
Diu kecil belum bisa memejamkan mata. Ia pun beranjak dari koloni dan merayap keluar dari goa. Goa yang temaram yang hanya mengandalkan penerangan obor minyak jarak. Diu pikir, mungkin setelah mendengar cerita kakeknya ia mendapat ilham dan berharap terlelap dengan mimpi hebat. Kemarin-kemarin kakeknya itu bercerita tentang perang besar dan kejayaan bangsa.
"Kau belum tidur rupanya," ucap sang Kakek begitu mendapati cucu kesayangannya datang dengan mata bulat yang haus akan cerita dan mimpi-mimpi indah.
"Aku tidak bisa tidur Ke', aku penasaran sama lanjutan cerita Kakek yang kemarin," ucap Diu sambil duduk dekat-dekat dengan kakeknya itu. Hangat api unggun dan senyum Kakek menyambutnya.
"Baiklah, sampai dimana kemarin?"
"Mmmm...? Sampai mereka berpisah dengan keluarga untuk latihan dan bersiap untuk perang besar," ingat Diu.
"Oh iya," angguk sang Kakek lalu mulai melanjutkan ceritanya.
"Sebelum pergi ke medan perang, Raja Calaghant melakukan upacara terakhir dan menyuruh Telik Sandi dan tentara pilihan untuk menyembunyikan kitab-kitab sihir bangsa kita ke suatu tempat yang aman dan tidak seorang pun tahu, kecuali-"
"Kecuali siapa Kek?" Diu tampak bersemangat dan tidak sabar mendengarkan cerita kakeknya yang sudah ringkih itu.
"Kecuali 3 Telik Sandi dan 3 Tentara Pilihan itu. Mereka masing-masing memegang peta, menghafal mantra dan memegang kunci rahasia."
Calaghant memimpin upacara perpisahan dengan 3 Telik Sandi dan 3 Tentara Pilihan di suatu tempat yang sunyi. Bahkan seekor nyamuk pun tidak bisa menjangkaunya.
"Nasib kelangsungan bangsa kita sekarang ada di tangan kalian," ucap raja Calaghant sambil telapak tangannya seperti orang yang sedang memberkati atau membaptis. Menyentuh kening dengan telapak tangan penuh rasa sayang setelah menyerahkan kunci dan peta pada masing-masing orang sejumlah 6 orang itu.
Suasana pun mendadak haru, sang Raja perlahan terbang. Jubah hitam kebesarannya seperti balon udara yang perlahan mengambang. Ke enam orang pilihan itu pun kompak berlutut dengan sikap hormat. Upacara selesai, sang Raja kembali pada pasukan, keenam orang pilihan itu segera terbang melakukan tugas.
Tampak menos dan Joup berdiri tegak di antara barisan prajurit yang siap berperang.
"Siapapun yang tidak mengikuti prosedur yang tadi dipaparkan, akan menyesal seumur hidup! Itu pun kalau kalian kembali dalam keadaan hidup," ucap sang Komandan pasukan.
"Apakah kalian sudah siap!!!"
"Siaapp!!" jawab menos berbarengan dengan ratusan pemuda yang lain. Menggelepar. Kelalawar berhamburan. Banyak sekali sehingga langit cerah jadi seperti tv hitam putih yang runyam tidak ada saluran.
"Ingat, kau jangan jauh-jauh dariku yah!" ucap Menos pada Joup. Joup yang masih gemetaran. Setelah melewati gerbang gaib yang di bangun oleh para Partiyazed. Joup, Menos dan yang lain berubah wujud menjadi sosok anak-anak manusia usia sembilan tahunan. Sementara anak-anak manusia yang mereka tawan berubah menjadi sosok kurcaci/Hobbit.
Batalion di mana Menos dan Joup berada bertugas menyamar dan masuk ke wilayah kerajaan Atlantea lalu menyebarkan racun mematikan dan membunuh musuh sebanyak mungkin.
"Seumur-umur aku belum pernah membunuh manusia. Jangankan membunuh manusia, membunuh katak pun aku belum pernah," bisik Joup pada Menos. Saat keduanya mulai memasuki gerbang kerajaan Atlantea.
"Kamu tidak perlu membunuh manusia dengan belati kamu itu, cukup kau tebar serbuk itu nanti mereka mati sendiri."
"Iya, tapi aku takut."
Kanal-kanal bersih, stand-stand makanan dan minuman dan orang-orang yang banyak berlalu-lalang membuat Joup pusing. Belum pernah ia berada dalam kerumunan seramai ini.
"Manusia hebat ya Nos, mereka bisa membuat aneka makanan dan minuman yang banyak sekali."
__ADS_1
Saat mata Joup dan Menos jelalatan begitu, tiba-tiba seseorang yang berpapasan dengan Joup menabrak Joup.
"Aduh! maaf, maaf!" celetuk Raiman sambil hendak membantu Joup untuk bangun. Tapi Menos dan teman-teman Joup melarang Raiman.
"Sudah! Sudah, tidak apa-apa. Lain kali, kalian kalau jalan hati-hati," ucap Menos. Raiman merasa ada yang aneh. Bocah-bocah itu sepantaran. Jumlahnya belasan dan pakaiannya sama, jubah hitam kebesaran dengan penutup kepala. Tapi yang paling membuat Raiman merasa aneh adalah, perkataan salah satu bocah itu. Seperti perkataan orang dewasa.
"Kalian yang harusnya hati-hati. Masih kecil jam segini masih keluyuran!" serobot Tarji.
"Sudah, sudah," Raiman membawa Tarji menjauhi Menos dan kawan-kawan. Tarji yang masih ngoceh dan masih tersungut-sungut itu berhasil Raiman bawa menjauh. Para Hobbit yang menyerupai bocah-bocah itu pun kembali melangkah dengan perlahan dan teratur.
Sesekali Raiman menoleh dan memperhatikan gerak-gerik para bocah itu. Gerakannya lambat dan tampak sering bisik-bisik dengan sesamanya.
"Sepertinya mereka curiga dengan kita," bisik Joup.
"Sudahlah, bersikap biasa saja, Ayo!" ajak Menos sambil meraih bahu Joup.
Di tribun sayembara kemudian, Joup sudah sangat tegang, di lihatnya ketua kaum tabib mulai bertingkah di tengah arena dan menjadi pusat perhatian. Keringat dingin mengalir dari sekujur tubuh Joup. Menos tampak lebih tegar dan tenang penuh keyakinan.
"Buka kupingmu lebar-lebar Joup!" ucap Menos pada Joup yang makin tegang di sampingnya. Suasana di arena mulai ricuh, telinga para Hobbit perlahan berdengung dan sedetik kemudian, terngiang perintah dari komandan pasukan untuk meloncat dan menaburkan serbuk mematikan itu di udara.
"Sekarang! Ayo Joup!" Menos menarik Joup untuk loncat dan melayang di udara bersama Hobbit-hobbit yang lain.
Perhatian manusia terbagi. Pasukan manusia setengah kera mulai datang menerjang dan menghujani khalayak dengan panah, sementara di atas, Menos dan kawan-kawan mulai menyebarkan serbuk racun.
"Kita berhasil Nos! Kita berhasil!!!" tukas Joup. Di bawah, manusia yang naas terkena serbuk racun itu bergelimpangan tak berdaya.
"Hoss! Hoss!! Kita berhasil? Kita berhasil!!!" senangnya si Joup. Matanya sampai berkaca-kaca.
"Horree!!!"
"Kamu hebat Joup! Kamu hebat!" puji Menos sambil gemas menggunjing-gunjing kepala botak si Joup.
"Hahahaha!"
Para Hobbit itu menari-nari bahagia di atas gunung yang jauh dari medan perang. Medan perang yang mulai banjir karena ulah para raksasa.
DUARR!!!
Bunyi dentuman gunung meletus mengagetkan Menos dan ratusan pemuda Hobbit yang lain.
Tidak semua Hobbit tahu rencana inti raja mereka. Rencana inti untuk memusnahkan peradaban Atlantis, Bangsa raksasa, kaum Rawarontek dan bangsa manusia setengah kera.
Rencana inti yang juga nyaris memusnahkan bangsa Hobbit itu sendiri.
gunung-gunung kecil yang dijadikan pos-pos pendaratan bangsa Hobbit itu mulai meletus satu persatu. Tidak terkecuali, puncak gunung yang Menos dan Joup pijak.
__ADS_1
"Nos! Sepertinya gempa? Bagaimana ini??" Joup kebingungan. Menos ingat sesuatu, ia tidak mungkin selamat kalau gunung itu meletus. Ia pun genggam erat Ajimatnya dan tangan kirinya meraih lengan si Joup sambil merapalkan mantra ilmu sihir keluar dari raga. Ia lupa memberitahu sahabatnya itu. Semua panik, semua tidak sempat keluar dari raga atau menggunakan sihir untuk menghilang.
Hanya Menos yang berhasil menggunakan sihir keluar dari raga.
Gunung pun meletus dan memberangus Joup dan yang lain. Tidak terkecuali raga Menos. Menos menyeringai ngeri, melihat raganya sendiri hangus dan jadi abu karena lahar yang semburat ganas.
Menos yang hanya tinggal Jiwa tanpa raga turut terhempas karena gelombang panas dan semburan abu vulkanis.
Langit hitam dan begitu berat menampung jerit kesakitan jutaan kematian.
Menos yang kelelahan merangkak sendiri di tanah gersang membara dan penuh asap kematian. Manusia-manusia mati, hewan-hewan mati, hobbit-hobbit mati, raksasa-raksasa mati, tumbuhan-tumbuhan pun mati. Hanya tinggal Menos yang kelelahan merangkak sendiri di antara kabut. Dunia seakan hancur dan sama sekali menghapus jejak pulang dan ingatan seorang Menos. Hanya angan dan kerinduan pada Fionty yang membuat Menos bertahan dan terus beranjak.
***
"Jadi? Semuanya mati Kek?" sela Diu.
"Tidak semua cucuku, boleh Kakek lanjutkan ceritanya?"
"Iya Ke' maaf." Sang Kakek pun melanjutkan ceritanya,
"Satu hari, satu malam. Ia terus merangkak dan mencari jejak pulang. Ia ingat janjinya pada tunangannya. Ia harus pulang. Itu janji, bagaimana pun harus ditepati."
***
Menos tidak bisa pastikan, sekarang malam atau siang. Karena malam terang oleh semburat lahar dan gunung-gunung terus meletus. Menos tidak bisa pastikan, karena siang gelap oleh kabut dan debu.
Jiwa Menos sepertinya menemukan sebuah arah. Sebuah desa yang dulunya tentram damai, kini hancur dan hampir rata dengan tanah. Tapi Menos ingat, ia melewati reruntuhan rumah Hobbit, lalu sungai dan taman bermain itu. Ini kampung Fionty.
"Tapi dimana Fionty?" hati Menos bertanya-tanya. Bau busuk mulai tercium, rupanya ia melewati mayat-mayat Hobbit. Ia kuatkan hati memeriksa mayat berdebu itu satu persatu. Tapi nihil, tidak ada mayat Fionty. Menos terus beranjak dan akhirnya sampai ke rumah Fionty yang hanya tinggal reruntuhan dan tidak ada tanda-tanda kehidupan.
"Menos?" hembusan angin membawa sebaris suara parau menyebut namanya. Menos pun kaget dan menduga suara itu bersumber di belakang. Perlahan Menos menoleh dan ternyata itu Fionty. Fionty yang lusuh dan hanya tinggal Jiwa. Sama seperti dirinya.
***
Jadi perempuannya itu juga sudah tidak punya raga?" Diu kembali menyela cerita Kakek Empoh.
"Yah, keduanya menggunakan sihir keluar dari raga saat bencana tiba. Walaupun demikian, keduanya hidup bahagia, meski tanpa raga. Keduanya adalah leluhur kita," ucap sang Kakek menutup cerita.
"Jadi, dulunya bangsa kita punya raga dan hidup di alam yang sama dengan manusia?" tanya Diu.
"Yah, begitulah."
"Lalu bagaimana dengan nasib 3 prajurit pilihan dan 3 Telik Sandi dan kitab-kitab sihir itu?" Diu masih bersemangat mendengarkan cerita.
"Kakek sudah ngantuk, kita lanjutkan besok malam yah."
__ADS_1
"Baiklah Kek, Diu juga sudah ngantuk."
"Ya sudah. Sini, tidurlah dekat-dekat dengan Kakek."