Dewa Terakhir

Dewa Terakhir
Seorang Ksatria


__ADS_3

Diu sampai di mulut goa, ia disambut oleh Vinvin.


"Kamu kemana saja, Mpoh sangat khawatir," ucap Vinvin.


"Aku habis dari balai desa," jawab Diu dengan napas masih memburu.


"Cepat sana, Mpoh menunggu kamu."


Diu pun beranjak diikuti Vinvin.


Tampak kakek Empoh sedang sendirian dengan tatapan gamang ia menyambut cucu kesayangannya itu.


"Ada apa Kek?" polos Diu dengan mata bulat yang bening.


"Ini, cerita kakek yang belum selesai itu, hanya kamu yang bisa meneruskannya," ucap kakek Empoh sambil menyerahkan sebilah kunci perak yang sudah sangat usang.


"Ini? Ini apa Kek?" Diu tak mengerti.


"Kakek buyut kita adalah salah satu Ksatria pemegang kunci kitab itu," ucap sang Kakek membuat Diu terheran-heran.


"Benarkah?!!!"

__ADS_1


"Dan ini salinan peta dari generasi ke generasi," lanjut sang Kakek sambil menyerahkan segulung kulit yang memuat garis-garis dan huruf-huruf yang asing.


"Tapi?" Diu merasa ragu dan pesimis.


"Menyedihkan sekali nasib bangsa kita Diu. Dari dulu, dari generasi ke generasi, masing-masing pemegang kunci berpencar dan saat kembali tidak ada yang berhasil menemukan kitab itu. Setelah perang besar dan bencana, keadaan bumi sungguh berubah total. pulau-pulau terbelah, bahkan banyak daratan besar yang jatuh dan keram di dasar lautan. Ini, Kakek tidak memaksamu untuk pergi dan mencari kitab itu. Tapi Kakek hanya meneruskan tradisi, Kamu yang banyak ingin tahu dan pintar. Hanya kamu yang Kakek rasa pantas untuk menerima ini. Ini, terima lah."


Perlahan, dua benda usang itu berpindah tangan. Dari tangan tua renta keriput, berpindah ke tangan mungil dan lemah.


"Mereka sudah datang, kita tidak sendirian. Bangsa manusia setengah kera sepertinya sedang melancarkan balas dendam pada bangsa manusia. Kalau sampai mereka menang. Kita tidak aman lagi."


Diu hanya menyimak, memegang kunci dan peta itu dengan penuh haru. Seolah itu tanggung jawab yang sangat besar. Bagaimana tidak, kelangsungan hidup dan misi yang berat kini dipercayakan kepadanya.


"Kamu hebat Diu. Sekarang kamu seorang ksatria, hehe."


***


Selesai menguburkan Kemala, hujan turun membasuh wajah lusuh Didan. Didan bersimpuh, lelah dan letih tidak seberapa bila dibandingkan dengan rasa kehilangannya. Tapi bagaimanapun, ini sudah terjadi dan tak ada guna terus terusan disesali.


Didan pun bangkit, perlahan berbalik dan mulai melangkah.


Hujan semakin deras, anginnya semakin kencang dan sanggup mematahkan ranting-ranting kecil pepohonan.

__ADS_1


***


Sementara itu di gedung pemerintahan pusat. Tua muda Hon sedang berbicara di hadapan para petinggi negara yang berhasil disandera. Sungguh, ini seperti kudeta militer yang sangat mendadak berjalan lancar.


"Kami ambil alih negara ini. Terima kasih atas kerjasamanya. menyerah memang keputusan yang bijaksana. Kami juga tidak suka pertumpahan darah."


Hari-hari terasa suram, apalagi setelah kedatangan rombongan Dias. Bumi seolah menangis dan menjerit. Mendung di setiap ujung dan Guntur menggelepar seperti membawa sebuah kabar. Para jelmaan Raksasa telah datang.


Sementara itu, Dul Karim berhasil lolos dari kejaran para prajurit yang datang menyerang dan seolah tiada habisnya. Dul Karim merasa percuma melawan mereka. Banyak sekali dan sebelum tenaganya habis ia putuskan menghindar.


Kini ia pulang ke persembunyian keluarganya. Di lantai baseman sebuah gedung yang sudah dikosongkan.


"Kita mengungsi," ucap Dul Karim pada keluarganya.


"Mengungsi? mengungsi kemana?" tanya Ratih.


"Percaya sama Abang, Bos sudah menyiapkan segala sesuatunya. Nanti malam kita mulai bergerak keluar."


***


Letnan Anwar sudah sampai di markas rahasia dan langsung mengadakan pertemuan darurat dengan para petinggi militer yang tersisa. Markas terpencil di tengah hutan belantara.

__ADS_1


__ADS_2