Dewa Terakhir

Dewa Terakhir
Taupan dan Fani


__ADS_3

Dunia internasional sedang kacau balau, perang saudara, perang antar negara dan sebagainya. Tapi Taupan (?)


Taupan sedang dalam kedamaian dan begitu tenang. Ia sedang membuat altar dan menaruh dua sosok jenglot di meja altar-nya.


Fani datang dengan santai dan gerakannya perlahan. Ia tidak ingin mengganggu suaminya yang sedang khusyuk. Mungkin Taupan sedang berdoa.


"Ini adalah jasad ayah saya. Ucap Taupan tanpa menoleh pada Fani tapi ia mengarahkan pandangannya pada satu sosok jenglot di sebelah kiri.


Dan ini adalah jasad pemimpin kaum kami di masa lalu." ucap Taupan dengan pelan dan mendalam. Ada keharuan dari nada bicara Taupan. Fani bisa mengerti, itu jasad orangtuanya dan leluhurnya.


"Aku jadi penasaran sekali, bagaimana caranya, maksudku, dengan kendaraan dan teknologi yang seperti apa para pendatang dari langit itu sampai disini," ucap Fani lantas duduk di lantai, dekat-dekat dengan suaminya itu.


"Kau yang sekolah saja tidak tahu, apalagi aku, seumur-umur aku hidup di dalam hutan, mana aku tahu," jawab Taupan.


"Oh iya, tadi aku lihat berita. Di negara kita sedang terjadi kekacauan. Dul Karim sedang menanganinya."


"Dul Karim? Kekacauan seperti apa? Sampai-sampai si Dul Karim yang turun tangan???" heran Taupan.


"Manusia-manusia berpakaian serba hitam membunuh siapa saja. Manusia-manusia yang berpakaian serba hitam itu seperti mayat hidup yang haus darah."


***


Dul Karim turun dari helikopter tepat di tengah-tengah puluhan manusia berpakaian serba hitam yang sedang mengamuk dan membunuh secara membabi-buta.


Dul Karim mengenakan kostumnya. Dul Karim seperti Gatotkaca di pagelaran wayang orang yang diserang puluhan begundal bersenjatakan parang, pedang bahkan palu dan cerulit.

__ADS_1


Sejenak Dul Karim merasa heran dan dengan kesaktiannya yang sudah seperti indra ke enam, Dul Karim bisa merasakan kekuatan di dalam tubuh-tubuh lawannya itu.


Begitu Dul Karim menginjakkan kaki, mereka langsung menyerang. Pukulannya kuat-kuat dan tebasan parangnya sanggup membelah meja. Padahal Dul Karim perhatikan, parang atau golok yang digunakan para pengacau itu adalah parang biasa.


BUKKK!!


BRATTT


Dul Karim sempat kewalahan menghadapi serangan-serangan dari segala arah. Dul Karim seperti sebutir gula yang dikerubuti semut semut hitam nan lincah.


Masyarakat yang selamat pontang-panting melarikan diri. Tentara dan petugas kepolisian tidak bisa banyak membantu. Bahkan diantara mereka ada yang tidak tega melaksanakan perintah komandan.


"Tembak tepat di jidatnya! Lihat! Kalian lihat sendiri, selain tembakan di kepala, mereka tidak bisa di kalahkan!"


"Mereka tidak bisa di ajak negosiasi! mereka datang entah dari mana, maunya apa, tujuannya apa. Mereka masuk ke perkampungan-perkampungan dan membunuh siapa saja yang mereka temui. Apalagi yang bisa kita lakukan untuk menghentikan mereka?"


Akhirnya Dul Karim menerima hantaman palu bogem dan tersungkur. Kuat sekali hantaman palu itu. Dul Karim pun berbalik dan begitu ia melihat wajah geram pelaku, Dul Karim terkesiap. Dul Karim mengenalnya. Itu Dias.


Dias keponakan Teo. Jadi ini gerombolan mafia. Dengan susah payah akhirnya Dul Karim berhasil menarik Dias dan membawanya loncat ke tempat yang jauh.


"Dias! Apa-apa ini?!!"


"Dias hanya menyeringai dan meronta lalu menyerang Dul Karim. Dul Karim tidak tinggal diam, ia menangkis dan melawan Dias. Dias pun kewalahan dan satu pukulan telak Dul Karim membuatnya terpelanting jauh. Sepertinya tulang dada Dias sampai remuk dan mulutnya memuntahkan darah.


Tubuh Dias terpelanting menumbuk tembok. Tembok sampai roboh. Tapi beberapa detik kemudian Dias bangkit lagi dan keluar dari debu seolah tidak terjadi apa-apa.

__ADS_1


"Aneh sekali," pikir Dul Karim.


"Jangan-jangan, iblis yang sama yang telah merasuki Teo waktu itu. Dias ini begitu kuat."


Dias hanya berdiri dan tidak hendak menyerang lagi. Tiba-tiba ia berteriak dan setelah teriaknya reda. Puluhan anak buahnya yang tersisa berhenti dan seketika menatap Dias.


Dias berbalik dan meloncat lalu berlari di ikuti puluhan anak buahnya itu. Mereka pun hilang dari pandangan dan para tentara dan kepolisian mengejar. Tapi Dul Karim tidak turut mengejar. Napas Dul Karim memburu. Perkelahian yang sungguh menguras tenaga. bukan hanya lelah yang membuatnya tidak turut mengejar. Tapi ia perlu waktu untuk berpikir, "Darimana Dias dan gerombolannya mendapatkan kekuatan itu?"


***


Di tempat yang jauh, Taupan membuka mata lebar-lebar saat melihat rekaman pertarungan Dul Karim dan gerombolan Dias itu.


"Aku melihat sesuatu yang lain," gumam Taupan dan jelas Fani tidak mengerti.


"Yang lain bagaimana?" heran Fani sambil memutar ulang video dari smartphone-nya itu dan memperhatikannya dengan seksama.


"Mereka telah dikuasai Jiwa Raksasa. Aku bisa melihatnya. Dan itu, itu juga aku lihat di dalam mimpiku," ucap Taupan sambil menatap Fani dengan ngeri.


"Dalam mimpiku, aku memimpin perang besar. Aku pemimpin mereka," lanjut Taupan dan Fani sungguh tak ingin itu terjadi.


Hati dan logika Fani sudah lelah kalo suaminya itu kembali membahas mimpi itu.


Ingin sekali Fani berteriak sekencang-kencangnya.


Itu hanya mimpi! Sadarlah!

__ADS_1


__ADS_2