
Seorang pria jangkung berwajah tirus turun dari pesawat khusus dan di sambut oleh seorang detektif senior.
Ini Amerika, dan pria jangkung itu adalah Nugroho seorang anggota divisi rahasia yang dikirim letnan Anwar untuk menyelidiki kasus hilangnya Professor Himawan.
"Selamat datang! Mari," ucap detektif senior itu dengan bahasa setempat, bahasa Inggris. Dan percakapan Nugroho seterusnya dalam bahasa Inggris.
"Perjalanan yang menyenangkan," sambut Nugroho sambil menjabat tangan detektif senior itu dan keduanya kemudian masuk mobil jemputan. Sedan hitam yang tampak kokoh dan kaca sampingnya dilapisi film dengan tingkat kepekatan yang maksimal.
Keduanya pun duduk nyaman bersebelahan di bangku belakang. Detektif senior yang memperkenalkan Diri sebagai Rick Clooney itu tampak tidak sabar dan segera menceritakan duduk perkara hilangnya Professor Himawan itu.
"Kami sudah mempunyai beberapa bukti dan tersangka. Tapi kami juga menemui kebuntuan."
"Maksudnya?" heran Nugroho.
"Pelakunya adalah salah satu staf laboratorium itu sendiri, jelas identitasnya ada. Namun ketika kami dalami, ternyata ia memalsukan identitas."
"Apa ada sampel rambut atau potongan kuku dari pelaku?" tanya Nugroho membuat Rick heran.
"Ya, sebentar lagi hasilnya keluar?"
"Kami mencurigai ada hal yang jauh lebih besar dari sekedar penculikan atau uang tebusan. Kami curiga, ini sesuatu yang lain."
"Baiklah, segera akan kami minta tim forensik yang memeriksa mes pelaku untuk membawa hasil forensik atau apapun itu."
Mobil yang keduanya tumpangi itu pun sampai tujuan. Markas besar CIA, Langley, USA
Sesampainya di dalam kantor, Rick di datangi seorang ahli dari tim forensik, ia tampak membawa berkas.
"Nah, ini dia. Dokter, jelaskan pada kami, apa yang kau temukan,"
"Dari sampel rambut yang kami temukan, ternyata rantai DNA nya agak berbeda dengan manusia kebanyakan," tutur Dokter itu dengan roman yang seperti orang bingung, atau seperti orang yang kesulitan menjelaskan sesuatu.
"Maksudnya??" Rick tidak mengerti.
__ADS_1
"Rambutnya, lebih mirip dengan rambut gorila atau orangutan."
"What??? duduk lah dulu Dok, ayo masuk dan jelaskan pelan-pelan kepada kami.
***
"Professor maaf, dengan sangat terpaksa kami harus membawamu ke sini," ucap seorang pria tinggi besar, berkulit putih. Seperti orang albino.
Professor Himawan yang masih merasakan pening, hanya bisa meringis sambil memicingkan mata karena silau lampu di ruangan tertutup itu begitu besar dan menyilaukan.
"Apa yang kalian inginkan dari saya?" ucap Professor Himawan. Ia tidak mengerti, mengapa ia diculik bersama artefak yang ia bawa.
"Dimana kau menemukan artefak itu?" Professor Himawan jadi aneh, kalau cuma mau tahu lokasi penemuan artefak itu, tidak perlu seorang staf laboratorium itu membius dan susah-susah membawanya ke sini, ke hadapan pria asing albino ini.
"Kenapa kalian repot-repot membawa saya ke sini, saya pasti mengumumkannya di ruang rapat."
"Kau tidak tahu sedang berurusan dengan siapa Professor," jawab orang albino itu.
"Baiklah, sekarang katakan, saya sedang berurusan dengan siapa dan ada kepentingan apa kalian dengan lokasi penemuan artefak itu,"
Sampai di situ, Professor Himawan jadi ingat sesuatu, sesuatu yang ia sendiri anggap itu hal yang mustahil.
"Baiklah, mungkin ada baiknya kau tahu perihal kami sebelum kau mati. Ribuan tahun lalu, kami bangsa Hannom, menuntut keadilan dan pengakuan dan persamaan hak. Karena, manusia selalu berbuat lebih dan melarang kami mempelajari teknologi yang kalian capai."
"Sebentar sebentar, apa saya tidak salah dengar, kalian bukan bangsa manusia?"
"Kalian dari bangsa manusia setengah kera?"
"Benar Professor, sepertinya kau tahu banyak. Mari kita bicara sambil ngopi. Perjalanan kesini pasti melelahkan.
***
Keluarga-keluarga bangsa Hannom yang ditinggal saat perang besar itu tampak cemas di balik gubuk-gubuk di dalam kampung kampung yang tersembunyi di dalam hutan.
__ADS_1
Kebanyakan dari mereka adalah istri istri dan anak anak. Mereka tidak banyak bicara, mereka lebih banyak berdoa, apalagi setelah mendengar bunyi letusan gunung yang bersahutan dan melihat langit yang berat dan hitam.
Hari-hari kemudian menjadi suram. Karena laut mengamuk dan terjadi tsunami di semua garis pantai di seluruh dunia.
hutan-hutan menjadi gersang karena abu vulkanik yang terkandung di langit menghalangi sinar matahari mencapai daun selama berminggu-minggu. Bangsa Hannom yang tersisa kelaparan dan terkena wabah di pedalaman hutan.
Eksodus besar-besaran pun terpaksa mereka lakukan.
"Bahkan, para tetua melanjutkan cerita, bangsa kami di buru dan dihabisi dengan keji oleh kalian, bangsa manusia," ucap pria Albino itu menutup cerita dengan dengusan penuh dendam dan dada yang redup redam menahan amarah.
"Maaf, tapi sejarah kami tidak men-"
"Sejarah yang mana!!! itu terjadi jauh sebelum masehi, itu titik balik dimana kita kembali primitif!!!"
Professor Himawan jadi ingat kisah dalam kitab suci. Tentang banjir besar yang menenggelamkan seluruh dunia dan hanya menyisakan nabi Nuh beserta pengikutnya.
"Sekarang apa yang kau harapkan setelah tahu lokasi penemuan artefak itu?" ucap Professor Himawan sambil berpikir lebih jauh, "jangan-jangan,"
"Lokasi penemuan artefak itu adalah medan perang besar itu. Titik penyerangan semua bangsa terhadap bangsa manusia itu adalah pusat peradaban Atlantis. Dan! Di pusat peradaban Atlantis itu ada instalasi cawan suci. Itu, itu tujuan kami."
"Tadi kau bilang sendiri, Atlantis hancur, seluruh dunia mengalami tsunami, semua gunung berapi meletus, apa mungkin instalasi cawan suci itu masih ada?"
"Paling tidak, kami akan mempelajarinya dan merekonstruksi ulang. Kami sudah beberapa kali mencoba memusnahkan kalian. Tapi kalian selalu selamat. Perlu kamu tahu, wabah besar di abad pertengahan adalah ulah kami, penyakit menular yang tidak bisa kalian obati selama ini juga ulah kami. Kami, dari dulu, kami yang tersisa bangkit dan bersatu. Kami sudah membaur dengan kalian sejak kemajuan ilmu bedah di Eropa. Setiap keturunan kami lahir, kami langsung memotong ekor dan mencangkok tulang hidung. Perbedaan kita hanya di bagian ekor, bulu di kulit dan struktur tengkorak hidung, kami tidak punya tulang hidung seperti kalian. Sejak kemajuan teknologi kedokteran, semua itu bisa teratasi. Lihat! Lihat lah, kami sudah tidak ada beda dengan kalian."
Mendengar itu semua, Professor Himawan terbengong-bengong. Dugaan ada bangsa lain selain bangsa manusia ternyata benar adanya.
"Kami sudah membaur dengan kalian dan hampir di semua negara kami ada dan saya sendiri yang memegang kendali. Keadaan akan segera berbalik Professor."
Professor Himawan menelan ludah getir seketika kengerian perang tergambar di wajahnya.
"Kami punya banyak rencana, sementara kau bantu kami di sini Professor, maaf merepotkan,"
*Professor Himawan adalah ayahnya Bondan yang diceritakan hilang di scene scene awal
__ADS_1