Dewa Terakhir

Dewa Terakhir
Konfrontasi


__ADS_3

"Apa yang kalian lakukan disini? Kalian sepertinya dari militer. Mana izin operasional kalian?" tanya letnan Anwar yang sudah didudukkan di sebidang batu datar. Begitupula Gani dan Professor Erwandi, ketiganya terborgol dan hanya bisa berbicara.


"Kami bukan anggota militer negara manapun," jawab kapten Oox sambil mendekat dan duduk di hadapan letnan Anwar.


"Apa maksud tujuan kedatangan kalian?"


"Apa yang kalian cari dengan penggalian di sana?" kapten Oox malah balik bertanya.


Mendengar itu, sejenak letnan Anwar menatap Professor Erwandi.


"Siapa kalian dan apa yang kalian cari?" ulang letnan Anwar. Kapten Oox menjawabnya dengan todongan pistol.


"Jangan buang-buang waktu saya! Apa yang kalian cari dengan penggalian itu!!!" balas kapten Oox dengan bengis dan geraham bergemurutuk.


Letnan Anwar terpojok dan hanya bisa menjawab seadanya.


"Kami hanya tim arkeologi yang meneliti situs purba. Apakah kalian pencari harta Karun?" setelah menjawab letnan Anwar masih saja berani bertanya.


"Hm, situs purba." gumam kapten Oox menerawang. Ia lantas bangkit dan dan menatap jauh pada sesuatu yang tak tentu.


"Yah, kami hanya sekumpulan pencari harta Karun. Konon katanya di negara ini banyak harta Karunnya," bohong kapten Oox.


"Percuma saja kalian datang jauh-jauh ke negara kami. Tidak ada timbunan harta di sini, cuma fosil-fosil purba dan artefak-artefak," ucap Professor Erwandi.

__ADS_1


"Terserah apa kata kalian, yang pasti kami akan ambil alih komando penggalian. Kebetulan sekali, alat berat sudah kalian sediakan. Hahaha, kita berhutang budi pada mereka Gared, hahaha!" ucap kapten Oox pada salah satu anak buahnya yang lantas tersenyum.


Hampir letnan Anwar lupa sesuatu. Ia pun menekan sebuah tombol kecil di jam tangannya.


"Sambil menunggu bantuan datang sebaiknya kita ngobrol saja. Oh iya, siapa kalian dan apa jabatan kalian dalam projek penggalian itu?"


***


Dul Karim menerima sinyal bahaya dari letnan Anwar. Dul Karim yang sedang giat ikut penggalian akhirnya segera menghubungi Fani.


***


Seorang staf yang mendapat laporan dari tim yang diterjunkan langsung ke lapangan itu membuat laporan dan menghadap sang Pimpinan.


***


Fani segera melakukan tugasnya, mencari sinyal keberadaan letnan Anwar dan Gugun menyiapkan Drone.


Dul Karim sampai ke tenda yang digunakan sebagai kantor oleh Fani. Di dalam sudah ada Fani, Taupan dan Gugun.


"Apa yang terjadi?" tanya Dul Karim pada Fani.


"Entahlah, Letnan tidak bisa dihubungi, ini! ini sinyal GPS-nya. Apa drone-nya sudah siap?" jawab Fani lantas bertanya pada Gugun.

__ADS_1


"Yap," jawab Gugun singkat. Setelah menautkan sinyal GPS keberadaan letnan Anwar, Gugun pun menerbangkan drone-nya.


***


"Ternyata kita sudah ada yang mendahului. Bersiaplah, kita kepung lokasi penggalian itu."


"Siap Tuan!"


***


Drone sudah sampai di atas keberadaan letnan Anwar. Terhalang ranting dan dedaunan. Tapi alat deteksi canggih yang terpasang di drone itu sudah cukup melakukan tugasnya. Kamera dan pendeteksi suhu menampilkan letnan Anwar sedang di gulung belasan gorila.


Tapi ada yang aneh bagi Gugun. Drone-nya terhubung ke dua layar monitor. Satu monitor menampilkan rekaman real dan satu yang lain menampilkan intensitas suhu mahluk hidup. Jadi, satu monitor menampilkan orang-orang berpakaian serba hijau sedang mengerubungi letnan Anwar. Tapi satu monitor menampilkan intensitas cahaya suhu yang menyatakan itu adalah gorila.


"Aneh?" gumam Gugun.


"Apanya yang aneh?" tanya Fani.


"Ah, entahlah. Sepertinya alat kita tidak akurat. Atau fisik orang-orang itu di atas rata-rata manusia biasa, jadi intensitas cahaya suhu yang tertangkap seperti suhu seekor gorila."


"Mau orang, mau gorila. Yang jelas, apa yang harus kita lakukan. Mereka dalam bahaya!" ucap Taupan


"Kami berdua bisa mengatasinya," lanjut Dul Karim.

__ADS_1


"Sebentar-sebentar, mereka memegang senjata. Yah! itu pistol, itu senapan otomatis," tunjuk Fani pada layar monitor. Gugun, Dul dan Taupan pun turut mengamati.


__ADS_2