
"Jadi kau bakar surat untukku?" terdengar nada tidak senang dari Sri Utami.
"Iya, sumimasen," ucap Ryosuke tertunduk tahu perbuatannya membuat Sri Utami marah.
"Huh, atas dasar apa kamu membakarnya!" ucap Sri Utami dengan nada tinggi.
Ryosuke terdiam, hatinya membara menahan rasa cemburu dan amarah pada pujaan hati yang berada dihadapannya.
"Aku salah," ujar Ryosuke mengakui kesalahannya, sikap Ryosuke sangat berbeda saat itu, nampak hilang jati diri Ryosuke yang selalu bersikap diatas angin, bahkan dia biasanya tidak menyukai seorang wanita marah padanya.
"Kamu memang salah," ucap Sri Utami sambil keluar ruangan tersebut meninggalkan Ryosuke yang masih mematung.
Ryosuke duduk dikursinya, merenungi setiap barisan kata yang ditulis dalam surat tersebut. Sebuah surat seorang kekasih yang begitu merindu. Perlahan nafasnya dihembuskan.
"Jadi ada yang lebih dulu singgah dihatinya, pantas Sri begitu sulit didekati, aku ingin ada dihatimu juga Sri," gumam Ryosuke sambil mengepalkan tangannya.
*****
Semenjak kejadian malam itu, Ryosuke tidak menampakan lagi batang hidungnya pada Sri Utami. Ryosuke diam-diam mengawasi Van Berg dikamp tawanan tentara sebelum berangkat ke Saigon memberikan laporan pada pimpinannya.
2 bulan kemudian...
Sri Utami sedang menjahit pakaian untuk para pekerja romusha, hal ini terjadi setelah ia melihat para pekerja romusha yang membangun jalan kereta api itu hanya mengenakan karung goni sebagai pakaian, hatinya terasa tertusuk ribuan panah.
"Sri, kau tidak istirahat dulu nak, " ujar Nyai Dasimah muncul tiba-tiba di ambang pintu dengan senyuman.
"Tanggung bu, sedikit lagi. Aku ingin memberikan pakaian ini besok, " ujar Sri Utami.
"Baiklah Sri, tapi sekarang kau istirahat dulu, karena ada seseorang yang menunggumu didepan, " ujar Nyai Dasimah.
"Siapa bu? " ucap Sri Utami sambil dahinya berkerut.
"Temuilah dulu, maka kamu akan tahu siapa orangnya, " ujar Nyai Dasimah sambil berlalu pergi ke dapur.
Sri Utami pun menghentikan aktivitasnya segera melangkahkan kakinya ke ruang depan. Seorang lelaki mengenakan pakaian tentara sedang asik menatap foto yang berbaris di dinding.
"Hm, " Sri Utami berdehem mengalihkan lelaki tersebut dari barisan foto didinding, ia berbalik dan tersenyum menatap Sri Utami.
"Kau masih saja cantik, " ujar Ryosuke tersenyum dan melangkah mendekati Sri Utami.
"Ada apa kemari?" tanya Sri Utami dingin.
"Menemuimu," ujar Ryosuke sambil mengembangkan senyumannya.
"Baiklah, kamu sudah melihatku bukan? kalau begitu aku pergi lagi, aku punya banyak pekerjaan!" ucap Sri Utami sambil berbalik.
Ryosuke langsung menghentikan langkah Sri Utami dengan pelukan dari belakang. Ryosuke membenamkan wajahnya dibahu Sri Utami.
__ADS_1
" Aku mencintaimu Sri," bisik Ryosuke sambil mengeratkan pelukannya.
"Aku tidak mencintaimu, " jawab Sri Utami datar.
"Jangan terlalu cepat menjawabnya Sri," ujar Ryosuke sendu mendapatkan penolakan langsung.
Sri Utami menyadari kekecewaan dari nada suara Ryosuke. Sri Utami memang tidak dapat menyangkal ketampanan yang memikat dari Ryosuke. Namun berbicara hati itu soalnya berbeda.
"Aku tidak suka memberi harapan,"lirih Sri Utami.
"Tidak apa, aku suka kamu jujur, " ucap Ryosuke sambil melepaskan pelukannya.
Sri Utami berbalik melihat wajah Ryosuke yang memandang ke arah lain. Ada perasaan kecewa yang disembunyikan Ryosuke, dan Sri Utami dapat membaca itu dari guratan wajah Ryosuke.
"Akhir-akhir ini kau jarang terlihat tuan, " ujar Sri Utami mencoba menghibur Ryosuke.
"Aku mengemban tugas negara, " ujar Ryosuke singkat memaksa tersenyum pada Sri Utami.
"Apa tuan baru pertama kali ditolak cinta?" goda Sri Utami.
"Mau menemaniku jalan-jalan? " ujar Ryosuke mengalihkan topik pembicaraan.
"Boleh, " ujar Sri Utami.
****
"Sri, negaraku dulu sangat tidak menghendaki memiliki hubungan dengan bangsa barat, ketika pemerintahan dibawah shogun kita menerapkan politik sakoku," ujar Ryosuke membuka perbincangan dengan membahas negaranya.
"Hmm.. Lalu apa yang terjadi Tuan?" ucap Sri Utami penasaran.
"Negaraku menjadi hancur karena ketertinggalan dari kemajuan bangsa barat, " ucap Ryosuke.
"Tapi sekarang negaramu menjadi negara kuat bukan? " tanya Sri Utami sambil memandang wajah samping Ryosuke.
"Semua itu karena kita mengenjar dengan cepat ketertinggalan, kita melakukan restorasi dimasa pemerintahan Meiji. Keberhasilan Meiji menjadikan Jepang negara industri dan maju, telah merubah jepang menjadi negara yang haus akan imperialisme." Ucap Ryosuke menghentikan perkataannya menunggu tanggapan Sri Utami.
"Iya, jika tidak ada restorasi Meiji, mungkin kamu tidak akan bertemu denganku tuan, " goda Sri Utami sambil mengulum senyuman.
"Huh, kau mengodaku Sri, kau bilang tidak akan memberikan harapan, tapi apa yang kau katakan barusan, " ujar Ryosuke sambil tersenyum.
Sri Utami hanya tersenyum menampilkan barisan giginya menatap Ryosuke. Senyuman itu cukup membuat hati Ryosuke berdesir kembali.
"Apa kau selalu tersenyum pada lelaki yang tidak kau sukai? bukankah itu akan menimbulkan salah paham," ujar Ryosuke sambil mengalihkan pandangannya dari Sri Utami.
"Kenapa tuan Ryosuke begitu perasa sekarang? apa karena penolakanku?" goda Sri Utami.
"Sudah jangan dibahas lagi Sri," lirihnya
__ADS_1
Sri Utami pun ikut terdiam, suasana menjadi canggung. Hanya semilir angin yang mengisi keheningan dua insan itu.
****
Sementara ditempat lain, Van Berg termenung dua bulan sudah berlalu tak ada balasan surat dari Sri Utami. Pengantar koran itu mengatakan Sri Utami sendiri yang menerima surat tersebut.
"Sri apa arti semua ini, " gumam Van Berg menahan sembilu dihatinya.
"Het is duidelijk, hij vergat je nu, (sudah jelas, dia melupakanmu sekarang), " ujar Vander Plass seperti tahu isi hati dan pikiran Van Berg.
"Er is nieuw nieuws? (Ada berita baru?)", tanya Van Berg mengalihkan topik pembahasan.
"Zeker! Nieuws over de inspanningen van het geallieerde blok om het Japanse leger te verzwakken! (Tentu! Berita upaya blok sekutu melemahkan tentara Jepang!)" ujar Vander Plass yang selalu diam-diam mencari informasi.
" Wat was gepland? (Apa yang direncanakan)" ujar Van Berg mulai serius mendengarkan perkataan.
"Leaf Frog strategy, " ujar Vander Plass.
Senyuman mengembang dari kedua tentara KNIL tersebut seperti ada angin segar yang akan membawa mereka pada kebebasan yang dirindukan.
*****
Sri Utami senja itu berjalan bersama Ryosuke yang mengantarkannya kembali ke rumah.
"Kau sudah sampai, arigatou gozaimasu untuk hari ini, " ujar Ryosuke.
"Hai, douitashimashite, (Iya, sama-sama), " ujar Sri Utami membuat Ryosuke terpejat dan mengembangkan senyumannya.
"Sri, aku akan ikut operasi kamikaze!" ujar Ryosuke tertunduk.
"Maksudnya?" tanya Sri Utami tidak mengerti.
"Misi bunuh diri, para petinggi militer sudah menunjuk dan melatih pilot muda yang terbaik untuk terjun menabrakan pesawat ke kapal musuh, " ujar Ryosuke.
"Tapi tu_" ucapan Sri Utami terpotong.
"Iya, aku harus mengabdikan diri pada negaraku!" ujar Ryosuke sambil menghirup udara.
Sri Utami merasakan hatinya cukup sedih mendengarnya. Entah ada perasaan tidak senang Ryosuke memilih bunuh diri. Gurat kesedihan terpampang jelas diwajah Sri Utami.
"Hey, kau tak perlu sedih! kau harus senang karena aku tidak akan menganggumu lagi, " ujar Ryosuke sambil memaksakan tersenyum.
Sri Utami tetap menunduk menatap tanah, menahan agar air mata tidak meluncur. Ryosuke akhirnya menarik Sri Utami kedalam dekapannya. Sri Utami menumpahkan tangisannya dan membalas dekapan Ryosuke.
Kau bilang tidak menyukaiku, tapi kau menangisi kepergianku. Dasar wanita tidak bisa aku pahami, batin Ryosuke.
BERSAMBUNG...
__ADS_1