
Selesai mengantar Dul Karim ke kamar perawatan, seorang dokter mendekati letnan Anwar setelah tengok kanan kiri dan berbicara dekat-dekat hampir seperti bisikan. Bisikan yang seperti rahasia dan penting sekali.
"Saya sudah berhasil memetakan DNA Gani dan DNA Taupan," ucap dokter berkacamata tebal itu dengan roman wajah yang sangat serius.
"Ayo, saya ingin lihat," ajak letnan Anwar sambil membawa dokter itu sambil tengok kiri kanan. Suasana sepi. Tidak ada siapa siapa di lorong itu. keduanya masuk ke dalam ruangan yang lain, jauh dari kamar pasien dimana Dul Karim dirawat.
***
Pasukan manusia setengah kera yang secara fisik sudah tidak ada bedanya lagi dengan manusia biasa mulai bergerilya memicu konflik di semua negara besar dan paling berpengaruh di dunia. Mulai dari menculik para pejabat penting dan melakukan pengeboman di tempat sumberdaya vital. Seperti di lokasi penampungan bensin.
***
Jerry melakukan penelitian secara mandiri. Kejadian-kejadian teror di berbagai belahan dunia itu menarik perhatiannya.
***
Diu kecil terperanjat dari duduknya di jendela ketika seorang bocah baru pindahan dari kampung sebelah terus menatapnya. Baru kali ini ada manusia biasa yang bisa melihatnya.
Saat istirahat tiba, Diu yang penasaran mengintip dari dinding kantin ketika anak sekolah dasar itu jajan jajan di kantin.
Anak tadi, anak laki-laki kelas dua SD yang tadi bisa melihatnya kini kembali menemukan Diu dan mengacungkan sepotong roti ke arah Diu. Diu yang heran dan malu hanya menggelengkan kepala dengan roman ragu.
Tak di sangka bocah cepak dan bertubuh kerempeng itu mendatangi Diu meninggalkan keramaian kantin.
Diu hendak pergi ketika bocah itu berseru.
"Tunggu!!! Kamu mau kemana? ini, aku punya makanan, sini makanlah!" tukas bocah itu lantang. Diu kecil berdaun telinga lancip itu pun berhenti dan perlahan berbalik.
"Kamu? Kamu bisa melihat aku?" ucap Diu malu-malu. ia agak mendongakkan kepala. Perawakan Diu seperti bayi atau Daus Mini.
"Emang kenapa? Emangnya anak-anak yang lain tidak bisa melihat kamu? Emangnya kamu ini apa?" tanya bocah itu sambil menatap Diu lekat-lekat. Memang Diu sedikit berbeda dengan anak-anak sepantarannya. Daun telinga Diu lancip dan mata Diu agak besar dan hampir bulat sempurna dengan pupil mata yang besar. Diu juga mengenakan pakaian bulu yang aneh.
__ADS_1
"Kamu tidak takut? Aku, aku?"
"Kamu setan? Hantu??? Tapi aku yakin walaupun kamu hantu, kamu hantu yang baik, aku tidak takut," ucap bocah itu.
"Ini, makanlah, sepertinya kamu belum sarapan," ucap bocah itu sambil mengacungkan sepotong roti yang dari tadi dipegangnya.
"Aku tidak bisa menyentuh roti kamu, aku hanya bisa menyentuh dan memakan saripatinya saja," jawab Diu jujur.
"Masa sih, nih coba, aku pengen lihat," bocah itu benar-benar tidak takut pada sosok Diu, sosok bias yang tidak mempunyai bayangan.
Perlahan tangan Diu yang kecil itu pun menyentuh dan benar saja, hanya saripatinya saja yang bisa Diu ambil. Roti itu seperti raga dan yang di ambil Diu hanya nyawanya saja.
"Wow! keren!! Bagaimana bisa??" bocah itu malah sumringah.
"Sudah aku bilang, aku ini bukan manusia seperti kamu," ucap Diu pelan malu-malu.
"Namaku Roni, nama kamu siapa?" senyum bocah itu.
"Nama yang aneh, haha! Bisakah kita bersalaman?"
"Bisa, aku bisa menyentuh sesuatu yang bernyawa atau tumbuhan, hewan, manusia dan apa saja yang bernyawa."
Roni menjulurkan tangannya tanpa ragu. Sepertinya ia bersemangat sekali untuk meraih genggaman tangan Diu tanpa rasa takut sedikitpun. Diu tersanjung, meski masih merasa aneh. Seumur-umur, baru kali ini ada anak manusia yang bisa melihatnya dan, dan lebih dari itu. Anak manusia ini mau berteman dengannya. Dengan pelan dan penuh keharuan, saripati roti ia pindahkan dulu ke tangan kiri, dan tangan kanannya ia pakai untuk menjabat tangan bocah itu. Roni, Roni dan Diu pun bersalaman.
"Yah! kita bisa bersalaman," ucap Roni.
"Sekarang, mari kita makan. Ayo makanlah roti itu, besok aku akan bawa roti yang banyak."
Entah di anggap apa dirinya itu oleh anak ini, Diu menurut saja. Roni pun mulai memakan rotinya.
"Kok, gak ada rasanya nya yah?" ucap Roni dengan mulut penuh roti.
__ADS_1
"Sudah aku bilang, ini, saripatinya aku ambil, ya ini yang enak," ucap Diu merasa lucu.
"Oh iya, haha! Kamu hebat."
Keduanya pun lama berbincang-bincang, ngalor ngidul. Sampai akhirnya bel tanda masuk kelas berbunyi.
"Oh iya, tadi kamu bilang tidak ada yang bisa melihat kamu selain aku?"
"Iya," jawab Diu.
"Masuklah, aku anak baru di sekolah ini, bangku di sebelahku kosong. Ayo!" ajak Roni.
"Ah, tidak tidak," Diu merasa aneh.
"Kenapa? Ayo!"
"Mungkin nanti,"
"Ya sudah, sampai besok ya, Dah!" ucap Roni lalu mulai berlari masuk kelas.
Diu hanya mematung Dangan mata dan pikiran terbuka lebar.
"Aku berteman dengan anak manusia? Aneh," ada keharuan Diu rasa. Ada harapan yang mulai tumbuh dan sesuatu berdebar dalam dadanya. Hangat. Aneh. Haru.
***
Dias bermimpi, dalam mimpinya ia kembali didatangi sosok raksasa. Tapi Dias seakan sadar, kalo ini mimpi dan tidak ada yang perlu ia takutkan.
"Kekuatannya telah membangkitkan kembali kesadaran kami. Kami, bangsa kami yang dimusnahkan tidak benar-benar musnah. Bangkitlah, bangkitlah manusia berjiwa kosong!"
Bersamaan dengan berakhirnya ucapan raksasa yang mendasar sampai relung jiwa itu Dias membuka mata. Melotot dan matanya tampak merah.
__ADS_1