
Taupan menyambut Jamin di sebuah Aula yang sedang didekorasi oleh banyak orang. Mata Jamin melotot heran dan lantas berkaca-kaca melihat sahabatnya kini yang sudah jauh berbeda. Rambut Taupan kini lurus, wajahnya jauh lebih bersih, kausnya keren.
Taupan tersenyum dan Jamin malah menangis haru.
"Pan? Ini beneren kau??"
"Bentar lagi aku Nikah. Hehehe!" Mendengar itu, tangis Jamin pecah dan pelukannya makin erat. Sumirah turut terharu. Bagaimanapun ia kenal Taupan dengan baik. Taupan anak seorang tabib yang besar di hutan dan berkawan hanya dengan suaminya. Tidak disangka, nasib Taupan begitu mujur dan katanya kini ia jadi polisi.
"Sudah sudah, ini semua berkat kau juga. Ayo kita makan!" Ajak Taupan pada Jamin yang masih sesenggukan dan Sumirah yang berkaca-kaca.
"Aku rindu bumbu sate ba** hutan buatan kau Sumirah. Hehehe, nanti sore kita makan sate." Sumirah tersenyum.
***
__ADS_1
Segala kegiatan penggalian di bukit Halimun itu dihentikan sementara sesuai keputusan letnan Anwar. Kabar gembira yang datang dari Fani dan Taupan menjadi kesan tersendiri bagi semua orang. Sekarang semua orang berbahagia, Taupan dan Fani bersenda gurau di pelaminan, Jamin dan Sumirah menjajal semua makanan yang menurutnya aneh-aneh, Wiwik melantunkan nyanyian di sudut aula itu. Namun di tempat yang jauh berbeda, seorang Cindy berjalan lunglai sendirian.
Cindy yang pernah Taupan kencani (baca RAWARONTEK scene, Pengganggu)
Cindy sebenarnya mau mempertahankan kandungannya. Bagaimanapun ia mengerti dosa di atas dosa apabila ia sampai menggugurkan kandungannya. Tapi begitu banyak yang ia korbankan. Pekerjaan, keluarga dan teman-temannya sekarang menjauh. Kini Cindy benar-benar sendiri. Tidak mungkin ia mencari Taupan dan minta pertanggungjawaban Taupan. Bagaimanapun ia sendiri yang sudah menjual kehormatannya dan sekarang ia sendiri yang menanggung akibatnya.
Dengan sisa uang tabungan, sisa kekuatan dan segala yang tersisa Cindy mendatangi dukun beranak di sudut kampungnya. Beruntung ia masih punya Uwak yang mau menampungnya selama ini setelah orangtuanya mengusir dirinya.
"Ada seorang Juragan kaya yang mau meng-adopsi anakmu nanti. Kamu tinggal bilang, kamu mau apa? Uang?" kata Uwaknya tempo hari ketika kandungan Cindy semakin besar. Tapi Cindy tidak tega, bagaimanapun, itu kesannya menjual anak. Cindy ingin menebus dosa, dengan membesarkan anak itu sendirian dan melakukan yang terbaik untuk anaknya. Tapi apa mau dikata, ia sudah tidak punya apa-apa. Untuk makan saja ia menumpang pada Uwaknya. Air mata Cindy sudah habis dan kering kerontang. Dengan perut yang sudah terasa mulas ia akhirnya sampai ke rumah dukun beranak itu.
***
"Hos!!! Hos!!!" napasnya memburu dan keringat mengembun dari seluruh tubuhnya. Fani yang turut terhentak juga terbangun dan heran mendapati suaminya itu tiba-tiba terjaga.
__ADS_1
"Kamu kenapa? Mimpi buruk???" tanya Fani sambil menyembul dari balik selimut.
Taupan yang tidak mengenakkan baju tampak seperti habis dikejar hantu.
"Yah, akhir-akhir ini aku sering mimpi yang aneh-aneh," jawab Taupan pelan. Fani meraih tissue dan nge-lap keringat di lengan Taupan. Padahal kamar pengantin itu ber-AC. Fani jadi berpikir, mimpi buruk macam apa yang sampai membuat tubuh suaminya keringatan seperti itu.
Perlahan Taupan mengambil tissue dan mulai mengelap keringat dari wajahnya.
"Terima kasih, kamu sudah mau menjadi istriku," ucap Taupan yang tampak kelelahan pada Fani yang juga tampak lusuh namun bercahaya. Fani tersenyum dan dunia kembali terasa damai bagi Taupan.
"Sudahlah, jangan berpikir yang macam-macam. Yuk, tidur lagi," ajak Fani.
***
__ADS_1
Perasaan Cindy berkecamuk, dengan tubuh bergetar ia menyentuh bayinya yang terlahir sehat dan masih penuh bercak darah. Bayi sehat yang tidak berdosa kini dalam gendongannya, menangis mengiris-iris hati Cindy. Perih tak terperi.