
Kemala jatuh dengan sisa tenaga dalam yang ia gunakan untuk melindungi Bondan. Keduanya jatuh di puncak bukit tertinggi. Bunga-bunga yang sedang mekar menyambut mereka yang mencium tanah.
""Ini? ini bukit di mana goa dan kuburan Raiman berada," gumam Kemala.
Bondan pun terheran-heran, kenapa bisa kebetulan sekali. Bondan kembali pada tubuh lemas Kemala yang hampir meregang nyawa.
"Tuhan mengabulkan permintaanku, aku akan mati Bondan," ucap Kemala terbata-bata.
"Kau bilang tidak ada suatu apapun yang bisa melukaimu sejak kau memulai hidup abadi," pekik Bondan sambil memiringkan tubuh Kemala yang terkulai itu di memeriksa luka Kemala. Punggung Kemala penuh darah yang mengalir dari beberapa lubang peluru.
"Aku, aku akan bebas dari dunia ini, maaf, maaf Bondan. Yakinlah, kalau kau benar-benar mencintaiku, kita akan bertemu di kehidupan selanjutnya."
"Tidak, tidak Kemala, kamu kuat!"
"Berjanjilah," ucap Kemala dengan berat.
"Untuk apa? Apapun akan aku lakukan! Aku janji!! Apa? Apa yang harus aku lakukan??"
"kuburkan aku di samping kuburan Raiman di dalam goa itu."
__ADS_1
Bondan terpaku melihat wajah cantik itu membiru. Angin sepoi menyerbu, seperti gerakan malaikat yang mencabut nyawa dengan lembut.
Perlahan Kemala menutup mata. Sangat perlahan seperti lilin yang tinggalkan bara. Hati Bondan ikut padam. Berjuta gelora di dalam dadanya sekarang berjatuhan seperti daun-daun kering. Perlahan dan menyiksa.
Bondan jadi ingat kisah dalam kitab suci dan hikayat lama. Tentang dua keturunan manusia pertama yang menguburkan jenazah sendirian. Sekarang itu akan segera ia lakukan.
Hanya pedang Kemala yang bisa ia gunakan sebagai alat untuk menggali tanah.
Dalam kesendirian, angin sepoi kembali berbisik dan hatinya nyaring berderat.
"Kalau ternyata aku berhasil hidup abadi berkat air suci itu? Berarti aku akan hidup sebagai manusia abadi sendirian. Sial, sial, sial!!!"
Sekolah diliburkan, dan masyarakat di kampung-kampung jadi sering berkumpul dan membahas masalah perang. Diu dan Roni tentu tidak mudeng. Apa itu perang? Perang dengan siapa??
"Pak guru pernah menerangkan, kalo kita sudah merdeka. Kok bisa-bisanya sih kita perang lagi?" ucap Roni pada Diu yang sama bingungnya.
Balai desa ramai dengan orang-orang yang panik dan ketakutan. Tidak terkecuali keluarga Roni, makanya sekarang Roni dan Diu jadi turut ke balai desa.
Orang-orang ramai bergunjing dan tak sedikit yang tampak putus asa.
__ADS_1
"Harap tenang, ya, kami juga merasakan apa yang bapak ibu rasakan. kita hanya bisa berdoa, semoga perang ini cepat selesai dan kita bisa hidup normal seperti biasa," ucap seorang tua di tengah-tengah khayalak yang berkumpul di aula terbuka.
"Pasar sudah tutup, panen masih lama, kita tidak bisa bekerja. Lalu bagaimana kita bisa bertahan hidup kalo hanya berdiam diri di rumah dan menunggu perang usai?" celetuk seorang warga dengan wajah muram.
"Iya! Betul itu pa lurah?" ucap seorang yang lain.
"Lalu bagaimana kalau penjajah itu yang menang? Katanya mereka bukan manusia seperti kita. Apakah kita akan dimusnahkan?"
Mendengar itu, pak Lurah hanya bisa menelan ludah. Ia juga pernah melihat sendiri, rumor yang berkembang di masyarakat yang melek internet. Ditambah lagi, dalam video-video yang beredar luas itu tampak jelas, kendaraan tempur mereka begitu canggih dan banyak.
Mendengar kata bukan manusia biasa, Diu jadi bertanya pada Roni.
"Apa kau tahu, bukan manusia biasa itu apa maksudnya? Apakah penjajah itu bukan dari bangsa manusia?"
"Kata temannya Abang aku, mereka itu, para penjajah itu adalah manusia setengah kera," jawab Roni sedikit menoleh dan setengah berbisik. Ia tidak mau di anggap gila sama semua orang yang tidak bisa melihat Diu.
"Manusia setengah kera??" Diu memeras otaknya. Ia seperti pernah mendengar istilah itu. Akhirnya ia pun ingat sesuatu.
"Aku pulang dulu, sepertinya kakekku tahu soal itu," pamit Diu pada Roni. Dui pun melesat pulang dengan tergesa dan bersemangat.
__ADS_1