Dewa Terakhir

Dewa Terakhir
Awal Mula


__ADS_3

"Kau lihat, sebuah planet biru yang cemerlang itu?" tunjuk tetua Dafn pada anak bungsunya yang sedari tadi menemani. Tatapannya lekat ke sebentang layar yang berkerlipan menampilkan benda benda langit di hadapannya.


"Kita telah berhasil mempelajari kehidupan, menaklukan semua penyakit. Tapi kenapa akhirnya kita seolah kehilangan kehidupan itu sendiri," lanjut sang Tetua.


"Apa maksud Ayah?"


"Kau tahu sendiri, ilmu kedokteran kita bukan hanya bisa mengobati luka, tapi berhasil merekayasa sel jadi selalu terbarukan. Hasilnya, kamu tahu sendiri, Ayah bahkan sudah lupa, sudah berapa lama kita hidup. Pencapaian yang harus kita bayar dengan mahal. Kita berhasil hidup abadi, tapi kita tidak bisa berkembang biak lagi. Kita lupa efek samping kesempurnaan gen, DNA dan sebagainya. Efek samping yang membuat semua ini jadi tidak ada artinya, kita tidak bisa berkembang biak. Masuk akal, semuanya sudah sempurna, reproduksi tidak diperlukan lagi. Dan di sana, di planet biru itu, kita punya harapan. Semoga ada ras mahluk hidup yang tidak jauh berbeda secara anatomi tubuh dengan kita, sehingga kita bisa mematahkan kutukan ini. Memadukan kesempurnaan kita dengan mereka yang masih biasa. Yah, pencapaian tertinggi ini adalah kutukan, bayangkan, betapa bahagianya leluhur kita yang bisa mati dan melanjutkan garis takdir menuju kehidupan setelah kematian. Sedangkan kita, kita terperangkap di dunia ini dengan kebosanan yang membuat jiwa ini mati rasa.


"Jadi inti dari misi bunuh diri itu adalah untuk itu?" ucap si Bungsu dengan tatapan mengerti tapi butuh pengakuan.


"Yah, para relawan sudah sangat siap dan sepertinya mereka lebih berharap mati di perjalanan. Mengingat jaraknya yang sangat jauh. Tapi mereka tidak tahu, walaupun mereka hancur lebur jadi abu di luar angkasa yang hampa udara, mereka akan utuh kembali waktu menembus atmosfer planet biru itu." ucap sang Tetua sambil berlalu.


JUTAAN TAHUN KEMUDIAN...


Sebuah bara yang melesat sangat cepat serupa komet meledak saat menabrak lapisan atmosfer bumi. Ledakan yang dahsyat seperti ledakan bom nuklir yang belum pernah kita bayangkan sebelumnya.

__ADS_1


Bara yang melesat itu hancur lebur menjadi abu dan akhirnya dengan sangat perlahan Abu-abu yang beterbangan itu mencium bumi.


Perlahan, sesosok mahluk yang anatomi tubuhnya mirip manusia utuh dari debu-debu ledakan benda luar angkasa itu.


MEREKA LAH, RAS RAWARONTEK yang berhasil mencapai bumi. Dari sekian ribu pesawat luar angkasa yang di luncurkan, hanya satu yang berhasil mencapai bumi.


***


Di waktu yang lain, seorang manusia tampak berlari, dengan tangis yang terisak. Ia seorang pemuda tampan dan rupawan. Tapi keringat dan roman penyesalan membuat wajahnya yang tampan itu tampak suram. Hutan belukar ia masuki, ia terus berlari, sampai akhirnya rasa letih mengharuskannya berhenti. ia bersimpuh dengan tangis yang semakin menjadi. tubuhnya penuh keringat, tangannya penuh dengan tanah basah yang mulai kering. Dalam lelahnya, ia menangis meraung-raung. Sungguh tangis penyesalan yang sangat getir. Tanpa ia sadari, ia mengusik ketenangan seekor binatang serupa kucing besar dengan taring yang panjang melewati dagu. Kucing besar pun beranjak menuju sumber suara berisik itu. Seekor gorila pun terganggu dari sudut yang lain gorila itu pun menghampiri pemuda itu.


Sontak, si pemuda yang sedang menangis terisak itu kaget mendapati seekor kucing besar yang menggeram lapar dan dari samping kiri seekor gorila hitam menatap tajam.


Si pemuda seketika lupa akan apa yang membuatnya menangis. Perasaan terancam kini mendera dirinya. Beberapa langkah lagi, kucing besar dan gorila itu sampai padanya


"Celaka!" pikir pemuda itu.

__ADS_1


Perlahan kemudian, Kucing besar itu mengeram dalam dan siap menerkam. Begitu pula gorila bermata tajam di sebelah kiri. Seketika kemudian, dengan satu hentakan cakar yang tajam, kucing besar itu menerkam. Si pemuda kalap dan berbalik hendak berlari. Tapi kakinya tersangkut akar dan terjatuh.


"STTT!"


"GGGRRRR!!!"


"BUKK!!" gorila tadi dengan cepat menghalangi si pemuda dari terkaman kucing besar itu dan bergelut dengannya.


Si pemuda tadi beringsut dan menjauhi gorila yang sedang berkelahi dengan kucing besar itu. Ternyata gorila itu menolongnya. Lama dua bintang buas itu berkelahi sampai berdarah-darah. Kucing menggigit dan pencakar, gorila memukul telak dan membanting. Sampai akhirnya kucing besar itu menjauh. Si pemuda tadi pun menghampiri gorila muda yang tampak lelah dan terluka. Benar saja, begitu gorila itu berbalik ke arahnya, tampak perut dan wajah gorila itu terluka bekas cakaran. Darah berceceran dan gorila itu tampak kesakitan.


Si pemuda kebingungan, rasa takut pada gorila telah hilang, rasa terima kasih dan iba kini meliputi hatinya. Gorila itu pun terkulai lemas. Mungkin karena banyak kehilangan darah. Perlahan dengan sangat hati-hati pemuda itu menyentuh tangan gorila itu. Lalu ia pun mencoba membopong gorila itu ke tempat yang lebih Padang, mencari kawanannya mungkin, mencari sumber air atau apapun yang bisa ia lakukan untuk membantu gorila terluka itu.


"Aku tidak akan membiarkanmu mati, kau telah menolongku dari kucing besar yang lapar itu, sekarang aku harus menolongmu," gumam pemuda itu. Sejentik jari gorila itu menunjuk ke suatu arah.


"Pasti itu arah kawanannya berada," pikir pemuda itu. Dan benar saja, setelah beberapa lama keduanya menyusuri jalan yang ditunjukkan, keduanya sampai ke sebuah lereng yang di huni banyak gorila sejenis. Beberapa gorila tua langsung menyambar gorila terluka dari bopongan si pemuda dan menggotongnya beramai-ramai melewati semak belukar. Pemuda tadi mengikuti dengan rasa khawatir. Ia lupa, ia manusia dan jelas berbeda dengan semua gorila yang ada di tempat itu. Seekor gorila tua menepuk dada pemuda itu dengan perlahan dan bersuara, sepertinya gorila itu mencoba berkomunikasi dengan pemuda itu.

__ADS_1


__ADS_2