
"Sebaiknya, kita kembali ke kota," ucap Bondan ditengah dinginnya suasana di luar tenda penelitian pada Kemala yang tampak bengong. Kosong dan tatapannya jauh ke ujung lembah.
"Entahlah, aku merasa malas sekali. Semua terserah padamu. Aku bukanlah siapa siapa, aku tidak punya tujuan. Andai tidak bertemu dengan kamu. Ah, aku hanya seperti hantu penunggu bukit terkutuk ini."
Mendengar itu, Bondan kembali menemukan kegamangan di wajah Kemala. Wajah cantik licin yang hampir tak ada cela.
"Kemala, apa kamu setuju, kalau kita kembali ke kota?"
Perlahan Kemala menoleh dan menatap penuh harap.
"Aku terserah padamu. Aku tidak punya tujuan. Ribuan tahun yang sia-sia dalam sekat gaib yang menyiksa. Sungguh, aku tidak ingin kembali ke sini. Aku mau menjadi seseorang yang baru di dunia, di masa sekarang. Ayo. Tunggu apalagi."
Bondan pun segera mendiskusikan soal keinginannya untuk pulang dan tidak melibatkan diri dalam urusan purbakala ini. Ia berpikir untuk memulai hidup yang baru untuk dirinya dan Kemala yang malang itu.
Kebetulan, helikopter logistik ada jadwal pengambilan barang. Dengan senang hati sang komandan logistik mempersilahkan Bondan dan Kemala untuk turut serta.
"Tapi ada kabar buruk dari markas pusat dan bisa dipastikan, semua unit akan di kumpulkan di markas darurat," bilang sang Komandan.
"Apa yang terjadi Pak?" tanya Bondan.
"Nanti saya ceritakan di perjalanan. Ayo! periksa lagi barang-barang kamu. Jangan sampai ada yang tertinggal."
"Terima kasih Pak, kami sudah siap."
Bondan dan Kemala pun naik helikopter logistik bersama tiga orang tentara dan satu orang pilot.
__ADS_1
Di sepanjang perjalanan, komandan logistik itu menceritakan ihwal penyerangan besar-besaran yang terjadi. Bondan dan Kemala jadi bergidik ngeri.
ternyata perang sudah dimulai.
Tiba-tiba, sebuah misil menghancurkan ekor helikopter yang Bondan tumpangi.
WUISSS!!!
BRATTT!!!
Helikopter hilang kendali dan komandan perintahkan semua penumpang untuk terjun.
Entah dari arah mana, kini helikopter yang berputar hilang keseimbangan itu dihujani peluru dari senapan mesin.
"Ayo! Ayo cepat pakai parasutnya!"
"Iya iya! kami paham!" angguk Bondan. Mereka pun membuka pintu dan satu persatu terjun bebas dari helikopter itu.
Setelah semuanya berhasil keluar. Sebuah misil sebesar pemukul bisbol mengena tepat di lambung heli dan itu cukup untuk mengoyak helikopter besar itu menjadi berkeping-keping.
WUSZZ!!!
BUMMM!!!
sang komandan yang loncat paling belakang sampai terlontar dan hampir terkena serpihan pintu heli.
__ADS_1
Semua selamat dan parasut mulai mengembang.
Untuk sesaat mereka berhak bernafas lega dan bersyukur karena telah selamat dari maut. Tapi dua pesawat penyerang tidak merasa cukup sampai di situ. pesawat tempur itu memuntahkan peluru dan membunuh para prajurit satu persatu. mereka bermanuver di udara, seperti dua ekor elang yang bermain dengan jamur terbang.
Kemala segera ambil tindakan. Ia buka tas parasutnya dan meluncur menangkap Bondan yang berada tidak jauh di bawahnya. Kemala berhasil mendekap Bondan.
"Hey! kenapa kamu buka parasutnya???" teriak Bondan.
"Percaya padaku! peluk aku erat-erat."
Mendengar bunyi letusan senapan mesin yang bersahutan dan sampai melubangi parasutnya, Bondan baru sadar. Nyawanya benar-benar di ujung tanduk. Ia hanya berharap, Kemala berhasil membuka parasutnya dan punya kekuatan tenaga dalam yang cukup untuk mendarat. Percuma sekali lolos dari hujanan peluru itu kalo tidak bisa mendarat. Seperti menunda kematian beberapa detik saja. Ranting-ranting besar di bawah sana sudah siap menyambut dan mengoyak tubuhnya.
Kemala berhasil membuka tas parasut yang dikenakan Bondan.
Setelah tas Bondan lepas, Kemala langsung bermanuver sambil merentangkan kedua tangan. Bondan hanya bisa memeluk erat.
Untaian peluru terus mengejar. Kemala yang gesit terus menghindari untaian peluru itu. Meski ia membawa beban yang merepotkan, ia masih bisa menghindar. Tapi dua tiga peluru yang runut itu akhirnya mengenai punggungnya dan tembus ke perut.
Kemala melotot dan mulutnya memercikkan darah.
"Kemala!!!" teriak Bondan.
Pesawat penyerang itu bermanuver naik dan melesat jauh. Mungkin di kiranya semua sudah tertembak dan ia menang mutlak.
Tapi mereka salah, Bondan tidak tertembak dan Kemala sekarat.
__ADS_1
Kemala sendiri heran, baru kali ini sesuatu itu melukai dirinya. Karena selama ini, jangankan terluka, kuku dan rambutnya pun tak bertambah panjang. Tapi sehelai rambutnya yang putus saat di rumahnya Bondan itu??.
Dengan sisa kekuatan yang ada, Kemala berhasil mendarat dan Bondan selamat.