
Taupan kembali bermimpi. Dalam mimpinya ia melihat ke belakang dan barisan prajurit berjejer rapi di sana, di tanah terjal yang gersang. Dari pasukan manusia setengah kera, kaum Rawarontek, bangsa Hobbit dan manusia-manusia berjiwa Raksasa. Jiwa atau nyawa bangsa Raksasa dalam artian yang sebenarnya. Taupan bisa melihat arwah para raksasa atau kekuatan para raksasa melekat di tubuh-tubuh prajuritnya
Mimpi itu terasa nyata sekali bagi Taupan. Bahkan ia bisa mencium aroma kebencian bau amis darah dan debu usang yang berterbangan.
Tidak lama kemudian Taupan terjaga.
Malam yang panjang. Sepi dan diam. Dunia yang karam.
"Hoss! Hoss!!!"
***
"Dul Karim mereka bawa, Gani dan Taupan ada di pihak mereka," ucap letnan Anwar. Wajahnya jelas menampakkan kekhawatiran yang besar.
"Sekarang juga kita harus antisipasi, kita bagi tugas. Saya sendiri yang akan memimpin pasukan untuk mendatangi lokasi kawah Candradimuka dan kamu Gugun, kamu di sini bersama komandan lapangan yang baru. Oh iya, Bondan dan tuan Putri, sebaiknya ikut saya ke lokasi kawah Candradimuka," ucap letnan Anwar. Bondan tampak bersemangat dan hendak mendekati letnan Anwar. Tapi Kemala menahannya.
"Maaf Pak, kami memilih untuk tetap di sini. Di sana kami tidak bisa banyak membantu. Tapi di sini, saya dan Bondan bisa membantu menentukan lokasi penggalian.
__ADS_1
"Ya sudah, jaga diri kalian baik-baik. Nugroho, ayo!"
"Siap Pak!"
"Pak, kalo boleh tahu, lokasi kawah Candradimuka itu di mana pak?" tanya Bondan dengan antusias.
Letnan Anwar menghentikan langkahnya dan menoleh.
"Di kutub Utara, apa tebakan kamu benar," ucap letnan Anwar lalu melanjutkan kembali langkahnya.
"Kutub Utara?" gumam Bondan penuh heran.
***
"Saya tidak habis pikir, bagaimana mulanya kekuatan itu bisa membuat seseorang tidak bisa di lukai. Aku kira semua ini hanya mitos," ucap tuan muda Hon.
"Ceritanya panjang Tuan, hehehe!" jawab Gani.
__ADS_1
***
Peter menyalakan cerutu dengan wajah penuh heran. Seorang staf nya sedang sibuk menghitung order di hadapannya.
"Orang gila macam apa yang memborong semua senjata yang kita punya," tanya Peter dengan mulut ngebul penuh asap.
"Entahlah Bos, seperti biasa, paling juga mereka pemberontak."
Peter adalah makelar penjualan senjata api dan bom di pasar gelap. Peter berdiri dan menghampiri jendela kaca. Di luar, di halaman luas menuju dermaga. Puluhan kontainer berisi senjata dan bom sedang di pindah-pindahkan dengan alat-alat berat.
***
Sementara itu, Di tempat yang jauh. Seorang Dias sedang termangu di dalam sebuah ruangan usang. Tampang Dias yang dulu segar dan suka berpenampilan necis seperti pekerjaan kantoran kini berubah 180 derajat.
Tubuh Dias kurus, matanya merah dan berat. Dias mengalami gangguan jiwa sejak Teo, sepupunya itu hancur berserakan seperti jeroan binatang di depan mata kepalanya sendiri.
Saat begitu, saat sepi sendiri di pojok ruangan pasien rumah sakit jiwa. Sesosok Raksasa menampakkan diri di hadapan Dias. Awalnya seperti asap hitam yang datang dari segala penjuru dan lambat laun bergulung-gulung dan menjadi wujud raksasa. Satu jari kakinya sebesar paha manusia dewasa dan tubuhnya yang terlampau tinggi menembus plafon ruang yang tingginya cuma tiga meter. Jadi sosok raksasa itu hanya tampak dari kaki sampai pinggang.
__ADS_1
Dias kembali histeris, ia berteriak-teriak dan itu jelas memancing perhatian para perawat. Para perawat berdatangan dengan cepat. Dias yang kalap sendiri segera diringkus untuk disuntik penenang.
***