Dewa Terakhir

Dewa Terakhir
Lawan Sesungguhnya


__ADS_3

Seorang tua berjalan melewati sebuah koridor di dalam gedung dewan keamanan PBB. wajahnya sudah tidak asing, wajah yang mulai berhiaskan garis-garis kebijaksanaan. Dia lah Letjen TNI Anwar Purwanto. Hatinya rancu bukan kepalang. Bagaimana tidak, ia mewakili negaranya untuk bicara. Bahkan lebih dari itu, sekarang ia akan berbicara tentang perang sesungguhnya yang sedang terjadi. Bukan hal yang gampang untuk menyakinkan semua kepala negara di dunia.


Podium sudah siap dan seseorang berambut pirang mempersilahkannya naik.


Jantung sang Letnan serasa berhenti berdetak. Ia pun muncul dan menghadapi puluhan pasang mata menatap haus penuh rasa ingin tahu.


Sang Letnan sudah tahu harus mulai dari mana.


Sejenak ia berbasa-basi menyapa pimpinan, lalu sedikit memperkenalkan diri dan dalam bahasa internasional tentunya.


"Kami punya bukti dan saksi. Atas apa yang akan saya katakan,"


Sejenak sang Letnan terhenti dan menatap setiap sudut khalayak. Seperti seorang mentalis membius semua penonton dan ia berhasil. Tatapan seriusnya berhasil membungkam semua orang dan kini semua orang benar-benar menantikan kelanjutan ucapannya.


"Kita, semua negara diambang perang dunia ketiga. sekarang kita sedang diadu domba. Musuh kita sebenarnya bukanlah negara-negara yang berbeda ideologi dengan kita, bukan para pemberontak, bukan pula para ******* yang beraliansi pada Agama tertentu." Sampai di situ, khalayak jadi ramai berbisik dengan sesamanya. sepertinya tidak mengerti maksud ucapan delegasi dari Indonesia itu. Bahkan ada yang nyinyir, kalo kalo letnan Anwar tidak pasih berbahasa Inggris dan menganggapnya salah menggunakan kata.


"Kita tidak sendiri?" mendengar ini khalayak tambah ramai bahkan ada yang angkat tangan dan berkata.


"Alien kah maksud anda?"

__ADS_1


"Kurang lebih itu juga benar." Suasana makin gaduh dan letnan Anwar kini mengangkat tangan dan khalayak kembali memberikannya kesempatan bicara.


"Negara asal saya adalah benua Atlantis yang selama ini dunia cari. Anda sekalian bisa melihat dan datang sendiri ke sana. Bukti-bukti yang kami dapat sudah tidak bisa diragukan lagi. Kami juga membawa rekaman dan alat bukti yang lain. Di sana, saat kami sedang melakukan penelitian kami di serang oleh sekelompok orang yang mengaku keturunan bangsa Hannom. Atau bangsa manusia setengah kera."


Seseorang memutar rekaman video saat terjadi kontak senjata di bukit halimun itu.


"Semua bermula dari penculikan seorang profesor saat meneliti artefak di sebuah laboratorium di miami. Kami juga punya rekaman suara dari pemimpin bangsa Hannom itu."


Seorang wakil dari negara Amerika menghubungi seorang petinggi militer, dan petinggi militer itu menghubungi detektif Rick Clooney. Detektif Rick adalah orang yang mengusut kasus penculikan ayahnya Bondan itu.


Rick yang menerima telepon sambil mengunyah roti sampai tersedak. Kabar yang ia terima sungguh di luar logika.


***


Di tempat lain, kini Dul Karim sedang berdiri di atas podium di hadapan ratusan tentara dan puluhan petinggi negara di jajaran paling depan.


Tidak pernah Dul Karim bayangkan, ia akan berbicara di hadapan manusia sebanyak itu dan lebih parahnya lagi, apa yang akan ia bicarakan adalah sesuatu yang selama ini di anggap takhayul atau mitos.


***

__ADS_1


Di tempat yang lain lagi, kini Taupan sedang sibuk membimbing para dokter yang mengobati gerombolan Dias. Taupan punya ilmu tenaga dalam yang berguna dalam dunia pengobatan. Bahkan ludahnya bisa membantu tulang-tulang korban yang remuk dan mustahil untuk di rekatkan. Tak ayal dokter dokter itu merinding melihat kemampuan Taupan. Taupan juga punya kitab-kitab kuno yang diwariskan secara turun-temurun dari leluhurnya tentang pengobatan dan itu mengundang tanya yang panjang dari para dokter dari bangsa manusia setengah kera itu.


***


Sementara itu, di satu sudut bumi yang jauh dari hiruk pikuk kota, jauh dari kapal kapal induk yang mulai berlayar menyambut kemeriahan perang, jauh dari daerah konflik yang mulai memanas. Seorang Diu sedang duduk bersandar pada punggung kakeknya yang melengkung seperti rotan. Diu yang sudah di serang kantuk itu masih saja sanggup mengoceh.


"Kek, Kakek belum melanjutkan cerita. Dimana kitab rahasia itu disembunyikan," ucap Diu.


"Apa isi kitab itu, apakah mantra-mantra sihir?" lanjut Diu.


Sejenak sang Kakek menghela napas.


"Lebih dari itu. Kitab itu menjelaskan siapa kita sebenarnya, cerita-cerita budaya kita, hukum-hukum. Bahkan sampai resep makanan. Semuanya dituliskan di kitab itu," jawab kakek Empoh.


"Wow! apakah kitab itu ditulis dengan huruf-huruf dan simbol-simbol bahasa kita sendiri?"


"Yah, tapi sayangnya, kalaupun kitab itu ditemukan. Kita tidak akan bisa membacanya. Kita tidak pernah belajar, atau sudah tidak ada lagi ahli bahasa yang mengajari kita untuk bisa membaca tulisan dan huruf-huruf itu. Ironis sekali bukan?'" ucap sang Kakek lantas terkekeh hampa.


"Tapi perlu kau ingat, kita ini bangsa ahli sihir, mungkin saja, secara ajaib kita akan bisa memahaminya."

__ADS_1


__ADS_2