
Untuk kali pertamanya, tuan muda Hon melakukan konferensi pers yang ditayangkan ke seluruh dunia berdasarkan kesepakatan bangsa bangsa yang memberikan kesempatan untuk menjelaskan segalanya. Seluruh dunia jadi heboh dan orang-orang seperti tidak ada topik lain untuk dibicarakan selain soal bangsa penakluk yang baru muncul kepermukaan. setelah penyerangan besar-besaran dan berpusatnya bangsa manusia setengah kera di negara kepulauan terbesar di dunia. Indonesia. Ya, Indonesia jatuh dengan mudah, di saat resesi dan suhu politik yang panas menjelang pemilu, saat semua orang sibuk dengan golongannya masing-masing, saling fitnah, saling hujat, saling menjatuhkan. Saat semua berpesta menghamburkan uang, saat satelit pertahanan saja dikorupsi, saat itulah, ratusan jet tempur dari segala penjuru dan kapal selam menembus perbatasan seperti buaya-buaya lapar yang menyerbu bersamaan dengan elang-elang bermata api yang siap menghancurkan dengan kilatan cahaya tepat sasaran.
Pertama dalam sejarah modern, manusia dibuat bersiap mendengarkan pidato resmi dari seorang pemimpin dari mahluk cerdas lain yang ternyata benar-benar ada.
Semua layar telah menyala. Town square sudah penuh dengan mata-mata manusia yang lapar penjelasan. Manusia seperti mengheningkan cipta dan berkumpul seluruhnya menghadap layar televisi.
Tuan muda Hon berpidato dengan bahasa internasional (Inggris Amerika) dengan background jajaran bendera-bendera semua negara yang ada di dunia ini.
"Hari ini, kalian, bangsa manusia kami persilahkan mencatat sejarah. Kami, kami yang selama ini bersembunyi dan berusaha keras mempertahankan bahkan memperbaiki keseimbangan alam yang kalian rusak. Kami sudah muak dan mau tidak mau, kami harus mengambil alih kendali. Ini demi kebaikan kalian juga, demi kelangsungan hidup kalian juga. Kalian harus menghentikan pengambilan minyak mentah yang kalian sebut bahan bakar fosil itu. Kalian tidak tahu apa yang akan terjadi jika kekosongan di dalam tanah dan gasnya kalian juga ambil. Kalian tidak tahu itu penyebab ambruknya banyak daratan dan banjir besar di masa lalu yang hampir memusnahkan kita semua. Kalian tahu, dulu daratan dan lautan jumlahnya sama. Tapi sekarang? kalian juga tahu sendiri perbandingannya. Daratan sudah berkurang banyak sekali.
Jadi inti dari semua ini adalah, Kami adalah penyelamat bumi, penyelamat kalian juga. Kami mohon, hentikan pengrusakan itu. Atau, atau kami paksa kalian untuk menghentikannya. Selain itu, kami juga mengharuskan kalian hentikan produksi nuklir dengan alasan apapun, kalian harus musnahkan semua nuklir kalian di luar angkasa. Percayalah, itu hanya akan jadi bumerang. Kalian juga harus menghentikan industrialisasi dan memperbudak bangsa kalian sendiri. Hentikan produksi alat sekali pakai. Karena itu hanya menumpuk sampah dan menyiksa saudara-saudara kita yang ada di lautan."
"Omong kosong macam apa ini?!" ucap presiden Amerika yang mulai tampak gusar dan tidak nyaman dari duduknya. Para senator dan menteri pun demikian.
__ADS_1
"Maaf Mr. Presiden, mereka sepertinya tidak main-main. Laporan terbaru menyebutkan, semua senjata di Balkan dan gudang-gudang penyimpanan lain di seluruh dunia banyak yang berhasil mereka curi."
"Termasuk 50 jet tempur kita," tambah menteri pertahanan.
Mendengar itu wajah sang Presiden mendadak pucat.
"Hubungi semua sekutu kita, Aku mau tele konferensi sekarang juga."
"Apa tidak sebaiknya kita simak pidatonya sampai selesai?" Hela menteri pertahanan.
***
Di dalam gudang emas, Gani sedang terkekeh sendiri, bahagia sendiri. Ia ingat betul, bagaimana awal mulanya ia putuskan meminum air keabadian itu dan menghadapi Rima Dedawa.
__ADS_1
"Gani! Apa yang kau lakukan di sini?" Gani pun terkesiap. Cawan suci yang airnya sudah tandas ia minum masih dalam genggaman. Sejenak Gani terkesima. Tapi ia kemudian menjadi tenang dan tahu apa yang harus ia katakan dan lakukan. Karena memang ini adalah keputusan matang.
"Maaf yang Mulia, yang Mulia sendiri hidup abadi. Kenapa yang mulia bertanya pada saya apa enaknya hidup abadi. hehehe..."
"Kamu?"
"Yang mulia, sekarang kita sudah sama sama menjadi dewa, jujur saja, sebenarnya berapa jumlah selir yang Mulia? Tepatnya berapa banyak emas yang kita miliki? Sesering apa bermain dadu?? Apa yang Mulia pikir ada surga yang lebih baik dari dunia ini??? Hehehe!"
"Kamu salah Gani, kamu salah!"
"Ini bukan soal salah atau benar yang Mulia? Ini soal pilihan dan apa yang harus saya lakukan dengan pilihan itu? Maaf yang Mulia, saya undur pamit, tidak mungkin di satu singgasana ada dua raja."
WUSSS!!!
__ADS_1
Setelah berucap demikian Gani melesat, hilang dari hadapan sang Raja.
Kini Gani masih terkekeh-kekeh di atas tumpukan emas. Setelah ribuan tahun, seperti tidak ada kata puas dan bosan.