro melunasi hutang, pekerjaan pun sekarang ia tidak punya. Istrinya minggat membawa kabur kedua anaknya yang masih kecil-kecil. Lengkap sudah penderitaan Rustam. Terbesit dalam benak Rustam untuk mengakhiri hidup, ia pun bangkit dan mencari tali untuk gantung diri. Seperti properti yang sudah disediakan oleh sutradara, Rustam langsung menemukan tali tambang.
Hari sudah petang dan dunia begitu suram. Di mata Rustam dunia seakan siksa dan hanya kematian yang bisa menjadi obatnya.
Tali sudah tergantung di kayu atas dapur yang belum di plafon dan Rustam sendiri sudah naik di atas kursi plastik.
Seorang Yanto datang ke rumah Rustam itu. Baru saja mau mengetuk pintu, Yanto mendapati pintu depan menganga dan tak dikunci.
"Tam? Rustam? Kamu ada di rumah?" ucap Yanto sambil melebarkan pintu dan celingak-celinguk ke dalam.
"Astaghfirullah!!! Tam, Rustam!!! Apa-apaan kamu!!!" pekik Yanto spontan. Sungguh kaget mendapati karibnya itu sedang kelojotan di dekat pintu dapur. Dengan sigap Yanto menahan kaki Rustam dan menurunkan Rustam yang hampir mati dan sudah lemas.
"Biarin gua mati To! Biarin!!! Gua pengen mati!!!"
"Nyebut Tam! Nyebut!!!"
__ADS_1
"Gak ada gunanya lagi gua hidup! Hik!!" Rustam yang hampir mati kini menangis seperti bocah ingusan. Merengek dan mendengus memeluk karibnya itu.
"Iya, iya, gua juga ngerti masalah yang kamu hadapi. Tapi gak gini caranya Tam," ucap Yanto melipur Rustam.
"Ngapain lu ke sini? Biarin gua mati!!!" Rustam menangis meraung-raung.
"Aku tahu cara supaya kamu bisa ngelunasin hutang-hutang kamu itu," ucap Yanto dengan nada yang meyakinkan.
Setelah bosan menangis dan mulai tenang, Rustam menatap karibnya itu dengan tatapan penuh tanya.
"Sekarang juga, kita cabut. Nanti aku jelasin sambil jalan."
Ternyata cara cepat mendapatkan uang yang Yanto maksud adalah memelihara tuyul.
"Gua takut, percaya aja kagak," kilah Rustam saat sudah di dalam bis. Rustam sudah tidak punya uang sepeser pun. Bahkan tadi magrib, makan di warteg pun Yanto yang traktir. Sekarang ongkos pun Yanto yang jamin.
__ADS_1
"Kamu tahu juragan Burhan?" tanya Yanto.
"Ya tahu lah, siapa yang gak kenal sama juragan kontrakan. Dia Bos lu kan?," jawab Rustam.
"Maksudnya, kamu tahu gak darimana ia dapat modal banyak buat beli tanah dan bangun kontrakan?" lanjut Yanto. Sejenak Rustam berpikir.
"Ia juga yah, padahal warisannya udah habis buat kawin cerai kawin cerai. Maksud lu dia melihara Tuyul gitu?"
"Sttt!!! Iya, cukup tahu aja. Makanya aku sekarang mau bantu kamu, udah diem. Percaya sama aku."
Rustam pun terdiam dengan angan yang melayang-layang. Belum apa-apa ia sudah membayangkan kalo ia bergelimpangan harta. Tidak perduli kalo uang itu hasil nuyul, ia akan kawin lagi dengan seorang gadis cantik, membeli rumah mewah, mobil mewah dan segala-galanya yang serba wah.
Perjalanan yang jauh, tatapan Rustam yang jauh di balik bis kota yang melesat menuju luar kota.
Yanto sudah tertidur. Tapi entah kenapa, Rustam belum bisa memejamkan mata. Padahal tadi kondektur bilang perjalanan ini bisa memakan waktu 5 jam. Itu pun kalau tidak terjadi kemacetan di jalan tol.
__ADS_1
Kalo benar apa yang dikatakan Yanto, bersyukur sekali ia punya karib seorang Yanto. Perjalanan jauh, hati yang melenguh.