Dewa Terakhir

Dewa Terakhir
Back to Habbit


__ADS_3

Entah bagaimana caranya Dias berhasil kabur dari rumah sakit jiwa dan mengambil sisa tabungannya.


Dias kini punya tujuan, tujuan yang menuntunnya sampai sejauh ini adalah suara-suara meyakinkan dan kekuatan penuh. Dias sendiri menapaki jalanan terjal di pegunungan Ural. Daya tahan tubuhnya pun bertambah berkali-kali lipat.


Suara-suara yang menuntunnya membawa Dias ke dalam sebuah goa, goa yang gelap, goa yang besar dan dalam. Dias menyalakan suar.


Dias terus berjalan, seolah ia sudah hapal betul jalan itu.


Ternyata rongga goa itu besar sekali dan semakin ke dalam se makin besar dan luas, Dias seperti masuk ke dalam sebuah istana. Istana yang besar sekali dengan pahatan patung-patung setinggi belasan meter.


***


Sandi sedang menghitung uang hasil penjualan narkotik bersama Gideon ketika Dias tiba-tiba datang dengan tatapan tajam.


"Bos? bagaimana bos? Maksud saya, bukannya Bos sakit?? Bos sudah sembuh???" heran Gideon.


"Bos? Maaf kami jarang menjenguk, kami, kami sibuk sekali. Bisnis kita hampir bangkrut."


"Lupakan semua itu, malam ini juga, kumpulkan semuanya. Saya mau bicara pada kalian semua.

__ADS_1


"Siap! siap Bos! senang banget gua bos udah sembuh Cuy!" sumringah Gideon sambil mendepak Sandi yang masih seperti orang linglung.


***


Di tempat nun jauh berbeda, kini Diu Duduk di bangku kosong di samping Roni. Diu masih terlihat ragu dan canggung.


"Nah, gitu dong. Mulai sekarang kita belajar bareng," bisik Roni.


Di balik rasa canggung, malu dan ragu-ragu. Diu juga merasa terharu, memang ini yang ia inginkan. Ia ingin belajar dan mengerti banyak hal.


Diu memulai masa depannya yang gemilang. Diu giat sekali belajar. Bahkan, sepulang sekolah ia juga mengajarkan pelajaran yang ia dapat pada Vinvin. Pelajaran apapun itu.


***


"Apaan sih," risih Gideon.


"Lo gak ngerasa aneh?" tanya Sandi.


"Aneh gimana?"

__ADS_1


"Lu denger gak sih tadi, Bos ngajak kita melakukan ritual ilmu hitam trus kita gak bisnis narkotik lagi, apa-apa ini???"


"Ilmu hitam lebih menarik dari narkotik," jawab Gideon. Sandi sungguh tidak mengira kalo temen karibnya menerima mentah-mentah ajakan Dias. Dias yang tiba-tiba datang dari rumah sakit jiwa dan mengajak semuanya alih profesi. Bahkan bukan profesi yang Dias tawarkan. Tapi ritual setan.


"Udah lah, kalau lu gak mau ikutan, tinggal pergi aja, beres. Ribet lu ah!" tukas Gideon sambil ngeloyor pergi.


"Gila! Gila kalian semua!" teriak Sandi sama Gideon dan teman-temannya yang lain yang juga berhamburan ke luar aula pertemuan itu.


Saat Sandi berbalik, tiba-tiba Dias ada dihadapannya.


"Astaga! Bos?" ucap Sandy ciut. Dias menatap Sandi dekat-dekat. Entah kenapa Sandi merasa ada yang lain dari sorot mata Bosnya itu.


"Dunia ini bukan tempat untuk mahluk yang lemah," ucap Dias lalu mencekik Sandi dengan satu tangan. Sandi pun terdesak ke tembok dan meloncat mengap-mengap. Cengkraman tangan Dias begitu kuat. Sandi merasa sakit yang luar biasa dan hampir kehabisan oksigen. Sandi ingin berteriak tapi tidak bisa. Tangannya meronta-ronta tapi percuma. Orang-orang tetap berlalu dan tidak ada yang peduli.


KREKKK!


tulang leher Sandi sampai remuk. Sandi pun meregang nyawa dan Dias melepaskan cengkraman tangannya. Sandi pun jatuh terkulai dengan leher patah.


***

__ADS_1


__ADS_2