
"Taupan telah bermutasi. Kamu ingat, bom nanodium saja tidak bisa membunuhnya. Bom itu sudah membuatnya menjadi debu. Tapi kita tahu sendiri. Dia utuh lagi," ucap letnan Anwar pada Nugroho saat keduanya turun dari pesawat. Mereka sudah sampai di kutub Utara.
"Mengerikan sekali Pak, kalau ia jadi musuh kita. Oh iya Pak, saya pernah membaca sebuah artikel, katanya di sini, di kutub Utara ini ada sebuah lubang menuju ke dunia bawah."
"Yah, saya juga pernah baca itu, itu bukan jalan menuju dunia bawah. Ini lorong yang sangat dalam menuju kawah Candradimuka," jawab letnan Anwar sambil memeriksa perlengkapan. Begitu juga Nugroho dan lainnya. Jumlah mereka banyak, belasan pesawat tempur dan dua puluh pasukan khusus. Mereka sudah siap akan kemungkinan konfrontasi.
***
Sementara itu di bukit halimun, Tampak Kemala sedang berdiri di tepi jurang. Ingatannya masih segar saat kerajaannya di landa banjir dan rakyatnya hanyut tergerus air dan tertimpa batu dan lahar panas.
***
Hari menjelang malam ketika sebuah Jet pribadi datang dan mendarat di atas hamparan salju yang luas. Angin bertiup kencang. Buih-buih salju yang seperti debu tepung terigu berterbangan menghalangi pandangan.
"Mereka datang, mereka datang!" pekik Nugroho yang sedari tadi memperhatikan layar monitor laptop. Laptop militer yang tahan banting dan tidak terpengaruh suhu yang ekstrim.
"Segera buat koneksi, bagaimana pun, lebih baik kita bernegosiasi.
Seorang tentara menghampiri tuan muda Hon yang sedang asik berbincang-bincang dengan Gani.
"Tuan, ada sambungan radio."
"Nah! Tersambung Pak. Ini."
Nugroho pun menyerahkan microphone pada letnan Anwar.
"Menyerahlah! atau kalian kami musnahkan!" gertak letnan Anwar.
Mengerti itu, Hon dan Gani saling pandang bingung.
"Mereka tidak main-main Tuan. Lihat," ucap pilot pada tuan muda Hon.
Tampak jelas di layar monitor. itu pelontar rudal, itu bazoka dan sebagainya.
"Saya punya plan 'B' Tuan Muda" ucap Gani dengan seringai yang serius.
__ADS_1
Sejenak tidak ada jawaban. Letnan Anwar jadi menduga-duga, "Apa yang mereka rencanakan?" ucap letnan Anwar. Nugroho di sampingnya hanya angkat bahu.
"Baiklah, kami menyerah. Kemari lah, borgol kami," ucap Gani. Tapi hati letnan Anwar tak sudi lagi untuk percaya pada Gani.
Pintu jet keberadaan Hon dan Gani terbuka. Angin masih bertiup kencang. Buih-buih salju sesekali menghalangi pandangan. Dingin.
"Sepertinya mereka menyerah Pak," ucap Nugroho.
"Ya sudah, kirim pasukan untuk meringkus mereka.
"Tim Alpha satu! Tim Alpha satu, target menyerah. segera ringkus."
"Siap!"
"Siap Dan! Ayo!"
Dinginnya salju tidak mengurangi ketegangan ketika segerombolan tentara bersenjata lengkap berlari waspada mendatangi jet musuh.
"Astaga, saya lupa, Gani bisa terbang secepat angin." baru saja letnan Anwar berucap demikian. Seorang tentara melapor lewat sambungan radio.
"Tidak ada siapa-siapa di dalam pesawat!"
Kekhawatiran letnan Anwar terbukti. Baru saja beberapa langkah pasukannya berbalik. Jet itu meledak.
BOMMM!!!
Belasan tentara itu terpental dan berhamburan. Bahkan yang paling dekat dengan pesawat, tubuhnya hancur berantakan.
***
Dul Karim tersadar dalam sebuah aula, Aula yang sepi dan hanya hamparan lantai yang bening seperti kaca sejauh mata memandang dan sepertinya menembus awan. Yah, sekeliling lantai kaca itu adalah awan putih kapas yang putih bersih.
"Apa aku sudah mati?"
Dul Karim masih merasa linglung dan tubuhnya terasa sangat lemah.
__ADS_1
"Di mana aku? Apa ini yang dinamakan akherat???"
Tiba-tiba Dul Karim melihat awan-awan di sekelilingnya bergerak memutar dan bergulung menjelma menjadi sosok manusia. Putih semua. Seperti sosok boneka-boneka kapas yang berjejer di hadapannya. Mereka, manusia-manusia awan itu tampak hidup dan mulai bergosip dengan sesamanya.
"Apakah mereka para malaikat yang menjemput???" Dul Karim masih saja menganggap dirinya sudah mati dan sosok-sosok besar yang terbentuk dari gulungan awan itu adalah para malaikat yang banyak sekali.
"Nasib dunia ini ada di tanganmu?" sebaris suara yang bergemuruh terdengar jelas oleh Dul Karim.
"Tanggung jawab besar itu sekarang ada padamu, sadarlah, sadarlah."
Ingatan Dul Karim kembali pulih, ia ingat, ia menyerah setelah musuhnya mengancam akan membunuh semua orang yang ada di bukit halimun itu kalo dirinya tidak menyerah.
Ia ingat, ia merelakan diri di ikat dan di bawa oleh Taupan dan Gani si penghianat dan gerombolan manusia setengah kera.
Sampai akhirnya ia di bius dan tidak sadarkan diri.
***
Diantara puing-puing yang berserakan dan potongan-potongan tubuh tentara yang tidak sempat menjauh dari pesawat itu, letnan Anwar dan belasan tentara yang selamat mulai mengecek keadaan.
Asap dan sisa-sisa api telah padam. Padam dengan begitu cepat. Ini kutub Utara dan udara yang sangat dingin membuat suasana kembali beku dengan cepat.
Dengan air mata yang berlinang, letnan Anwar, Nugroho dan belasan pasukan yang tersisa mulai menyisir lokasi ledakan dan mengumpulkan bagian-bagian tubuh teman-temannya yang tersisa.
Sebuah kawah terbentuk. Cekung setengah lingkaran dan membuat retakan-retakan besar di tanah bersalju itu. Di tengah-tengah cekungan kawah bekas ledakan besar itu. tampak sesosok tubuh manusia yang gosong. Tidak hancur, hanya gosong.
Kontan itu memancing perhatian para tentara. Terlebih letnan Anwar yang begitu antusias.
Letnan Anwar menjatuhkan diri dengan cara meluncur di tanah lebur itu. Letnan Anwar segera sampai ke sosok manusia tak berdaya yang hitam gosong itu. Ia punya dugaan dan dugaannya benar.
Itu Dul Karim. Dul Karim terbatuk dan membuka mata. Semua orang terpana.
"Uhuk! Uhuk!!"
"Dul? Dul Karim!! Syukurlah! Kamu selamat," letnan Anwar sumringah.
__ADS_1
"Dimana ini, apa ini yang dinamakan akherat?"
mendengar itu, letnan Anwar tersenyum dan roman putus asa yang dari tadi menghias wajahnya mendadak sirna berganti wajah cerah penuh harapan.