
Nugroho sedang terlibat perbincangan sengit dengan dua orang rekannya dan seorang jenderal polisi di dalam ruang kerjanya ketika petugas yang menerima laporan Didan itu datang dan langsung membuka pintu.
"Maaf, ada kabar penting untuk divisi rahasia," ucap polisi itu menyela perdebatan Nugroho.
"Maaf Pak, Kami sedang sibuk, cepatlah ada apa?" kilah Nugroho.
"Seseorang melaporkan ada penyerangan ke wilayah hukum kita dan soal penculikan seorang profesor di Miami."
Mendengar itu, Nugroho jadi tertarik. Bagaimana tidak, ini kasus yang sedang ia tangani.
Nugroho pamit pada jendral dan langsung bergegas keluar.
"Siapa dia?" tanya Nugroho kembali.
"Dia anaknya Professor yang hilang itu,"
Tidak lama kemudian, Nugroho pun sampai ke ruangan dimana Didan dan Kemala berada.
Nugroho ingat, ternyata orangnya adalah muda-mudi yang tadi bersenggolan dengannya di gerbang masuk.
"Saya Nugroho, saya petugas khusus yang menangani kasus penculikan Professor. Maaf kami belum berhasil menemukan Professor," ucap Nugroho lalu mengulurkan tangan.
Setelah berjabat tangan, Didan merasa lega. Akhirnya ada polisi yang antusias bahkan sedang menangani kasus penculikan itu.
"Ayah saya selamat, cuman sepertinya beliau dalam bahaya."
__ADS_1
Nugroho duduk dan polisi tadi hanya berdiri. Dengan sopan, Nugroho pun menyuruh polisi tadi untuk keluar ruangan.
"Maaf, Pak, biar saya yang tangani. Terima kasih,"
"Jangan sungkan, semoga kasusmu segera beres," ucap polisi itu kamudian beranjak keluar ruangan.
"Maaf, sebelum kita bicara lebih jauh. Maaf, saudari ini siapa?" sopan Nugroho ke arah Kemala.
Sejenak Didan dan Kemala saling pandang. Tatapan keduanya seperti sebuah perundingan tanpa kata. Antara jujur atau berbohong saja soal status Kemala itu.
"Saya Didan dan ini, tunangan saya, namanya Kemala," yang menjawab Didan.
"Saudara Didan anak dari Professor Himawan. Pasti saudara tahu banyak, Jujur saja, kami sudah tahu kita sedang menghadapi siapa," ucap Nugroho.
Didan pun mengerti, kemana arah pembicaraan polisi muda itu. Pelan-pelan Didan pun menjelaskan apa yang ia ketahui dan siapa Kemala yang sebenarnya. Mereka terlibat perbincangan panjang.
***
"Ini Pak, ada balasan!" tukas si bapak pemilik rumah yang handphonenya dipakai untuk menghubungi Nugroho itu.
Taupan langsung tertarik, begitu juga Dul Karim.
"Apa katanya?" tanya Taupan.
"katanya, kalian coba negosiasi, sebelum bantuan datang dan terjadi peperangan."
__ADS_1
"Sial!" Taupan bangkit dari duduknya sambil berkacak pinggang. Andai saja tidak ada Fani di sana, mungkin ia sudah menghajar penjahat-penjahat itu.
"Sekarang bagaimana Dul?"
"Mau bagaimana lagi, ayo kita ke sana lagi. Kita datang baik-baik. Ayo, sambil jalan aku pikirkan, apa yang harus kita katakan pada mereka," jawab Dul Karim.
Dengan enggan, keduanya pun beranjak.
***
"Pak Tua, kau belum jawab. Siapa manusia berpakaian logam itu?" todong tuan muda Hon pada Gani yang sedang duduk lunglai. Gani, letnan Anwar dan Professor Erwandi di sekap di sebuah ruangan di dalam situs purba itu yang baru selesai direkonstruksi.
Gani baru saja menghabiskan makanannya. Sepotong biskuit dan segelas kopi.
"Sudah ku bilang, kami tidak tahu. Mungkin dia hantu penunggu hutan."
"Cukup basa-basinya pak Tua. Sepertinya kau sudah bosan hidup," kesal Hon sambil perlahan menarik pelatuk.
"Dia Keturunan kerajaan langit. Dia penunggu hutan ini!!!" Teriak Gani. Mendengar itu Hon seperti menemukan sesuatu dalam ingatannya.
"Kerajaan langit," gumam Hon.
"Tidak mungkin, kerajaan langit itu dongeng," gumam Hon sambil berpikir keras. Mau tidak mau dia jadi berpikir. Karena ia melihat sendiri, manusia berkostum logam itu bisa melontarkan segulung api dan menghancurkan pesawatnya. Ingat ke situ, hatinya jadi ngeri. Persis seperti hikayat-hikayat yang sering ia dengar dari para tetua. Prajurit terbang, Kerajaan di atas awan, kekuatan ajaib dan sebagainya.
"Maaf tuan Muda, ada dua manusia yang datang dan mau bertemu dengan Tuan," ucap seorang prajurit yang datang tergesa.
__ADS_1
Dalam hati letnan Anwar punya keyakinan, Dua manusia yang dimaksud adalah Taupan dan Dul Karim.