
"Saya sudah berhasil memetakan DNA Gani dan DNA Taupan," ucap dokter berkacamata tebal itu dengan roman wajah yang sangat serius. Dokter itu bernama Faisal. Letnan Anwar biasa memanggilnya Ical.
"Anwar, apa kamu tahu binatang mikroskopik bernama 'beruang air'?" tanya dokter Faisal sama sahabatnya itu.
"Apa itu? Apakah masih saudaranya beruang kutub?" jawab letnan Anwar sekenanya.
"Kamu ini, beruang air itu, sebut saja kuman. kecil sekali. hebatnya, beruang air itu sulit sekali untuk di bunuh."
"Maksudmu? Apa hubungannya dengan DNA Taupan yang sedang kita bahas ini?" letnan Anwar jadi bingung.
"Beruang air itu walaupun kita lemparkan ke ruang angkasa yang hampa udara sekali pun, ia akan tetap bisa hidup kalo bersentuhan lagi dengan elemen yang mendukung kehidupan. Kau bekukan dia, dia hibernasi, di sekelilingnya mencair lagi, mendukung kehidupan lagi, ia hidup lagi. Ini nyata dan ada di bumi ini, di sekitar kita. beruntung ukurannya sangat kecil dan tidak berbahaya. Jadi maksud saya adalah, bayangkan betapa majunya ilmu biologi bangsa alien itu. tubuh mereka bisa utuh kembali kalau terluka, ini bukan ajaib. ini hasil teknologi biologi. Mereka bisa merekayasa genetik dan sebagainya. Perlu kamu tahu, ada binatang atau kuman yang bisa menumbuhkan kembali bagian tubuhnya yang hancur dengan cepat. Ini benar benar ada di sekitar kita. Tapi kita? tergores sedikit saja masih merasakan sakit luar biasa dan kalaupun sembuh itu lama, bahkan meninggalkan bekas. Kenapa? Karena teknologi biologi kita belum maju. Padahal contoh dan bahan penelitiannya sudah kita ketahui. Seperti Beruang air, immortal jelly fist dan sebagainya."
__ADS_1
"Jadi maksud mu?"
"Kita masih primitif. Kita masih mengembangkan sel yang bisa melawan sel kanker. Mereka sudah sangat maju, mereka sudah bisa mengubah sel menjadi cepat sekali regenerasinya," ucap Dokter Faisal sambil menerawang jauh.
"Aku jadi membayangkan, kalo kita berhasil merekayasa genetik kita dan menyusun ulang bahan dan komposisi kita seperti mereka. Sebut saja puncak dari kesuksesan ilmu kedokteran dimana sel bisa terus-terusan meregenerasi diri, dan kita hidup abadi. Terluka, sembuh lagi dengan cepat, alam tidak bersahabat, kita bisa hibernasi seperti itu. lalu apa yang terjadi? Over populasi? Ya kan? Kalau sudah over populasi tidak ada pilihan lain? Ya mencari tempat tinggal baru," papar dokter Faisal sedikit banyak membuat letnan Anwar mengerti.
"Kau mau bilang, para pendatang dari langit itu datang karena di tempatnya sudah over populasi dan berada pada puncak pencapaian teknologi?"
"Tapi mereka tidak hidup abadi? mereka hanya bisa sembuh kembali dengan cepat."
"Itu keturunannya, bisa saja kan awalnya mereka benar-benar sempurna. Sulit untuk dibunuh, dan kalaupun terluka bisa sembuh dengan cepat. Lalu mereka bercampur dengan penduduk asli bumi dan keturunan campurannya tidak sesempurna leluhurnya. Tempo hari kau bilang, Perang besar antara kerajaan langit dan para pendatang dari itu hampir membawa kepunahan massal. Jadi leluhurnya yang murni habis karena perang. hancur lebur mereka. Lalu yang tersisa hanya keturunan campuran hasil silang dengan manusia bumi. Kau juga punya teori soal wujud mahluk cerdas dari luar bumi itu, kan?"
__ADS_1
"Yap, saya yakin di planet manapun, bentuk kehidupan selalu sama, karena air dan pendukung kehidupan komposisinya juga sama. Jadi lupakan itu wujud alien di film film di mana alien berkulit hijau dan sebagainya. Air yang sama, tumbuhan yang sama, bentuk kehidupan yang sama, alam dan semua yang mendukung kehidupan selalu sama. Seperti bumi ini. Wujud mahluk cerdasnya sebagai perwujudan puncak dari evolusi ya seperti kita."
"Saya setuju sama teori kamu itu kawan," ucap dokter Faisal.
"Tapi yang membedakan kita dengan mereka adalah tingkat intelegensi, pencapaian teknologi, itu saja ya kan?"
"Tepat sekali."
Letnan Anwar ingat pembicaraan dengan dokter Faisal itu saat ia termenung di sepanjang jalan menuju bandara. Hatinya jadi rancu, bingung dan jadi aneh sendiri.
"Kalo keabadian adalah puncak pencapaian, lalu apa artinya kehidupan yang pana ini?"
__ADS_1