Dewa Terakhir

Dewa Terakhir
Tabir Masa Lalu


__ADS_3

Tuan muda Hon keluar dalam kawalan. Ini seperti sebuah peragaan, dimana sang pemimpin berjalan di tengah dengan belasan kawalan prajurit bersenjata lengkap.


Di atas, di tanah lapang dan todongan puluhan senjata Laras panjang Dul Karim dan Taupan tampak menunggu. Dul Karim masih berpikir, Apa yang hendak ia katakan, sementara Taupan sibuk meredam amarahnya sendiri.


Tuan muda Hon sampai dan langsung memperhatikan dua tamunya itu. Dul Karim berkostum logam warna keemasan dan Taupan seperti manusia bersisik ular kobra. Pakaian Taupan bermotif seperti kulit ular hitam, mengkilap.


"Akhirnya kalian datang juga menyambut kematian kalian," ucap Hon dengan tatapan awas. Bagaimana pun dua tamu tak diundangnya itu bukan manusia sembarangan.


"Sebentar lagi bantuan datang dan kami pasti bisa mengalahkan kalian," Gertak Dul Karim. Seorang prajurit menterjemahkan ucapan Dul Karim itu dalam bahasa Inggris. Sehingga Hon pun mengerti gertak sambal itu. Hon tertawa dan tiba-tiba Gani muncul. Mengambil sebuah pistol dari seorang prajurit dan langsung ia gunakan pistol itu untuk menembak kepala Taupan.


DORR!! DORR!!


Darah pun semburat setelah dua peluru itu menembus batok kepala Taupan.


Semua orang kagat dan memperhatikan Gani dan Taupan.


Taupan pun oleng dan hampir jatuh. Tapi sedetik kemudian Taupan utuh kembali. Dua lubang peluru di kepalanya menutup kembali dengan sempurna.


"Kau!!! Apa-apaan ini???" hardik Dul Karim.


"Apa kau pernah mendengar dongeng tentang suatu kaum yang tidak bisa mati walaupun jasadnya dipotong-potong?" ucap Gani pada Hon.


Dul Karim yang hendak menghajar Gani dihalangi todongan senapan.


"Biar saya tunjukkan sesuatu pada kalian," lanjut Gani dengan seringai menjijikkan. Sok pintar dan sok tahu.


Hon yang juga melihat luka di kepala Taupan menutup lagi dengan sempurna itu pun hanya bisa terheran-heran.

__ADS_1


Tiba-tiba hari mendadak suram dan kabut melingkupi seperti gelembung sabun yang sangat besar. Semua terpana dan memperhatikan sekeliling.


Seperti sebuah layar cekung yang besar, gelembung sabun itu menampilkan adegan masa lalu saat ketua Derg ditebas kepalanya oleh pangeran Anggara, lalu Pasukan manusia setengah kera datang dan bersama-sama dengan ketua Derg yang utuh lagi menghajar pasukan kerajaan manusia.


Tuan muda Hon terpana. Taupan yang sudah utuh pun terpana. Sosok ketua Derg sepertinya adalah leluhurnya.


"Lihatlah Taupan, kaum Rawarontek adalah sekutu bangsa Hannom.


"Hentikan! Hentikan Pak Tua!" teriak Dul Karim yang kini ditangkap dan tak berkutik


"Sudah aku katakan, Kau adalah seorang pemimpin perang Taupan. Lihat! Semuanya sekarang bisa melihat."


Taupan tampak bingung sampai menganga tak percaya. Begitupula dengan Hon.


"Siapa? Siapa Kau sebenarnya Pak Tua!" hardik Dul Karim.


"Taupan terbelalak dan sungguh seperti orang bingung yang mulai terpengaruh.


"Lihat leluhur kamu Taupan, kaum Rawarontek diperlukan seperti siluman yang tak berhak hidup. Begitupula dengar bangsa Hannom yang tersisa."


Kini ilusi yang Gani tampilkan menampakkan kejadian saat prajurit-prajurit manusia mengepung dan membunuh bangsa Hannom. Bangsa Hannom yang kebanyakan rakyat biasa dan tak berdaya. Tampak jelas manusia memenggal dan membakar bangsa Hannom. Tak pandang itu anak-anak atau wanita. Semua menerima perlakuan sama. Dikumpulkan, diikat dan dipenggal lalu dibakar.


Semua bangsa Hannom yang menyaksikan itu mendengus dendam. Tak sedikit pula yang menangis.


"Apa yang kau inginkan dengan semua ini!!!" kembali Dul Karim berteriak dan meronta-ronta.


"Kau! Kau dan semua manusia yang ada disini akan membangun kembali instalasi cawan suci dan mendirikan kembali kesombongan dan keangkuhan. Dan kalian bangsa Hannom, Aku di pihak kalian. Aku manusia yang tidak setuju manusia mendominasi dunia. Dan Kamu Taupan! Kamu hanya diperalat oleh manusia untuk melawan bangsa Hannom."

__ADS_1


"Mendengar itu Taupan menatap Dul Karim.


"Pan! Taupan! Kamu jangan percaya Gani. Dia licik!" Tapi Taupan sudah mengerti arah perkataan Gani dan ia juga sudah melihat sendiri. Leluhurnya dan leluhur bangsa Hannom dibantai oleh manusia.


Kini Taupan dan Hon saling pandang seperti sahabat lama atau dua orang dengan pengalaman pahit yang sama.


"Sudah sekian lama saya memantau kemajuan bangsa Hannom, sekian lama saya juga menantikan saat seperti ini. Kemunculan kaum Rawarontek, kemunculan pewaris kekuatan kerajaan langit. Sungguh saya sengaja menarik perhatian kalian dan akhirnya dengan sendirinya kalian membawa saya masuk sampai sejauh ini. Hahaha!" Gani seperti seorang pemimpin demontrasi yang sedang berorasi.


"Taupan, begitu instalasi cawan suci itu ditemukan dan berhasil dikonstruksi ulang, kamu lah yang pertama di singkirkan. Kau mahluk campuran manusia dan para pendatang dari langit. Laknat dan terkutuk! Tidak kah kau sadari itu!" teriak Gani pada wajah linglung Taupan. Taupan yang bergetar hebat.


"Kaum Rawarontek kalau pun mati tidak diterima bumi karena itu Taupan. Kau keturunan pendatang dari langit! Iblis-iblis dari langit!!! Sadari itu! sadari kodratmu Taupan!"


Taupan merasakan pusing yang luar biasa. Ia pun tak tahan sampai akhirnya berlutut sambil memegangi kepala.


"Dan kamu! Tuan muda, dia, dia adalah panglima perang yang kelak memimpin kalian," ucap Gani pada Hon sambil menunjuk Taupan.


"Aku juga bisa melihat masa depan dan aku melihat kalian bangsa Hannom dan kaum Rawarontek bersatu membinasakan manusia! Membalaskan dendam kalian." mendengar ucapan Gani yang terakhir itu, Taupan seperti ingat sesuatu. Ia ingat, leluhurnya pernah menampilkan visualisasi masa depan. Dimana dalam ilusi atau tampilan masa depan itu ia melihat dirinya berdiri di puncak bukit yang penuh darah. Seperti di tengah peperangan dan di hadapannya sebagai musuh ia melihat dengan jelas sosok seperti Dul Karim. Jubah besi dan ribuan pasukan manusia di belakangnya.


Sedelik kemudian, Taupan menatap bengis ke arah Dul Karim dan tiba-tiba Taupan seperti orang yang kerasukan ia menerjang Dul Karim. Beberapa tentara bangsa Hannom pun melepaskan Dul Karim dan Taupan kini leluasa menghajar Dul Karim.


BUK!!! BUK!!


"Tunggu Taupan! Tunggu!! Dengar dulu!" tukas Dul Karim sambil menangkis pukulan dan tendangan Taupan. Tapi Taupan seperti orang tuli dan kalap.


***


"Sebentar lagi kita sampai!" ucap Nugroho pada Didan dan Kemala yang duduk si sampingnya. Ketiganya sudah ada dalam helikopter penumpang spesifikasi militer yang terbang rendah bersama puluhan helikopter yang lain. Sementara itu belasan jet tempur mendahului konvoi helikopter itu.

__ADS_1


__ADS_2