
Biran perlahan membuka mata, kantuk sekali dan sekujur tubuhnya terasa lunglai. Di lihatnya sekeliling, ada ibunya yang seketika tersenyum lebar, ada tabib, ketua dan semua sanak famili.
"Syukur lah, kau sudah siuman sayang," ucap sang Ibu sambil menyeka sisa air mata.
"Dimana dia?" tanya Biran sambil kembali menyapukan pandangannya ke sekeliling.
"Dia siapa? Mahluk aneh yang menolongmu itu??" jawab ibunya.
"iya, apa dia baik-baik saja?" ucap Biran dengan nada khawatir.
"Dia baik-baik saja, dia sedang bermain dengan anak-anak kecil."
"Apa luka ku parah Ibu?"
__ADS_1
"Jangan khawatir Nak, kamu pasti sembuh. Tabib akan terus di sini sampai kamu pulih."
Biran mencoba mengangkat badannya, tapi lukanya sedikit terenggang dan rasa sakit pun terasa.
"Aduh,"
"Hati-hati! Sudah, kamu diam saja dulu. berbaring yang benar," ucap sang Ibu.
Waktu terasa lambat sekali bagi Biran. Rasa bosan, jenuh dan kaku menyelimutinya selama berhari-hari.
"Dimana dia," Tanya Biran pada Ajran.
"Dia ada di tepi sungai, ayo ikuti aku," ajak Ajran bersemangat.
__ADS_1
"Dia lucu sekali, bulunya sedikit hihi! Bulunya hanya menutupi kepala dan sedikit di atas bibir," seloroh Ajran.
"Oh iya, kamu belum cerita padaku, bagaimana dan di mana kamu bertemu dengan dia," tanya Ajran sambil keduanya berjalan santai menuju tepian sungai.
"Itu tidak penting, yang paling ingin aku tahu adalah, dia siapa dan dari mana asalnya," jawab Biran.
"Iya, bahkan tetua pun baru melihat mahluk seperti dia. Aneh sekali."
Sesampainya di tepian sungai. Benar saja, seseorang yang Biran cari ada di situ. Sedang melamun sambil menatap jauh pada sesuatu yang tak tentu. Tatapannya kosong dan dalam. Tapi begitu dia menyadari kedatangan Biran dan Ajran, ia langsung menoleh dan menatap bahagia. Tatapan yang indah dari sepasang mata yang cemerlang. Biran mendapati sesuatu dalam hatinya mendesir hangat dan terasa memalukan. Apalagi kini, maklum aneh berkulit cemerlang itu mendekati dan menyapa dengan bahasa yang tidak Biran mengerti. Tapi lewat mata, gerak-gerik dan pesona, Biran seolah mengerti, mahluk itu menanyakan soal luka dan kesehatan dirinya. Biran pun berusaha berkomunikasi dengan bahasa isyarat.
Hari-hari kemudian, Biran dan mahluk jangkung berdada telan***g itu sering berduaan. Awalnya Saling belajar berkomunikasi lalu berbagi informasi. Sampai suatu ketika mahluk aneh itu bercerita.
Ia bercerita pada Biran tentang bagaimana mulanya ia bisa berada di dalam hutan itu sendirian. Ia kabur dari koloni karena telah membunuh saudaranya sendiri. Ia membunuh karena merasa cemburu soal keputusan perjodohan. Perjodohan silang yang unik dan tidak bisa Biran mengerti. Tapi satu hal yang Biran pahami, dia kabur dari koloni karena takut akan hukuman karena telah membunuh saudaranya sendiri, ia menangis di sepanjang jalan dalam pelariannya karena penyesalan. Biran seolah paham dan mengerti. Pastinya, membunuh saudara adalah kesalahan yang sangat besar. Tapi ia menyesal.
__ADS_1
Lama waktu berjalan, Keduanya makin akrab dan sosok asing itu seolah tak asing lagi, komunikasinya lancar, bahasa isyarat mudah dimengerti. Tak bisa dipungkiri, ada rasa nyaman di hati keduanya saat berduaan layaknya sepasang kekasih yang sedang memadu rasa. Di usia yang sama-sama mulai dewasa, rasa kasih sayang itu tumbuh dan sulit terelakkan. Tapi keduanya juga tak bisa pungkiri, keduanya adalah mahluk, bintang, ras atau apapun sebutannya. Keduanya adalah mahluk yang berbeda jenis.
ini lah awal mula terbentuknya RAS MANUSIA SETENGAH KERA.