
Gani adalah pengecualian, ia kembali ke tempat yang di tinggalkan oleh putri Kemala. Kemarin ia tidak sempat memeriksanya. Sekarang lah waktunya. Ia perhatikan sekeliling. Taman bunga, Rumah mungil berdinding tanah. Perlahan Gani masuk dan mendengusi satu persatu benda yang ada di dalam rumah itu. Meja kayu, gerabah tanah liat dan sebagainya. Satu Keanehan yang membuat Gani mengerutkan dahi. Tidak ada lemari pakaian. Gani terus meneliti satu persatu benda yang ada, sampai akhirnya ia menemui satu benda kecil terguling di lantai. Lantai batu yang sudah sangat licin. Benda itu adalah ikat rambut berhiaskan batu-batu mulia yang kecil dan satu bandul logam kekuningan yang memuat simbol yang sangat khas dan sangat Gani kenal.
"Putri??? Putri Kemala hidup di sini selama ini!!!" Gani sampai melotot tak percaya dengan apa yang ia temukan.
"Jadi dia selamat dari bencana perang itu dan tinggal di sini selama ini!!! Dimana dia sekarang!" gumam Gani dan lantas keluar melempar tatapan ke segala penjuru. Tidak lama kemudian ia pun melesat ke sana kemari mencari jejak Kemala.
***
Letnan Anwar sudah bersama profesor Erwandi. Keduanya sudah terlibat perbincangan serius sambil menikmati teh hangat.
"Satu hal yang pasti kalo mereka sudah berada di dalam lab berskala internasional, itu artinya mereka sudah sangat maju dan jelas mereka sudah terorganisir dan sekarang sedang merencanakan sesuatu. Ini bahaya," ucap letnan Anwar.
"Sobat, dulu waktu kau pertama kali menceritakan soal ini, jujur aku menganggap kamu gila. Hahaha. Tapi ternyata, setengah profesor Himawan datang menunjukkan bukti-buktinya, barulah aku percaya. Masa lalu sungguh menakjubkan dan membuatku penasaran. Oh iya, siapa itu, anggota baru kau itu yang tua dan rambutnya carang-carang itu?"
"Gani maksudmu?" jawab letnan Anwar.
__ADS_1
"Yah, kau sendiri bilang, dia yang banyak tahu dan prediksinya banyak yang terbukti."
"Sebentar," ucap letnan Anwar. Ia lantas menekan salah satu tombol pada jam tangannya.
"Gani mendapati kalung di lehernya berbunyi dan itu tandanya letnan Anwar memanggil. Sengaja letnan Anwar memasang alat serupa kalung di leher Gani. Gani pemilik ajian Saepi angin dan dapat dengan bebas kabur kapan saja. Tapi kalung itu, adalah alat sandera yang bisa diandalkan dengan teknologi terbaru. Kalung itu dapat mendeteksi kalau Gani hendak melarikan diri, kalung logam itu langsung mencekik Gani. Dengan kalung itu dilehernya, tak pelak Gani seperti peliharaan letnan Anwar.
"Selamat pagi Bos," ucap Gani yang tiba-tiba muncul. Profesor Erwandi melonjak kaget.
"Darimana saja kamu?" tanya letnan Anwar," duduk lah."
"Kami mendapatkan kabar, seorang profesor diculik oleh bangsa manusia setengah kera,"
"Benar dugaan saya kan pak Bos?" ucap Gani hampir loncat dari duduknya. Pria tua yang lincah.
"Oke oke, saudara memang selalu benar. Tapi tolong kami, apa saudara tahu apa yang mungkin mereka rencanakan sekarang," tanya Professor Erwandi.
__ADS_1
"Semuanya sudah sangat jelas Bos, Mereka sedang menyusun rencana untuk balas dendam. Kita pemenang dan pihak yang kalah itu ternyata masih ada. Beritahu semua pemimpin dunia untuk bersiap menghadapi perang. Itu saja," ucap Gani dengan lantang dan penuh percaya diri.
"Bukan hal yang mudah meyakinkan mereka. Apalagi si Nugroho bilang, wujud mereka sudah tidak berbeda dengan kita."
"A- apa maksudmu tak berbeda dengan kita?" tanya Gani penuh heran.
"Sepertinya, begitu lahir, mereka memotong ekor bayi-bayi mereka. Mencangkok hidung dan menghilangkan bulu dan sebagainya. Mereka berjalan tegak dari awal dan sekarang, mereka sudah tidak ada beda dengan kita. Nih, lihat saja fotonya. Bisa saja salah satu dari mereka ada bersama kita," bilang letnan Anwar membuat Gani tercenung begitu dalam lalu memperhatikan berkas-berkas dan foto-foto yang di sodorkan atasannya itu
"Aku menemukan sesuatu, ini," ucap Gani sambil menunjuk ikat rambut itu.
"Apa itu," profesor Erwandi yang bertanya.
"Saya menemukan ini di dalam sebuah gubuk di bukit sebelah tenggara. Ini adalah ikat rambut kerajaan. Tepatnya ini milik putri mahkota kerajaan Atlantea. Ternyata selain raja dan saya, sepertinya putri mahkota juga hidup abadi selama ini."
"Kau yakin?" tanya letnan Anwar.
__ADS_1
"Mari ikut saya pak Bos, tempatnya masih terasa hangat, belum lama ditinggalkan."