Dewa Terakhir

Dewa Terakhir
Taupan dan Fani


__ADS_3

"Dalam mimpiku, seorang bayi lahir dan aku merasa itu keturunanku," ucap Taupan saat berduaan dengan Fani di tempat sepi.


"Kita pulang, kita di sini karena mimpi yang kamu yakini Taupan," ucap Fani dengan getir. Sejak kemarin ia di tarik dengan paksa oleh Taupan, baru kali ini ia benar-benar punya waktu berdua dan membahas masalah pribadi.


"Mimpi mimpi itu terasa nyata sekali," Taupan kembali berucap dan Fani sudah capek mengomentari itu.


"Hiduplah untuk kenyataan, itu hanya mimpi."


"Separuh diriku adalah pendatang dari langit! Pahami itu. Pantas saja keturunan kaum Rawarontek dari dulu kalo mati jasadnya tidak bisa dicerna tanah. Kami bukan asli mahluk bumi Fani dan kita, malam-malam kemarin kita bersetubuh lalu aku bermimpi anakku lahir. Itu! Itu masalahnya aku membawa kamu kesini." Mendengar itu Fani terkesiap. Akankah ia melahirkan mahluk setengah Manusia dan setengah alien?


Perlahan Taupan berbalik dan menatap Fani dengan penuh kasih lalu perlahan berlutut.


"Maafkan aku Fani. Aku sudah melibatkanmu. Seharusnya aku tidak menikah saja dan kalo aku mati, tidak perlu ada lagi keturunan ras campuran. Tidak perlu ada lagi mahluk laknat dan terkutuk seperti aku ini. Maafkan aku Fani," ucap Taupan yang berubah jadi ratapan.

__ADS_1


Fani menyentuh Taupan dan saat Taupan berdiri, Fani memeluk Taupan dengan erat dan terisak di bahu Taupan.


"Aku tahu, aku mengerti. Ini bukan salahmu. Tidak ada yang salah. Aku sudah berikrar, siap bersamamu apapun yang terjadi. Bukankah seorang istri yang baik harus menurut pada suami." Mengerti itu, Taupan merasa lega.


"Aku tidak setuju dengan rencana bangsa Hannom yang mau memusnahkan manusia. Justru aku mau membujuk mereka dari dalam. Tolong bantu aku," ucap Taupan.


"Tentu, tentu suamiku,"


***


"Di mana aku? Apa yang terjadi??"


***

__ADS_1


"Fani menghadapi tuan muda Hon. Fani mahir berbahasa Inggris. Percakapan keduanya dalam bahasa Inggris.


"Tuan, Walaupun leluhur Tuan dan leluhur suami saya dibantai dan yang tersisa diburu. Separuh jiwa dan raga suami saya adalah ras asing dari luar bumi dan Tuan sendiri adalah ras campuran manusia dan kera. Tapi separuh jiwa dan raga kalian adalah manusia. Tolong pahami itu,"


Sejenak Hon mencerna kata-kata Fani itu.


"Kami tidak akan menghabisi manusia. Kami tidak sekejam yang kau pikirkan. Kami hanya akan mengambil alih kendali peradaban. Peradaban yang kalian bangun selama ini semakin destruktif. Kau pikir, maha karya terbesar manusia itu apa? Apakah monumen? Apakah satelit dan sebagainya. Bukan, maha karya terbesar manusia adalah sampah. Manusia sudah membuat sampah yang sangat banyak dan merusak ekosistem. Sebagian kecil sampah itu berkumpul di tengah samudra, mengapung di sana dan sudah seluas pulau Java," ucap Hon dengan penekanan makna agar lawan bicaranya mengerti.


"Industrialisasi, makanan kemasan, minuman kemasan. Sungguh itu semua ide buruk dan menumpuk sampah."


Mendengar penjelasan Hon itu Fani jadi tercenung. Ada benarnya juga. Manusia sekarang sudah menjadi sangat malas. Bahkan untuk sekedar mencuci gelas, manusia lebih memilih membeli minuman kemasan plastik yang isinya selesai ditenggak dalam waktu satu detik tapi kemasannya tidak bisa terurai selama ratusan tahun.


"Dengan merebut kendali peradaban dan dominasi pemerintahan dunia, kami tidak mengharapkan keuntungan pribadi, ras dan golongan. Tapi ini demi kelangsungan bumi. Tolong pahami itu," ucap tuan muda Hon lalu bangkit dan meninggalkan Fani dalam kegamangan. Sendiri.

__ADS_1


***


__ADS_2