
Melihat bapak kembali dengan emosi yang masih meledak, dan sendal jepit masih ditangannya. Raden Sri Utami mengetahui dirinya akan berada dalam masalah.
"MASUK!" Ucap bapak dengan nada tinggi.
Raden Sri dan bi Iyem ketakutan langsung masuk kedalam rumah. Bi Iyem segera pergi ke dapur, sedangkan Raden Sri masuk ke kamarnya. Nafasnya masih terengah-enggah karena tidak disangka ayahnya akan datang. Raden Sri pun langsung menghempaskan badannya di kasur. Namun dia kembali bangkit saat mendengar kegaduhan di luar. Suara pecut mengenai tubuh manusia terdengar nyaring.
Plaak
Plaak
Plaak
Plaak
"Ampun doro.. Ampuun doro", seru Bi Iyem sambil bersimpuh dikaki Raden Sugeng Wiranatakusuma.
Tidak ada jawaban dan rasa belaskasihan dari majikannya yang masih memegang tali pecut tersebut. Emosinya yang membuncah tersalurkan dari setiap ayunan cambuk untuk budaknya. Ia terus mengayunkan pecutnya lebih tinggi lagi.
Plaak
Plaak
Plaak
Plaak
Raden Sri Utami segera berlari keluar kamar menghambur memeluk bi Iyem yang hendak di cambuk lagi oleh ayahnya. Ayahnya berhenti sejenak melihat puterinya, dia tidak pernah mencambuk anak-anaknya, dimatanya jika anak berbuat salah berarti pembantunya yang harus disalahkan.
"Apa yang kau lakukan Sri, MINGGIR! orang seperti mereka pantas di cambuk untuk mendisiplikan mereka!" suara lantang penuh emosi Raden Sugeng.
Raden Sri Utama tidak bergeming, dia melihat ke arah ayahnya dengan mengelengkan kepalanya, sambil menitikan air matanya. Melihat anaknya bersikap seperti itu, tali pecut di lemparkan sembarangan, ayahnya pergi ke ruang depan. Sri merangkul bi Iyem yang punggungnya sudah lecet dan sebagian mengeluarkan bercak darah segar. Sri tidak dapat menahan air matanya, ia memeluknya semakin erat, sedangkan yang dipeluk terkulai lemas, Sri pun berteriak memanggil kusirnya.
" Ujaaaaaaaang."
 Mendengar suara indah berteriak, si kusir masuk lewat pintu belakang dengan terburu-buru. Matanya menyaksikan majikannya tengah memeluk pembantunya, matanya sendu meminta bantuan. Tanpa Raden Sri berkata Ujang memahami maksudnya, dia mengangkat bi Iyem dibawanya ke kamar belakang tempat tidur para pembantu. Raden Sri mengikutinya dibelakang, bi Iyem ditidurkan secara miring, agar luka dipunggungnya tidak tertekan. Ujang langsung bergegas mengambil air dan handuk kemudian menyimpannya di meja samping kasur. Raden Sri yang tidak membeda -bedakan kasta, tidak sungkan mengobati luka dipembantunya. Bi Iyem di sadarkan dari pingsannya, kemudian di obati lukanya oleh Raden Sri secara telaten. Tidak ada suara, hanya hati Raden Sri merasa tercambik -cambik. Suara yang keras menusuk telinganya kembali.
"Aku tunggu kau di ruang depan, kita bicara!" kata Raden Sugeng ayah Raden Sri Utami.
__ADS_1
Raden Sri hanya meliriknya dengan ekor matanya, tidak berani melihat wajah ayahnya yang masih murka. Dia mengelus punggung bi Iyem, kemudian beranjak pergi ke ruang tamu. Ayahnya sudah duduk, melihat Sri sudah muncul disuruhnya gadis itu duduk di depannya.
"Apa sekarang telingamu sudah tidak berfungsi HEH!? Sudah ku bilang kau harus di pinggit, masih saja keliyuran dan beraninya duduk berdampingan dengan lelaki. Kau mau bikin malu Bapakmu ini! Kau sudah ku jodohkan dengan Pangeran Arya Wiraraja, kalau warga tahu kau bersama laki-laki lain, Pangeran Arya tidak mau menikahimu!" tutur Raden Sugeng dengan mengebu-ngebu.
Sebagai anak yang patuh, dia tidak menimpali ucapan ayahnya, hanya tertunduk mendengarkan celotehan ayahnya.
" Kau mengerti!!"
" Sampun bapak", jawab Raden Sri.
" Jangan kau temui lagi pemuda Belanda itu! Tidak ada untungnya kau bersama orang Belanda, kau hanya akan dijadikan gundik-gundik mereka!" ucap ayahnya penuh kekesalan.
" Sama saja bagi hamba, bapak. Menjadi isteri yayi atau menak atau pun orang belanda. Posisi sama seperti gundik."
" Berani sekali kau mengatakan begitu SRI!!"
" Maaf bapak."
" Kau harus campakan, kakekmu mati karena para walanda, orang-orang kita kelaparan. Tak pantas kita pun berdampingan dengan mereka. Sikap mereka sombong, angkuh, jangan sedikit pun kau tinjukan simpati sama londo-londo itu," ucap Raden Sugeng.
"Rakyat kita mati bukan hanya oleh para walanda bapak. Tapi oleh kita juga yang serakah ingin mendapatkan Cultuur procenten dari penguasa walanda," jelas Raden Sri tanpa dia sadari mengeluarkan ucapannya.
Sri terdiam, manggut saja dengan ucapan ayahnya yang tidak mau kalah bicara dengannya.
"Besok Pangeran Arya Wiraraja bakal datang melamarmu, aku sudah menyuruh Nyi Dasimah membantumu disini. Jangan kau tolak lagi lamaran, kalau kau melakukannya bapakmu akan menjadikanmu perawan tua," ujar Raden Sugeng.
Sri hanya mampu menghela nafas mendengar ucapakan ayahnya. Dalam hatinya berkata:
Kalau begitu lebih baik aku jadi perawan tua, daripada menikahi lelaki yang suka poligami.
Melihat tidak ada respon dari puterinya, Raden Sugeng pun pergi melangkahkan kakinya keluar dari rumah. Dia tidak pernah menginap di rumah itu semenjak ibunya Raden Sri meninggal. Raden Sugeng lebih banyak menghabiskan waktu dengan isteri-isteri yang lainnya, salah satunya Nyi Dasimah isteri keduanya beliau. Wanita yang amat anggun serta taat akan adat istiadat.
Kepergian ayahnya membuat hatinya lebih lega, suasana rumah tidak berasa seperti neraka lagi. Raden Sri berdiri menutup pintu. Kemudian berjalan ke kamar belakang menengok kondisi bi Iyem. Nampak bi Iyem sudah tertidur dengan pulas, Raden Sri mematung di gawang pintu. Hatinya merasa terbakar setiap melihat sikap kasar ayahnya. Bukan sekali dia melihat pembantu dirumahnya dicambuk oleh ayahnya. Setelah merasa puas melihat bi Iyem, Sri menutup pintu kamarnya secara perlahan, berjalan memasuki kamar pribadinya, duduk di depan meja, diraihnya kertas dan pena. Sri mulai menuliskan beberapa kalimat diatas kertas, dia tidak bisa menemui rekan-rekan Isteri Sedar di acara besok. Kertas pun dilipatnya dimasukan ke dalam amplop. Raden Sri keluar dari kamar membawa surat, dia pergi ke halaman depan.
"Ujang, kirimkan suratku ke Soendari ya", ucap Raden Sri.
Si Ujang yang sedang memandikan kuda, berjalan tergopoh-gopoh menghampiri tuannya. Kemudian menerima amplop yang disodorkan Raden Sri dengan kedua tangannya.
__ADS_1
" Ada lagi Nyi?" ujar Ujang.
"Itu saja, sampaikan salamku dan maaf kepada Soendari," ucap Raden Sri.
" Baik, Nyi. Kalau begitu saya pamit Nyi," ujar Ujang mengundurkan diri.
"ah, Ujang. Terimakasih," kata Raden Sri.
Raden Sri setelah melihat Ujang membawa delman keluar dari pekarangan kembali masuk rumah.
****
Delman sedang melaju kencang dijalanan, namun kemudian dihentikan oleh seorang tentara Belanda. Ujang ingat betul tentara tersebut, Ujang pun memberikan hormat ke tentara.
"Kau mau kemana?" tanya Van Berg kepada Ujang.
" Em, Saya hendak mengirimkan surat Nyi Raden Sri untuk teman organisasinya," jawab Ujang.
" Oh, begitu. Apakah Sri ada dirumah sekarang?" tanya Van Berg.
" Tentu saja tuan, tapi sebaiknya tuan jangan menemuinya lagi," saran Ujang.
" Kenapa? Apakah Sri sudah memiliki suami?" tanya balik Van Berg.
" Nyi Raden sedang dipinggit tuan, besok Nyi akan di lamar oleh Pangeran Arya Wiraraja, jadi menurut hamba kurang baik jika tuan masih mendekati Nyi Sri," tutur Ujang.
Van Berg mendengar penjelasan Ujang langsung mangut-mangut memahaminya. Hatinya terasa sesak seketika itu, padahal baru saja dia merasa bahagia karena melihat Raden Sri pun nampak menyukainya. Tapi apa boleh dikata sekarang Raden Sri akan menjadi isteri orang lain. Ujang melihat Van Berg masih mematung, akhirnya meminta ijin melanjutkan perjalanan.
" Tuan, maaf saya harus segera menyampaikan surat ini. Takut keburu hujan, langit sudah mulai gelap, saya permisi tuan."
Van Berg pun langsung kembali dari lamunannya kemudian menyingkir memberikan jalan bagi delman itu berjalan lagi.
Heaak Heaaak
Kusir pun melajukan kembali kudanya dengan cepat. Memberikan efek debu mengepul disetiap tanah yang dilewatinya. Gemuruh suara langit dengan sambaran kilat mulai bersahutan, membuat setiap jiwa merasa takut, para petani sudah mulai meninggalkan ladang-ladangnya.
BERSAMBUNG....
__ADS_1
Tokoh- tokoh diatasi hanya imajisnasi penulis. Ikuti terus ya kelajutan ceritanya dan jangan lupa tinggalkan komentar dan likenya😊