Dewa Terakhir

Dewa Terakhir
Kita Tidak Sendiri


__ADS_3

Belasan pria tinggi besar yang berpakaian taktis serba hijau sedang serius meneliti bebatuan dan artefak-artefak yang berserakan. Mereka adalah orang-orang pilihan yang ditugaskan memeriksa lokasi sesuai kordinat yang Professor Himawan berikan.


Salah satu dari mereka menemukan sesuatu dari layar laptop spesifikasi militer yang sedang ia gunakan. Radar mereka menemukan pergerakan kendaraan-kendaraan berat. Bahkan keberadaan pesawat jet yang terparkir pun terdeteksi.


"Kapten Oox! maaf mengganggu. Lihat ini, kita tidak sendirian." Sang Kapten pun menghentikan kegiatannya dan menghampiri anak buahnya yang sedang menatap heran ke layar laptop itu.


Sejenak kapten Oox memicingkan mata karena tampilan layar itu silau oleh pantulan sinar matahari dari atas.


"Sial, itu ekskavator. Mereka sedang melakukan penggalian. Sepertinya, disitulah titik kordinat yang benar. Ayo! kita ke sana," ajak sang Kapten. Semua anggotanya pun bergegas membenahi barang bawaan.


***


Dengan bantuan helikopter kecil. Gani, letnan Anwar dan Professor Erwandi sampai ke tanah datar dekat taman bunga yang di tinggalkan oleh Kemala itu.


"Aku jadi membayangkan, seandainya aku hidup abadi. Hem, aku akan melihat anak cucuku mati. Bukan begitu sobat," ucap Professor Erwandi sambil mendepak lengan letnan Anwar.


"Kalo aku hidup abadi, aku ingin menyaksikan mantan istriku mati," canda letnan Anwar dengan wajah serius. Sambil turun dari helikopter Professor Erwandi tertawa.


"Jadi kau masih mencintainya?" tunjuk Professor Erwandi ke wajah letnan Anwar yang tanpa ekspresi itu.

__ADS_1


"Aku tidak bilang begitu!" protes letnan Anwar.


"Hahaha! Jadi selama ini kau juga tidak menikah lagi?"


"Kau lebih cocok jadi peramal dari pada ilmuwan," gumam letnan Anwar sambil berlalu menuju rumah Kemala itu.


"Jadi selama ini benar? Kau tidak menikah lagi?"


"Sudah! Lihat ini," ucap letnan Anwar mengalihkan pembicaraan tak bermutu itu. Professor Erwandi pun maklum dan melakukan pekerjaannya.


"Kalo tidak salah, peradaban Atlantis ini hancur 19.000 th yang lalu. Lalu apa yang kau lakukan selama ini pak Tua?" perhatian letnan Anwar beralih kepada Gani.


"Aku menikah Bos,"


Mendengar jawaban Gani itu. Professor Erwandi kembali tertawa. Wajah kesal letnan Anwar yang mengharapkan jawaban serius itu sungguh membuat Professor Erwandi tak kuat menahan geli.


"Kalian sama saja," kecewa letnan Anwar.


***

__ADS_1


Sementara itu, satu tim manusia setengah kera itu melintas sungai dan sampai pada taman bunga dan mendapati helikopter kecil. Mereka pun waspada dan mengendap-endap.


Letnan Anwar, Gani dan Professor Erwandi yang sedang sibuk memeriksa bekas kediaman putri Kemala itu tidak tahu kalau pilotnya yang sedang sendirian di dalam heli sudah dibekuk dan ditawan.


"excuse me sir, now we are in control," tukas kapten Oox sambil menodong sang Pilot.


letnan Anwar yang pertama menoleh dan mendapati anak buahnya tak berkutik dalam todongan orang-orang asing. Beruntung ia dan Professor Erwandi bisa bahasa Inggris.


Percakapan mereka kemudian dalam bahasa Inggris.


"Siapa kalian?" ucap letnan Anwar sambil perlahan berbalik. Begitu pula Professor Erwandi dan Gani.


"Angkat tangan," titah kapten Oox.


"Borgol mereka,"


"Siap Kapten."


Letnan Anwar hanya bisa pasrah dan hatinya penuh duga.

__ADS_1


Gani melirik letnan Anwar dengan tatapan yang seolah meminta persetujuan untuk melawan. Terlalu beresiko letnan Anwar rasa. Mereka bersenjata lengkap dan jelas siap untuk kemungkinan terburuk.


__ADS_2