
Sebuah gedung yang dijadikan sebagai tempat pertemuan kaum nasionalis dengan kaum kolonial untuk berdiplomasi, pagi itu telah ramai dipadati orang yang berdatangan. Gedung ini menjadi seperti itu, semenjak disetujuinya Volkraad pada tahun 1918 yang bisa disamakan dengan dewan perwakilan rakyat, banyak organisasi nasional yang ikut bergabung dan mulai menyuarakan perjuangannya. Tidak bedanya dengan hari itu, gadis cantik berdarah sunda itu telah mengenakan kebaya berwarna merah maruun dengan bawahan kain batik, rambutnya disanggul dengan rapi. Aura kebangswaan gadis ini nampak dari cara berpakaiannya. Dia duduk dengan anggun di atas delman yang sedang berjalan menuju gedung pertemuan itu.
Heaaaak
Suara kuda itu berjalan lebih cepat, sang kusir melakukannya melihat majikannya terlihat sudah gelisah.
" Tenang saja nyai, saya akan mempercepat kudanya agar nyai tidak terlambat,"
ujar sang kusir dengan patuh dan hormat.
Yang dipanggil nyai hanya melihat ke arah si kusir dan melemparkan senyuman, menunjukan dirinya berusaha tenang. Benar saja delman itu tidak lama kemudian sampai di depan gedung pertemuan. Sri Utami turun dari delman, sesosok mata pemuda yang menjaga gedung itu terpana melihat gadis lokal, hatinya jatuh cinta pada pandangan pertama. Sri berjalan ke arahnya menuju pintu, si pemuda tidak berhenti melihatnya, Sri yang menyadari dirinya diperhatikan menoleh kemudian melemparkan senyuman. Seketika itu juga pemuda itu mengeluarkan suara.
"verbazingwekkend "(Luar biasa).
Sri yang sedikit paham bahasa Belanda hanya tersenyum. Kemudian berjalan memasuki ruangan tetapi di cegat oleh pemuda itu.
"Mijn naam is Van Berg, wat is de naam van deze mooie dame?" ( Namaku Van Berg, siapakah nama nona cantik ini?) sambil mengulurkan tangannya.
Sri tidak menolak berkenalan dengan pemuda itu, ia menyambut hangat tangan pemuda berdarah Belanda itu.
"Dank je, mijn naam is Raden Sri Utami. Ik hou er niet van om Nederlands te spreken als ik kennis heb. Als je mij kent, gebruik dan Indonesisch". (Terima kasih, namaku Raden Sri Utami. Aku tidak suka berbicara dengan bahasa Belanda saat berkenalan. Jika mau berkenalan denganku pakailah bahasa Indonesia) jawab Sri Utami sebagai seorang nasionalis.
Pemuda itu menyadarinya, wanita yang dihadapannya, wanita yang sangat nasionalis, akan sangat sulit menaklukan wanita semodel ini. Namun hati pemuda ini sudah jatuh hati begitu dalam akan kecantikan, keramahan dan kecerdasan wabita dihadapannya. Pemuda itu pun hanya mengangkat satu alisnya seraya tersenyum.
Suara nyanyian lagu 'Indonesia raya' sudah terdengar didalam ruangan, Sri saat itu memilih tidak lekas masuk karena akan menganggu kekhidmatan menyanyikan lagu kebangsaannya. Dirinya ikut melantunkan lagu kebangsaan meski berada diluar pintu.
"Indonesia
Tanah Air ku
Tanah Tumpah Darah ku
Di sana lah aku berdiri
Jadi pandu Ibuku
Indonesia Kebangsaan ku
__ADS_1
Bangsa dan Tanah Air ku
Marilah kita berseru:
Indonesia bersatu!
Hiduplah tanahku
Hiduplah negeriku
Bangsaku Rakyatku
Semuanya
Bangunlah jiwanya
Bangunlah badannya
Untuk Indonesia raya..."
Sri Utami yang tahu dirinya terlambat duduk segera dibangku barisan wanita-wanita isteri sedar. Para pemuda yang melihat kedatangan Sri selalu mencari perhatiannya, mereka sangat tertarik dengan Sri Utami yang cantik jelita dan cerdas.
Acara kongres perempuan itu pun dimulai. Ratna Sari mewakili seksi dari Wanita Persatuan Muslimin Indonesia dari Sumatera Barat, naik podium.
" Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh, saudara-saudara sekalian yang hadir. Saya Ratna Sari mewakili organisasi Wanita Persatuan Muslimin Indonesia, akan menyampaikan sepatah dua patah kata yang menjadi polemik kaum wanita saat ini. Baik kita semua tahu negeri ini sudah tidak asing dengan poligami, banyak wanita yang merasa tersiksa dengan poligami, merasa diperlakukan tidak adil. Padahal hadirin perlu diketahui poligami adalah kewajiban yang harus diemban oleh perempuan. Tidak perlu menolaknya , tidak perlu mempermasalahkannya, seru Ratna Sari seorang agamawan yang taat denahn berapi-api.
Perkataan itu mengundang emosi anggota isteri sedar terutama ibu Suwarni Pringgodigdo, yang tidak dapay lagi menahan amarahnya segera menyerbu podium dan kemudian mengambil alih pengeras suara.
" Poligami tidak bisa dibiarkan, mengekang hak kaum wanita. Jangan biarkan para lelaki terus melakukan poligami, saya memprotes organisasi yang masih membiarkan berpoligami. Jangan biarkan lelaki seperti Ayam jago yang mengumpulkan betinanya terus berkembang di negara ini!," pekik bu Suwarni Pringgodigdo menyerang kaum adam.
Suara gaduh keluar dari barisan belakang, yang merupakan barisan para lelaki itu, menanggapi emosi bu Suwarni yang mengatakan ayam jago, langsung mengekuarkan suara ayam jago.
"Kok kok kok" seru para lelaki dibarisan belakang.
Anggota yang hadir yang awalnya tegang kembali cair, dan terdenhar gelak tawa hadirin yang melihat perilaku kaum lelaki itu. Karena merasa tidak dihargai Suwarni Pringgodigdo sebagai ketua, turun dari podium dan mengisyaratkan kepada anggotanya yang hadir untuk keluar dari ruangan. Tak terkecuali Sri Utami juga ikut keluar dari ruangan. Secara beriringan wanita anggota isteri sedar keluar dari ruangan sebagai bentuk protes terhadap pidato Ratna.
Saat melihat gadis cantik berdarah sunda itu keluar dari ruangan, Van Berg bergegas tidak ingin kehilangan kesempatan dia mengambil pena dan berlari ke arah Sri Utami. Menyadari Van Berg telah disampingnya, Sri pun menolehnya. Pemuda itu dengan cekatan meraih tangan Sri, dan menuliskan alamat tempat ditelapak tangannya Sri. Melihat tingkah pemuda itu, Sri hanya memandanginya, ia melihat wajah pemuda itu dari dekat, bulu matanya sanhat lentik, garis tegas wajahnya sangat mengagumkan. Setelah selesai pemuda itu tersenyum pada Sri.
__ADS_1
" Aku Tunggu Kamu, setelah rapat," Seru Van Berg dengan melapalkan bahasa Indonesia cukup kaku.
Sri memandang pemuda itu dengan penuh tanda tanya, pemuda itu pun memberikan kode dengan wajahnya agar Sri melihat ke tulisan yang ada ditelapak tangannya. Sri pun paham yang segera melihatnya. Tulisan yang sangat rapi untuk seorang tentara.
" Oke?" tanya Van Berg.
Sri tidak menjawabnya dengan kalimat, tapi dengan bahasa tubuhnya, yang mengartikan 'tidak tahu, lihat saja nanti'. Hal ini terlihat dari kedua tangannya yang diangkat. Suara salah satu anggota Isteri Sedar memecahkan kedekatan Van Berg dengan Sri.
" Sri, ayo, kita masuk lagi!" ajak Soendari.
Sri segera menoleh ke arah Soendari dan meninggalkan pemuda Van Berg itu ditempatnya tanpa sepatah kata pun.
"Bukannya tadi kita disuruh keluar?" tanya Sri.
" Panitia membujuk bu Pringgodigdo, dan kita harus masuk lagi ke ruang rapat," jelaa Soendari.
" Bagaimana dengan penolakan kita tadi?" tanya Sri.
" Panitia bilang tidak akan bahas lagi pidato bu Ratna tentang poligami. Jadi kita masuk lagi." Jelas Soendari.
" Oh begitu rupanya." Sri sambil menghela nafas.
" Eh siapa pemuda tadi itu? pacarmu?" goda Soendari.
" Bukan, aku baru mengenalnya" jawab Sri sambil tersipu.
" Kalau kau tak mau biar buat aku saja, " timpal Soendari.
" Siapa bilang tak mau, aku hanya belum mengenalnya, " jawab Sri sedikit malu-malu.
" Sudah kuduga, kau tertarik pula pada pemuda itu. Aku kasih saran kau, kalau untuk bermain api tidak apa-apa, tapi jangan berharap kau bisa menikah dengannya. Aku lihat ayahmu kemarin sudah mulai mencari calon mantu," nasihat Soendari pada Sri.
Membuat Sri seketika itu juga tertegun lagi, dia merasa emosi karena ayahnya masih saja menjodohkannya.
BERSAMBUNG...
Raden Sri Utami hanya tokoh fiktif, sedangkan ketua Isteri Sedar itu tokoh asli.
__ADS_1