
Bondan sudah tidak sabar untuk segera bertemu dengan Jerry dan mengenalkan si 'Fosil hidup' itu. Kembali Bondan melirik Kemala yang sedang duduk cantik di sebelahnya, di dalam taksi. Seturunnya dari bis, mereka melanjutkan perjalanan dengan naik taksi. Kosan Jerry sudah dekat.
Sang Programmer dan ahli bajak situs internet itu rupanya baru selesai mandi dan masih mengenakan handuk ketika Bondan mengetuk pintu.
"Iya! Bentar!"
Begitu pintu ia buka, tampak lah Bondan sedang cengar-cengir dan di samping sahabatnya itu berdiri seorang perempuan jangkung berwajah lembut.
"Ups! Maaf," ucap Jerry. Hampir handuknya melorot. Saking salah tingkah dan gak nyangka, sore-sore ia kedatangan perempuan cantik.
"Bentar bentar! Saya, saya pake pakaian dulu. Lu gimana sih! Bawa cewek gak bilang bilang dulu," tukas Jerry sambil menutup pintu dan segera menyambar pakaiannya.
Burung burung pulang ke sarang, hari semakin petang. Jerry sudah berpakaian dan merapikan kamar. Serapi-rapinya kamar bujangan, Kemala dan Bondan duduk di kasur Jerry yang kusut dan lecek. Sesekali Kemala bersin dan berpikir keras, "aroma apa ini? Sangat tidak enak di hidung." Sementara Jerry duduk di kursi direktur yang empuk dan bisa berputar.
"Begitulah, seperti yang barusan gue ceritain, dia putri mahkota kerajaan Atlantea. Namanya Kemala."
"Ya Tuhan, serius elu Dan?" Jerry masih saja meyakinkan diri untuk mempercayai cerita Bondan.
"Oke oke, anggap gue percaya. Ini! Lihat ini, seperti yang gue ceritain di massanger, Tepat di koordinat yang lu ceritain itu. Ini, dengerin baik-baik," ucap Jerry sambil memutar posisi duduk dan menyalakan monitor.
Video yang Jerry putar itu adalah video konferensi pers Prof. Erwandi itu di lokasi penemuan lorong megalitikum itu.
"Sepertinya Kita harus kembali ke sana. Itu Professor Irwandi, salah satu sahabat Bokap. Gue kenal."
"Sabar sabar, istirahat lah dulu, sebentar lagi malam. Mmmm, ngomong-ngomong, kalian mau tidur di mana? Gak mungkin kan, nginep di sini, di kamar gue ini?" ucap Jerry dilanjutkan tanya dan menatap sahabatnya itu dan perempuan yang asing baginya itu lekat-lekat.
"Mana ada tuan Putri dan pangeran tidur di sarang penyamun," jawab Bondan.
"Sialan lu."
Kemudian Bondan berbicara pada Kemala dengan bahasa yang tidak dimengerti oleh Jerry.
"Kita cari makan, lalu kita ke rumah saya, sebentar lagi gelap. Kita tidur di rumah saya saja yah?"
"Iya, semua terserah kamu saja," jawab Kemala. Bondan tersenyum dan kembali menghadapi Jerry yang kini terbengong-bengong.
"Kalian bicara pake bahasa apa barusan?"
"Bahasa kuno," jawab Bondan.
"Terus tadi, apa yang kalian bicarain?"
"Aku ngajak dia makan, terus dia bilang, kamu di ajak gak, kasian katanya, kurus kering begitu, kayak yang kurang makan kebanyakan bergadang."
__ADS_1
"Terserah lu deh! Pusing gue."
"Ya udah, ayo cabut," ajak Bondan. Kemala dan Jerry pun bangkit dan segera berlalu dari kamar bau tengik dan bau puntung rokok itu.
Matahari telah tenggelam dan warna warna senja yang merona pun turut lenyap berganti bintang gemintang di langit malam dan satu bintang di hadapan Bondan. Dia lah Kemala, bintang bermata bening dan berwajah lembut, tatapannya lembut, rambutnya lembut dan segalanya lembut. Sambil menguyah makanan, Bondan jadi membayangkan, betapa bahagianya bila ia sampai hidup berdua dan berbulan madu dengan pujaan hatinya itu. Masih terasa hangat dekapan Kemala di malam itu, di balik bilik bambu.
"Pokoknya, kalau kalian mau ke hutan itu lagi, Gue ikut!" ucap Jerry dengan mulut yang masih melet-melet membersihkan sisa makanan.
"Oke, tapi awas, jangan cengeng. Gue gak mau repot."
"Siap! Siapa takut."
***
Malam sudah larut dan Kemala baru turun dari taksi dan Bondan membawanya menuju museum. Keduanya tampak mengantuk.
Suasana sepi, hanya satu dua kendaraan yang masih melintas di jalan protokol yang mereka seberangi.
Rumah sepi dan gelap mereka masuki. Setelah lampu Bondan nyalakan, Kemala tampak kaget melihat fosil-fosil yang berjejer di banyak rak besi.
"Ini sebenarnya museum, seperti yang pernah saya bilang. Kenapa?" ucap Bondan dilanjutkan tanya karena melihat roman aneh di wajah Kemala.
"Tidak baik mengambil dan memanjang tengkorak manusia seperti itu. Arwahnya pasti terusik," ucap Kemala sambil menunjuk seonggok tengkorak manusia purba di ujung rak terdekat.
"Ayo, ini kamar khusus tamu atau pengunjung yang ingin menginap. Sebenarnya dulu, ini kamar ibu saya. Ayo," ucap Bondan sambil membuka pintu dan menunjukkan ini dan itu.
"Ini kasurnya, ini kamar mandi,"
"Kamu tidur di mana?" ucap Kemala. Bagi Bondan itu terdengar seperti, 'tidurlah bersamaku, aku takut tidur sendiri. Bondan pun tersenyum menanggapi kekonyolan pikirannya sendiri.
"Aku di kamar sebelah, kalo ada apa-apa kan dekat. Oh iya, mandi lah dulu dan nanti ganti pakaian, ada banyak pakaian ibu saya di koper. Sebentar." Bondan yang hendak keluar kembali masuk dan membuka sebuah koper besar di samping lemari kosong. Beruntung, pakaian-pakaian ibunya yang sudah tidak terpakai itu masih layak pakai, bersih dan tertata rapi.
"Ini handuknya, sebentar aku ambilkan sabun mandinya dulu,"
"Sabun? apa itu sabun?"
"Mmmm... Sejenis olahan rempah-rempah untuk membersihkan kulit."
"Oh, terima kasih, sudah lama sekali aku tidak luluran dan mandi racikan rempah-rempah. Selama ini aku hanya mandi dengan bunga-bunga yang aku kumpulkan dan aku tanam sendiri," senyum Kemala. Sejenak Bondan membalas senyum Kemala dan segera berlalu mengambil sabun mandi.
Iseng-iseng Kemala masuk ke kamar mandi dan kaget sendiri mendapati kaca yang menampilkan wajahnya sendiri.
Kemala meneliti kaca cermin itu. Tipis sekali, ia jadi kagum pada kemampuan orang di jaman sekarang yang sudah bisa membuat cermin setipis itu. Padahal dulu, cermin itu tebal sekali dan berat dan hanya keluarga kerajaan yang bisa mempunyai cermin. Tapi sekarang? jangankan cermin, gelas dan piring saja terbuat dari kaca. Kendaraan juga, banyak menggunakan kaca. "Apakah ini jaman kaca?" pikiran Kemala menduga-duga.
__ADS_1
Bondan datang dan memberikan sabun yang dimaksud. Bentuknya lonjong dan berwarna putih.
"Kasih air dan gosok-gosok, nanti berbusa di kulit kamu dan bilas, nih, wangi kan?" ucap Bondan sambil mempraktekkan cara menggunakan sabun di wastafel dekat cermin di mana Kemala berdiri dan memperhatikan dengan seksama.
"Ya sudah, aku, aku ke kamar sebelah yah,"
"Ya," jawab Kemala singkat.
Bintang bintang berkerlipan indah di kamar bujang yang asik dengan lamunan.
"Ya Tuhan, terima kasih, Engkau telah mengirim bidadari buat hamba dan sekarang bidadari itu sedang mandi."
***
Professor Himawan sedang serius mengolah data. Ia bersama beberapa ahli sedang dipekerjakan secara paksa oleh bangsa Hannom. Mulai dari ahli komputer sampai ahli sejarah diculik dan dikumpulkan di suatu tempat rahasia. misi utama bangsa Hannom itu adalah memetakan kekuatan militer sampai kekuatan sosial dan ekonomi manusia modern.
Di sela-sela kesibukannya, Professor Himawan mencoba menghubungi Bondan dengan bantuan seorang ahli komputer.
Tapi begitu pesan diklik 'kirim', alarm berbunyi.
Segera seorang penjaga menghampiri Professor Himawan dan seorang ahli komputer itu yang komputernya tiba-tiba padam secara otomatis.
"Sial, ketahuan lagi kita," gumam Professor Himawan.
"Professor, dan kamu Billy Johnson, ikut saya.
"Maafkan saya Bill," ucap Professor Himawan sambil menepuk pundak Bill. Bill adalah seorang pria kulit putih, usianya masih muda, sekitar 25 tahun.
Seorang penjaga bersenjata itu membawa keduanya ke hadapan sang Pemimpin. Seorang manusia kera albino.
Professor Himawan dan temannya itu hanya bisa pasrah. Setelah sampai ke hadapan sang Pemimpin, pengawal itu keluar.
"Ini peringatan terakhir untuk kalian berdua. Sekali lagi coba-coba mengirim pesan ke luar, kalian akan kami ganti."
Kata 'ganti' juga berarti mati.
Professor Himawan kembali menelan ludah getir, seolah nyawanya sudah ada di kerongkongan dan siap dicabut dengan paksa saat itu juga.
***
Sementara itu di bukit halimun, Gani sedang berjalan-jalan sendiri. Ia melesat kesana-kemari, dari puncak-puncak bukit sampai lembah-lembah terdalam. Ia coba mengingat-ingat dimana letak instalasi cawan suci itu. tapi keadaan sudah sangat berbeda. Tidak ada pilihan lain, ia harus menunggu hasil penggalian.
Saat akan kembali ke kemah, ia melihat sebuah taman bunga di tepi sungai. Ia pun segera balik arah dan mendarat dengan pasti. Ia terperangah, dan segera memeriksakan tempat itu.
__ADS_1
"Rupanya ada seseorang yang tinggal di sini."