
Pagi-pagi buta Kemala sudah bangun, mandi, dan berpakaian. Rambut Kemala masih basah ketika ketukan pintu mengalihkan perhatiannya. Baru saja ia mau mengetuk kamar Bondan dan hendak menyuruh Bondan mandi. Kemala pun mendekati pintu depan dan membukanya saja.
Begitu pintu dibuka, tampaklah sesosok ibu-ibu langsing dengan rambut mengkilat dan kacamata hitam.
Kemala melongo, apalagi ibu-ibu itu. Ibu-ibu itu adalah ibunya Bondan. Ibunya Bondan sampai membuka kacamata dan menatap Kemala dari ujung rambut sampai ujung kaki. Ia tidak kenal Kemala, tapi ia ingat benar pakaian yang dikenakan Kemala. Itu adalah pakaiannya yang sudah tak terpakai.
"Si, siapa kamu?" ucap ibunya Bondan yang masih menatap tak percaya. Ternyata anaknya yang terkenal baik dan rajin belajar itu membawa pulang seorang gadis cantik dan rambutnya basah.
"Mana Bondan?" tanya ibunya Bondan dengan kagok. Walau tidak mengerti bahasa yang diucapkan lawan bicaranya, Kemala bisa menduga dari nada dan tatapannya. Siapa ibu-ibu itu dan ada perlu apa menyebut nama Bondan.
Kemala tidak bersuara, hanya melebarkan pintu dan menunjuk perlahan ke arah dalam dengan jemari lentiknya.
"Bondan!" teriak ibunya Bondan begitu masuk ke dalam. Seperti sebuah alarm, Bondan langsung terbangun begitu mendengar suara ibunya itu.
"Iya Bu!" Bondan pun mengucek mata yang masih sepet dan loncat dari kasur lalu membuka pintu kamar.
Begitu pintu ia buka, Sosok ibunya sudah menatap curiga dan penuh tanya. Tidak lama kemudian, Kemala muncul perlahan dari balik punggung ibunya.
__ADS_1
CELAKA
Wajah Bondan sungguh menampilkan situasi CELAKA. Pasti ibunya itu menuduhnya macam-macam sama Kemala.
"segera mandi, temui ibu di rumah tamu," ketus ibunya itu dengan wajah merah padam menahan amarah dan berjuta omelan yang tertahan di dalam dada. Setelah ibunya berlalu ke ruang tamu, Bondan hendak berkata pada Kemala. Seperti kenapa kamu menampakkan diri dan sebagainya. Tapi Bondan hanya mangap dan kata-katanya hilang dan ia tidak tahu harus mulai dari mana. Sejenak Bondan berpikir dan menenangkan diri.
Kemala mengerti dan bersiap di marahi dan sebagainya. Sebagai Putri Mahkota, Kemala tahu betul apa itu adab dan kepantasan. Sekarang ia kepergok menginap di rumah seorang lelaki.
"Oke, sekarang kamu masuk kamar saja atau buatkan sesuatu di dapur," ucap Bondan setelah bisa berpikir jernih dan ide-ide bermunculan di kepalanya.
"Ada roti, susu, telur dan sebagainya. Kamu bisa masak? Kalo bisa masaklah, atau paling tidak, buatlah tiga gelas susu hangat dan bawa ke ruang tamu. Bagaimana menurutmu?" Kemala jadi ikutan bingung.
"Ehem," Bondan berdehem, sebagai tanda dirinya datang. Perlahan dan malu-malu Bondan datang dan duduk dihadapan ibunya. Ia sudah mandi dan berpakaian rapi. Persis seperti seorang terdakwa kumpul kebo di hadapan penyidik. Tatapan ibunya itu tajam dan memperhatikan detail gerak-gerik Bondan yang mencurigakan.
Dari balik pintu dapur, Kemala memperhatikan Bondan dan ibunya itu. Mereka tampak berbincang-bincang dengan kagok. Walau dekat dan berhadapan, seperti ada jarak di antara ibu dan anak itu. Walau tidak mengerti bahasanya, sebagai manusia dewasa Kemala bisa menilai kalau hubungan ibu dan anak itu tidak harmonis.
Terakhir Kemala melihat ibunya Bondan itu mengeluarkan sebuah map dan Bondan menulis di atas kertas dari dalam map itu.
__ADS_1
Kemala memberanikan diri datang. Seumur-umur, baru kali ini ia membawa gelas dengan nampan. Tidak sulit, tapi canggung. Mungkin orang yang ia suguhi minum itu akan memarahinya. Seperti, Hei kamu, perempuan macam apa kamu ini. Mau-maunya diajak menginap di rumah seorang bujangan.
Mengetahui kedatangan Kemala yang cantik jelita dan tampak seperti putri konglomerat, ibunya Bondan terdiam dan tatapannya lekat penuh penilaian.
Sungguh Kemala sangat tidak enak hati menyadari tatapan itu.
"Oh iya Bu, udah sarapan belum? Bondan buatkan sarapan yah?" ucap Bondan coba cairkan suasana.
"Terima kasih, ibu sudah sarapan. Ya sudah, ibu masih banyak urusan," ucap ibunya Bondan itu seraya berdiri. Kemala merasa tidak dihargai. Suguhannya tidak dicicipi.
"Bondan mencium punggung tangan ibunya, begitu juga Kemala. Kemala seperti meminta restu pada calon ibu mertua yang sedang ngambek.
Baru beberapa langkah kemudian, sang Ibu memanggil anaknya.
"Bondan, sini dulu sebentar."
"Iya Bu," sopan Bondan dan bergegas menghampiri ibunya itu
__ADS_1
"Lain kali, kalo ibu ada waktu. Kita harus bicara soal perempuan itu," ucap sang Ibu dengan suara pelan. Hampir seperti bisikan.
"Iya Bu," jawab Bondan dengan kepala tertunduk.